Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2011

Sampai dengan Selesai

Pernahkah Anda mendapatkan sebuah undangan? Apapun jenis undangannya, apakah undangan rapat, undangan pesta pernikahan ataupun undangan sebuah seminar, pasti ada satu hal yang penting dalam undangan tersebut yaitu mengenai waktu acara tersebut. Apabila saya mencermati undangan-undangan yang pernah saya terima, ada dua macam kemungkinan terkait dengan waktu acara dalam undangan tersebut, yaitu waktunya secara jelas ditentukan (misalnya pukul 10.00 s.d. 12.00) atau waktunya tidak dibatasi dengan jelas (misalnya pukul 10.00 s.d. selesai).

Apabila Anda diundang dalam sebuah rapat, kemudian Anda ditanya akan memilih undangan yang mencantumkan waktu rapat yang mana, apakah yang pukul 10.00 s.d. 12.00 atau pukul 10.00 s.d. selesai. Kalau saya atau mungkin bagi Anda yang sangat menghargai waktu dan setiap agenda yang Anda kerjakan setiap hari selalu ada jadwal dan agenda yang pasti, maka saya yakin Anda akan memilih undangan yang jadwal acaranya pasti yaitu pukul 10.00 s.d. 12.00. Dengan jadwal waktu tersebut maka Anda akan mempersiapkan diri untuk mengikuti sebuah acara dengan lama waktu dua jam dan Anda akan bisa mengagendakan acara berikutnya setelah dua jam tersebut.

Lain halnya dengan waktu undangan yang menyatakan pukul 10.00 s.d. selesai. Kita tidak bisa memastikan kapan acara tersebut selesai. Kata selesai dalam undangan tersebut mempunyai makna yang tidak menentu. Apakah selesai menurut pimpinan rapat walaupun materi yang dibahas belum selesai ataukah sampai benar-benar materi pembahasan rapat tersebut selesai dibahas ataukah hal lain yang akan menghentikan rapat tersebut sehingga dianggap selesai.

Saya sering menemui rapat-rapat yang mencantumkan undangan seperti contoh di atas (pukul sekian s.d. selesai). Dan dalam prakteknya rapat tersebut selesainya pun tidak menentu, sehingga agenda rapat beriktunya yang telah disusun pada hari itu (dengan asumsi rapat yang pertama tadi sudah selesai) menjadi molor waktu dimulainya atau malah tidak jadi dilaksanakan, karena peserta rapat yang hadir juga sedang menghadiri rapat pertama yang waktu selesainya molor tadi. Saya berpikir, seandainya saya adalah pihak yang mengundang rapat tentu saja saya akan mempunyai peran dalam rapat tadi, baik mengenai agenda pembicaraan yang akan dilakukan dan perkiraan waktu yang akan digunakan. Apabila pihak pengundang sudah bisa memperkirakan agenda yang akan dibahas dalam rapat tadi maka sebenarnya dia juga sudah bisa memperkirakan berapa lama waktu yang akan digunakan dan kapan waktu rapat akan selesai. Menurut simpulan saya sangatlah mudah untuk menentukan perkiraan waktu dalam sebuah udangan, apalagi apabila pihak pengundang merupakan bagian dari pihak yang memimpin rapat tersebut, sehingga bisa mengatur jalannya rapat sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditentukan.

Dalam masyarakat Jawa, sering kita jumpai undangan perayaan pernikahan yang serupa. Ada yang mencantumkan waktu seperti ini pukul 10.00 s.d. 12.00 atau pukul 10.00 s.d. selesai. Nah jika Anda menjumpai undangan seperti itu, maka biasanya seperti ini, apabila tertulis waktu kapan acara dimulai dan diakhiri, seperti pukul 10.00 s.d 12.00, artinya acara dalam undangan ini hanyalah pemberian ucapan selamat kepada penganten dan dilanjutkan makan secara prasmanan, dan apabila Anda hadir setelah pukul 12.00 acara telah selesai dan makanan sudah habis.

Apabila hanya tertulis waktu kapan acara dimulai saja misalnya pukul 10.00 s.d. selesai, artinya acara tersebut akan dilaksanakan dengan mengikuti rangkaian acara pernikahan adat Jawa meliputi acara pembukaan, atur pambagyo harjo, atur pasrah pinanganten, atur panompo pinanganten dan ular-ular. Acaranya tidak menentu selesainya tergantung panjang dan pendeknya masing-masing bagian-bagian dalam acara tadi. Walaupun sebenarnya acara tadi bisa diatur panjang pendeknya, toh pengundanglah yang mengaturnya.

Dari dua hal tersebut, kita bisa mengatur strategi kapan atau pukul berapa akan hadir dalam undangan tersebut, tentunya sesuai dengan jenis waktu yang dicantumkan dalam undangan.


tulisanku, 05-04-2011, pukul 20.30 WIB

Jumat, 11 Maret 2011

Jangan Lupa Absen

Ada sebuah tulisan yang ditempel di beberapa tempat di lantai gedung tempat aku bekerja. Sebenarnya tidak ada masalah dengan tulisan tersebut, namun karena telalu sering terbaca (membaca secara tidak sengaja) maka lama kelamaan muncul juga rasa isengku untuk membahas tulisan tersebut. Tulisan tersebut berbunyi jangan lupa absen. Tulisan tersebut mengingatkan agar para pegawai tidak lupa mengisi daftar hadir ketika masuk kerja dan sebelum pulang kerja.
Mengapa tulisan tersebut menjadi perhatian saya? Mungkin perasaan saya saja yang menangkap ada pemakaian kata yang tidak tepat. Mengapa tidak tepat? Padahal semua orang sudah pasti akan memahami maksud dari kalimat tersebut. Kalimat tersebut yang tidak memerlukan penafsiran lebih lanjut dan langsung bisa dipahami secara eksplisit. Absen adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Inggris absent. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tersebut berubah menjadi absen yang berarti [v] tidak masuk (sekolah, kerja, dsb); tidak hadir. Berarti apabila kita ganti kata absen dalam kalimat tersebut dengan tidak masuk atau tidak hadir maka bunyinya adalah jangan lupa tidak hadir. Kelihatan tidak tepat bukan?

Serapan kata dari bahasa asing memang bisa memperkaya perbendaharaan bahasa kita. Namun terkadang penggunaan kata serapan tersebut tidak tepat dan hanya didasarkan pada enak atau tidaknya di telinga. Sebelum menggunakan kata serapan dalam sebuah kalimat hendaknya kita memperhatikan jenis dan arti kata tersebut. Salah satu contoh adalah kalimat yang berbunyi sudahkah Anda salat? Salat adalah bahasa universal dan secara umum mudah dipahami. Kata salat merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab shalat yang kemudian diserap menjadi salat. Kata shalat sendiri merupakan kata benda. Penyerapan kata tersebut tidak merubah jenis kata tersebut, sehingga ketika diserap dalam bahasa Indonesia jenisnya tetap kata benda. Dengan kata lain salat adalah kata benda. Kalimat sudahkah Anda salat? mungkin dapat kita samakan dengan kalimat sudahkah Anda nasi? Maksudnya sudahkah Anda makan nasi? Karena nasi dan salat adalah sama-sama kata benda yang menjadi obyek perbuatan. Belum lagi penulisan kata salat. Mana yang betul? Salat, atau shalat atau sholat. Silakan Anda buka tata cara penulisan kata serapan. Penulisan yang tepat adalah salat bukan shalat, walaupun kata shalat cenderung memberikan makna yang lebih religius, tapi salat adalah yang tepat.
Sekali lagi saya tidak membahas tentang tujuan dari si pembuat kalimat. Apabila dilihat dari tujuannya, maksud kalimat sudahkan Anda salat?, semua orang akan langsung memahami maknanya. Bagaimana apabila kalimat tersebut diubah menjadi sudahkah Anda mengerjakan salat? Walaupun sedikit lebih panjang namun pemilihan katanya lebih tepat.

Pemilihan kata dalam kalimat seringkali tidak teliti sehingga sering menimbulkan arti yang tidak tepat. Apalagi kalau kalimat tersebut sudah sering dipakai dan dianggap biasa maka akan dianggap benar. Salah satu contoh lagi adalah singkatan dalam surat dinas yth yang merupakan kepanjangan dari yang terhormat. Hormat bisa diposisikan sebagai kata sifat ataupun kata kerja. Makna ter sebagai awalan berarti paling apabila diimbuhkan ke dalam kata sifat. Apabila hormat adalah kata sifat maka dengan kalimat lain bisa diganti dengan yang paling hormat. Kalimat tersebut tidak jelas maknanya. Tapi apakah hormat pada kalimat tersebut adalah kata sifat? Apabila hormat dalam kalimat tersebut adalah kata kerja tentunya artinya lebih tidak jelas lagi. Tidak jelas siapa yang hormat dan hormat kepada siapa. Bagaimana kalau diganti dengan kalimat yang kami hormati dan disingkat ykh.

Sama seperti sebuah ungkapan yang ditulis oleh teman saya. Dia menggunakan kata istri tercinta, untuk menggambarkan begitu cintanya dia kepada istrinya. Cinta dalah kata sifat dan awalan ter akan memberikan makna paling cinta atau mungkin maksudnya paling dicintai. Kata paling digunakan untuk pembandingan satu hal terhadap kelompopknya, misalnya Budi adalah murid terpandai, berarti ada banyak murid dalam satu kelas dan Budi adalah yang paling pandai. Apabila dikatakan istri tercinta dalam arti paling dicintai berarti dia mempunyai beberapa orang istri dan si A adalah istri yang tercinta. Namun apabila dia hanya punya satu istri cukuplah dia mengatakan istri yang sangat dicintai bukan tercinta.
Berbahasa terkadang kelihatan mudah tapi juga bisa terasa sulit. Apa yang saya tulis juga belum tentu benar. Saya hanya lah berusaha mencoba menguraikan sesuai dengan pemahaman saya selama ini.

tulisanku, 11-03-2011, 16.15 WIB

Kamis, 24 Februari 2011

Waktu dan Tempat Kami Persilakan

Acara selanjutnya adalah sambutan Kepala Desa Ujung Waktu, untuk itu kepada Bapak Widyo Nugroho, waktu dan tempat kami persilakan.
Itu adalah sepenggal kalimat yang sering kita dengarkan ketika pembawa acara mempersilakan seseorang untuk memberikan sambutan atau ceramah dalam sutau acara. Sekilas kalimat tersebut tidak ada yang salah, terlebih lagi kalimat tersebut sudah merupakan kalimat yang biasa diucapkan oleh pembawa acara. Telinga kita pun sudah tidak akan merasakan sesuatu yang aneh dan salah atas kalimat tersebut.
Apabila kita cermati, pemilihan kata dalam kalimat tersebut tidak adalah tidak tepat. Marilah kita baca pelan-pelan dan coba kita pahami. Pemilihan kata dalam kalimat tersebut salah karena seolah-olah yang dipersilakan adalah waktu dan tempat, padahal maksud an tujuan dari pembawa acara adalah mempersilakan seseorang yang diminta untuk memberikan sambutan dalam acara tersebut. Mungkin pendengar pun tidak akan sampai detail memperhatikan kata demi kata dan memastikan kalimat itu benar, apalagi kemudian melakukan protes kepada pembawa acara.
Kebanggaan sebagai bangsa seharusnya tidak hanya karena mempunyai bahasa nasional, tetapi meliputi kebanggaan bisa berbahasa dengan baik dan benar. Apakah tidak sebaiknya pembawa acara mengucapkan kalimat berikut ini
Acara selanjutnya adalah sambutan Kepala Desa Ujung Waktu. Bapak Widyo Nugroho kami persilakan menuju tempat yang telah disediakan.

Penggunaan kalimat atau kata yang kurang tepat sering kita temui hampir setiap hari. Ketidaktepatan tersebut disebabkan oleh pemilihan kata yang salah dan tidak perlu dalam menyampaikan maksud dari si pembuat kalimat. Penulis pernah mendengar seorang pembawa acara berita olahraga menyampaikan berita terkait Liga Super Indonesia, kesebelasan A menang tiga kosong tanpa balas atas kesebelasan B atau atau kalimat ini, kesebelasan Liverpool mampu menahan imbang tanpa gol kesebelasan Sparta Praha
Pada kalimat pertama, pembawa cara seharusnya tidak menggunakan kata yang tidak perlu karena mempunyai arti yang sama. Pembawa acara seharusnya tidak perlu mengucapkan kata tanpa balas karena pengertian tanpa balas adalah tidak mencetak gol atau kosong, sehingga kalimat yang tepat adalah kesebelasan A menang tiga kosong atas kesebelasan B. Terkadang pembawa acara tersebut ingin menggunakan kalimat yang agak lain dengan tujuan memberikan variasi kalimat dan penekanan kesan tidak adanya perlawanan dari kesebelasan B, maka kalimatnya dapat diagnti dengan kesebelasan A menang tiga gol tanpa balas atas kesebelasan B. Walaupun berbeda, maksud dan inti dari kedua kalimat sebenarnya sama.
Pada kalimat kedua, maksud dari kalimat tersebut adalah pembawa acara ingin menyampaikan informasi bahwa Liverpool bermain imbang tanpa gol melawan Sparta Praha. Saya berpendapat walaupun maksud kalimatnya adalah seperti itu namun pemakaian kata menahan dalam kalimat tersebut kurang tepat. Menahan, biasanya dilakukan sebuah kesebelasan yang posisinya lebih tidak diunggulkan dibandingkan kesebelasan lawan tandingnya. Dalam kancah persepakbolaan Eropa, kita tahu bahwa peringkat Liverpool berada di atas Sparta Praha atau paling tidak Liverpool lebih diunggulkan. Terdapat juga pemakaian dua kata yang mempunyai arti sama, yaitu imbang dan tanpa gol. Jadi menurut saya kalimat yang tepat adalah adalah kesebelasan Sparta Praha mampu menahan tanpa gol kesebelasan Liverpool.

Pemilihan kata dalam sebuah kalilmat tidak semata-mata didasarkan pada apa maksud dan tujuan informasi yang disampaikan dalam kalimat tersebut. Kita perlu juga melihat informasi lain yang mungkin tersembunyi di balik infomasi tadi, sehingga pilihan kata menjadi tepat. Lalu bagaimana kalimat yang tepat untuk menggambarkan kekalahan Indonesia atas Turkmenistan pada pertandingan pra-olimpiade tadi malam, atau kekalahan Inter Milan dari Bayen Muenchen pada pertandingan Liga Champions dini hari tadi.
tulisanku, 24-02-20011, 07.28 WIB

Jumat, 11 Februari 2011

Beberapa Kesalahan dalam Surat Dinas

Atas perhatiannya, diucapkan terima kasih.

Itulah sepenggal kalimat dalam penutup sebuah surat dinas. Sekilas memang tidak ada yang salah dalam kalimat tersebut. Bahkan kalimat tersebut sudah sangat lazim digunakan di berbagai kantor/instansi/lembaga (berdasarkan surat-surat dinas yang pernah saya baca). Bahwa maksud dari kalimat tersebut, si pengirim surat ingin mengucapkan terima kasih atas perhatian yang telah diberikan oleh si penerima surat. Namun sebenarnya pemilihan kata-kata tersebut tidak tepat.
Beberapa kali membaca buku maupun literatur yang membahas tentang tata cara penulisan surat atau naskah dinas, saya dapat memastikan bahwa sebenarnya kalimat tersebut salah. Apabila si penulis surat (dalam hal ini adalah instansi, karena merupakan surat dinas) maka kalimat yang lebih tepat apabila tetap menggunakan pilihan kalimat seperti itu adalah :

Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih. atau Atas perhatian Bapak, kami ucapkan terima kasih.

Mengapa akhiran nya diganti dengan Saudara atau Bapak? Surat adalah salah satu bentuk komunikasi satu arah antara pengirim dan penerima surat, sehingga yang diperlukan adalah kata ganti orang pertama (pengirim) dan kata ganti orang kedua (penerima). Nya adalah kata ganti orang ketiga, sehingga yang benar adalah menggunakan kata ganti orang kedua (anda atau kamu). Dikarenakan ini adalah surat dinas yang lebih mengutamakan kata-kata yang mengedepankan rasa estetika, maka sebaiknya diganti dengan kata sapaan (Saudara atau Bapak atau Ibu). Penulisan kata sapaan pun harus dengan menggunakan huruf besar.
Mengapa awalan di pada kata ucapkan diganti dengan kami. Yang mengucapkan terima kasih adalah si pengirim surat, sehingga kata yang tepat adalah kata ganti orang pertama yaitu saya atau aku. Dikarenakan surat dinas merepresentasikan instansi atau organisasi, maka perlu diperhalus dengan menggunakan gaya bahasa pluralis maiestatis, yaitu dengan menggunakan kata kami.

Selain kesalahan di atas, kesalahan-kesalahan yang masih sering kita jumpai adalah :

  1. Dalam pokok surat, masih sering kita jumpai tulisan Lampiran : - karena memang tidak ada yang dilampirkan. Dalam hal surat yang kita kirimkan tidak ada lampirannya, maka seharusnya kata lampiran tidak perlu kita tulis dalam pokok surat;
  2. Penulisan tujuan surat, sering kita temui, Kepada Yth. Bapak Drs. Hadi Sutrisno Kepala Badan Atom Nasional. Penulisan ini salah. Penulisan yang betul adalah tidak perlu menggunakan kata kepada, cukup seperti ini ;
    Yth. Bapak Hadi Sutrisno, atau

    Yth. Drs Hadi Sutrisno,
    atau
    Yth. Kepala Badan Atom Nasional
  3. Penggunaan kata Bersama surat ini.... dan Dengan surat ini..... Sering kita temui penggunaan kata-kata tersebut yang tidak tepat. Apabila surat kita mempunyai maksud menyampaikan sesuatu yang sifatnya adalah benda yang ada dalam lampiran surat maka kata yang tepat adalah menggunakan Bersama surat ini...., namun apabila hanya menyampaikan maksud dan tujuan sebagaimana diuraikan dalam isi surat (tanpa lampiran) maka kita menggunakan Dengan surat ini..... .

Mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan lain yang kita temui, namun sedikit yang saya tulis di atas semoga bermanfaat.

tulisanku, 11-02-2011, 13.00 WIB