Tampilkan postingan dengan label Pernak-pernik keseharian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernak-pernik keseharian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Oktober 2017

ANTARA SEHAT DAN KUAT

Sebuah hadits masyhur riwayat Imam Muslim mengatakan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dibandingkan dengan mukmin yang lemah. Tidak diperdebatkan bahwa kuat dalam haidts ini adalah berkaitan dengan fisik.

Ada istilah kuat dan sehat. Boleh dapat dikatakan bahwa kuat adalah tahap berikutnya setelah sehat. Lalu apa arti kuat dalam hadits di atas? Itu adalah perkataan Rasulullah, sehingga tidak salah bila kita memberi arti kuat mengacu pada pribadi Rasulullah.

Ingat nama Rukanah bin Abdu Yazid. Jawara gulat Mekkah pada zaman Rasulullah. Diceritakan fisiknya tinggi besar, tenaganya kuat, lincah dan jago berkuda. Dia tidak terkalahkan, sampai Rasulullah bisa mengalahkannya, bahkan karena tidak percaya, Rukanah menantang dua kali dan dua kali juga dia tumbang.

Itulah definisi kuat dari orang yang mengeluarkan istilah kuat. Berat memang, karena butuh fisik yang luar biasa untuk mengalahkan jawara gulat. Tapi sebelum bicara kuat, kita turunlan levelnya dulu, kita bicara sehat.

Sehat bisa diperoleh dengan kombinasi makanan sehat dan olahraga yang cukup. Makan adalah kebutuhan, makanan sehat? Itu tinggal penyesuaian, saya berpendapat cukup mudah. Bagaiamana dengan olahraga? Nah ini yang ini agak berat.

Bagi yang belum terbiasa, berat untuk memulai, kalau sudah mulai, 5-10 menit olahraga pasti merasa sudah capek. Akhirnya berhenti angka durasi tersebut. Kenapa?

Ada satu rahasia yang perlu anda ketahui. Menurut penggiat olahraga, hormon endorphin (orang menyebutnya sebagai hormon bahagia) baru keluar setelah kita berolahraga 22 menit. Hormon inilah akan membuat anda senang dan bahagia, sehingga merangsang anda untuk terus melakukan aktivitas olahraga tersebut. Makanya setelah 22 menit, bukannya anda menjadi bosan tapi semakin anda bahagia dan bersemangat berolahraga.

Simpulannya olahragalah, kejar durasi 22 menit itu, dapatkan bahagia, dapatkan sehat, dan istiqomahlah, karena konsistensi berolahraga akan membuat kita menjadi mukmin yang kuat.

sumber foto : detikhealth


Kamis, 14 Januari 2016

UNTUK APA MEREKA LAKUKAN ITU

Saya mempunyai rutinitas jogging tiap hari Selasa, Rabu dan Jumat  pagi di sekitar Monas yang kebetulan dekat dengan kantor. Ada beberapa aktivitas orang yang sama yang teramati.

Ada seorang pria yang sudah cukup tua. Kulitnya sudah mengeriput, tidak menempel  erat pada tulang sehingga tonjolan-tonjolan tulangnya kelihatan. Rambut sudah memutih semua. Jalannya pun sudah tidak sempurna layaknya manusia dewasa berjalan. Langkahnya pendek-pendek dan lambat cenderung hati-hati. Kakinya sudah sudah tidak terlalu kuat menahan tubuhnya sehingga kalau pas melangkah sedikit agak goyang tubuhnya. Namun setiap pagi dia tidak absen untuk ikut senam lansia. Semua gerakan dia ikuti dengan serius. Walalupun wajahnya yang sudah penuh garis-garis keriput, tapi tetap menunjukkan semangat yang luar biasa.

Ada juga seorang wanita -yang maaf secara ukuran- tubuhnya termasuk big size. Dengan tinggi badan yang tergolong pendek, makin menunjukkan bahwa dia termasuk dalam kriteria gemuk. Dengan mengalungkan sebuah handuk dan memasang headset hp pada telinganya, setiap pagi dia tidak pernah absen selalu melakukan jalan cepat. Badannya nampak yang basah kuyup keringat, namun wajahnya tetap menunjukkan bahwa dia sangat menikamti aktivitasnya.

Ada juga seorang pria, menurut taksirn saya usianya sekitar 50 tahun. Naik sepeda adalah pilihan olahraganya. Dengan kostum yang kelihatan keren dan sepeda yang cukup bermerk, menandakan bahwa dia berasal dari golongan orang yang berkemampuan. Dilihat dari cara menggowes, nampak pula bahwa dia sudah terbiasa dengan olahraga tersebut. Hampir setiap gowesannya, say lihat dilakukan dengan power yang cukup kuat dan cepat, jarang saya dapati dia terlihat santai. Badannya menunjukkan bahwa secara fisik terjaga. Pria dengan usia segitu bisanya perutnya sudah lebih ke depan meninggalkan dadanya, tapi pria ini tampak bisa menjaga badannya.

Ada juga sekelompok ibu-ibu yang setiap hari melakukan senam bersama.  Sebenarnya saya masih bingung jenis senam apa yang mereka lakukan. Musik yang diputarpun berbahasa Cina, menambah ketidaktahuanku. Dari gerakannya pun juga klebih tepat disebut dengan menari atau joget daripada disebut senam. Usia mereka rata-rata di atas 50 tahun. Tampak mereka sangat menikmati senam tersebut atau lebih tepatnya menari. Sepanjang aktivitas, mereka ketawa ketiwi dan bahkan saling menggoda satu sama lain.

Ada juga seorang lekaki muda, mungkin sekitar 20-an tahun. Dengan serangkat head set dan smartphone yang dimasukkan di armband,kelihatan sekali bahwa dia masih kuat secara fisik. Langkahnya masih panjang dan frekuensinya cukup cepat. Keringatnya pun cukup deras mengalir menandakan bahwa dia sudah melakukan aktivitas cukup lama.

Ada juga seorang wanita berjilbab. Usia mengin sekitar 45 tahun. Tapi yang emmbuat saya agak salut, walaupun secara usia sudah cukup tua, dan badan tidak kelihatan langsing, namun wanita tersebut masih cukup kuat berlalri. Bahkan ritme larinya pun lebih cepat dari saya. Dia bisa mengatur irama nafas dan langkahnya sehingga bisa mempertahakan kosistensi larinya. Pernah saya coba mendampingi di lintasan paling dekat dengan lintasanya, ternyata setalah 3 lap, belum nampak di wajahnya tanda-tanda kelelahan.
Dan sebenarnya masih banyak lagi yang mungkin kalau diceritakan akan menjadi panjang sekali. Pertanyaannya adalah untuk apa mereka lakukan itu?

Terus terang saya belum pernah menayakan alasannya.  Yang bisa saya lakukan adalah mengira-ira jawabannya. Mungkin ada yang menjawab : supaya panjang umur sehingga bisa menyaksikan cucu saya menikah. Mungkin ada yang menjawab : supaya di hari tua saya merasa tetap  sehat dan bugar. Mungkin ada yang menjawab : supaya badan saya lebih langsing. Mungkin ada yang menjawab : supaya badan saya terasa bugar dan sehat. Mungkin ada yang menjawab :supaya badan saya sehat, sehingga panjang umur.

Apapun kemungkinan jawabannya, saya dapat memastikan tujuan mereka melakukan aktivitas tersebut secara substansi sama, yaitu alasan kesehatan. Hidup sehat adalah sebuah pilihan. Ketika kematian adalah adalah sebuah kepastian, sedangkan kehidupan yang merupakan proses menuju kematian, di dalamnya kita masih diberikan pilihan. Secara teori tidak ada yang dapat memperkirakan berapa umur kehidupan seseorang, bisa singkat atau lama. Dalam kondisi tidak adanya  kepastian, maka yang paling bijak adalah ketika memilih untuk bisa hidup dalam keadaan yang menyenangkan, baik lama atau tidak. Dan pilihannya adalah bagaimana kita bisa hidup sehat. Panjang atau pendek umur manusia apabila dilalui dengan kondisi badan sehat tentunya akan memberikan kebahagiaan yang tiada taranya.


Untuk itu masihkah kita memilih tidak beraktivitas untuk kesehatan tubuh kita?

Selasa, 10 Mei 2011

Jadikan Kekurangan sebagai Kelebihan..!

Pada suatu waktu, seorang suami terpaksa meninggalkan istri dan keluarganya. Kepergian si suami dikarenakan menerima SK pemindahan ke kota yang jaraknya harus ditempuh dengan bis selama 5 jam. Dengan kondisi seperti itu sang suami hanya bisa mengunjungi keluarganya setiap akhir pekan. Selama ini, untuk pergi ke kantor suami dan istri tersebut berbocengan dengan sepeda motor, karena kebetulan kantor istri dan suaminya berdekatan. Begitu sebaliknya ketika pulang kantor, si suami akan menjemput istrinya terlebih dulu untuk kemudian bersama-sama pulang ke rumah. Kenapa seperti itu? Ternyata si istri selama ini tidak bisa naik motor atau lebih tepatnya tidak mempunyai keberanian naik motor.

Jarak rumah keluarga tersebut ke kantor kurang lebih 15 km, apabila dia menggunakan kendaraan umum maka harus naik 2 s.d. 3 kali. Lama perjalanan bisa memakan waktu 1 jam lebih, belum lagi waktu yang digunakan untuk menunggu bisnya, apalagi satu-satunya bis yang menuju rumahnya tidak tentu waktunya. Sepeninggal suaminya, mengharuskan si istri sendiri dengan naik angkutan umum. Ia berangkat pagi-pagi sekali dan pulangnya pun sudah mulai gelap. Belum lagi sesampai di rumah masih harus membereskan rumah dan mengurusi anaknya yang masih berumur 3 tahun. Dapat dibayangkan betapa repotnya si istri tadi, ditambah juga si istri sedang hamil 6 bulan. Hampir tiap hari di awal-awal si suami di kota yang baru, komunikasi antara keduanya selalu mengenai bagaimana istri berangkat dan pulang hari itu, bagaimana kondisi rumah, anak-anak dan si kecil yang masih dikandungnya.

Sebenarnya si suami sudah sering memotivasi agar istrinya belajar dan berani naik sepeda motor. Berbagai alasan disampaikan si suami tentang manfaat kalau istrinya bisa dan berani naik motor. Dari alasan bisa menghemat waktu sampai alasan bisa lebih mobile (kemana-mana tidak terhambat dan tergantung orang lain), yang jelas banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dalam waktu lebih singkat. Ada satu kalimat yang sering diyakinkan oleh si suami yaitu, “ Dik, sekali kamu mempunyai keberanian naik motor maka selanjutnya naik motor akan menjadi sesuatu yang sangat sederhana”. Namun tetap saja dengan berbagai alasan, si istri tidak menuruti apa kata suaminya.

Sampai akhirnya pada suatu malam dalam sebuah percakapan, seperti biasa si suami memberikan motivasi lagi kepada istrinya, dan yang membuat kaget suaminya malam itu adalah istrinya mau mencoba, walaupun sempat tarik ulur, akhirnya si suami mampu meyakinkan istrinya. Dan benar, pada hari itu, kalau tidak salah hari Senin, si istri pergi ke kantor dengan naik sepeda motor. Sampai di kantor si istri kemudian menelepon suaminya bahwa dia telah sampai di kantor dengan selamat. Dan benar, hanya butuh satu hari saja, hari hari berikutnya naik motor bukan menjadi sesuatu yang menakutkan bagi si istri tadi.

Suatu hal yang menjadi catatan dari peristiwa tadi adalah bahwa kekurangan seseorang akan menjadi pula sebagai kelebihannya. Seorang istri yang ditinggal jauh suaminya, tentunya sebuah kekurangan bagi istri, kalau dalam istilah Jawa disebut dengan “gothang”, istilah yang dipakai untuk seekor belalang yang kehilangan salah satu kaki panjangnya. Keterbatasan karena tidak didampingi oleh suaminya ternyata membangkitkan motivasi dalam dirinya untuk mengalahkan ketakutan yang selama ini mendekam dalam dirinya. Motivasi itu kan dipaksa muncul oleh sebuah kondisi keterbatasan . Barangkali, apabila suaminya tidak dipindahtugaskan ke luar kota, mungkin keberanian itu tidak akan muncul. Ibarat suatu pepatah yang pernah saya baca kursi empuk bikin ngantuk. Kondisi nyaman yang dirasakan secara terus menerus oleh seseorang akan membuat orang itu kehilangan motivasi untuk meraih sesuatu yang lebih berharga.

Ketika seseorang berada dalam sutu kondisi lemah atau kurang maka biasanya ia termotivasi untuk menjadi pribadi yang luar biasa. Ia tidak mau dikasihani karena keterbatasan dan kekurangan dirinya. Justru kekurangan itu digunakannya untuk meraih kelebihan. Sebuah keinginan yang sulit dinalar. Namun, saya menangkap bahwa keinginan itu akan tercapai. Mengapa? Karena motivasi akan melahirkan energi yang luar biasa dahsyatnya.

Keterbatasan tidak boleh menjadi penghalang untuk menjadi pribadi yang unggul. Kekurangan hendaknya memberikan semangat dan energi positif untuk menjadi sosok pribadi yang lebih mandiri dan mampu menjadi inspirasi bagi pribadi yang lain untuk lebih berprestasi.



untuk istriku, mengenang bulan Mei 8 tahun yang lalu...tetap semangat...jadikan kekurangan ini sebagai sebuah kelebihan..

Jumat, 15 April 2011

Ulat Bulu dan Dede Yusuf


Ada dua fenomena menarik akhir-akhir ini, yaitu ulat bulu dan Dede Yusuf. Ulat bulu adalah binatang yang sangat menakutkan bagi hampir semua orang, sedangkan Dede Yusuf adalah aktor ganteng yang menarik semua orang. Mengapa saya menuliskan dua nama tersebut dalam sebuah kalimat yang mengandung pengertian setara?

Wabah ulat bulu pertama kali ditemukan di wilayah Bojoegoro yang merupakan sentra penghasil buah mangga. Ulat tersebut menyerang pohon mangga, sehingga petani di daerah tersebut merasa dirugikan. Seorang profesor pertanian dari IPB menyatakan bahwa sebenarnya wabah ulat bulu tersebut lebih disebabkan karena keseimbangan alam yang terganggu sehingga predator ulat tersebut (sejenis lebah) jumlahnya berkurang. Akibatnya ulat bulu yang ada bertambah dalam jumlah yang cukup luar biasa dan wabah ini adalah terbesar sejak 70 tahun terakhir. Dalam siklus metamorofosis, ulat akan berubah menjadi kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu. Proses inilah yang akan mengubah baju ulat bulu yang menakutkan menjadi seekor kupu-kupu yang berbaju yang sangat indah.

Hal yang sama juga dilakukan oleh mantan artis dan sekaligus Wakil Gubenur Jawa Barat, Dede Yusuf. Baru-baru ini Dede Yusuf berganti baju, dari Partai Amanat Nasional ke Partai Demokrat (walaupun warnanya masih sama yaitu biru). Perubahan baju ini bukan karena proses metamorfosis, namun ada tujuan tertentu yang sifatnya politis. Menurut pengamat politik, kepindahan ini terkait dengan rencana Dede Yusuf untuk mencalonkan diri menjadi Gubernur Jawa Barat pada pilkada tahun 2012.

Perpindahan dari dari partai politik ke partai politik lainnya bukanlah hal yang luar biasa di negara kita. Gubernur Nusa Tenggara Barat, Zainul Majdi, yang sebelumnya adalah politisi Partai Bulan Bintang berpindah ke Partai Demokrat; Ilham Arif Sirajuddin, Walikota Makasar yang sebelumnya adalah Ketua DPD Golkar Sulawesi Selatan berpindah ke Partai Demokrat. Beberapa pengamat politik menduga kepindahan tersebut terkait dengan kepentingan pelanggengan kekuasaannya. Partai Demokrat sebagai partai penguasa tentunya mempunyai posisi yangs sangat kuat. Dengan citra sebagai partai pemerintah dan dukungan dari para pemilihnya diharapkan menjadi amunisi yang kuat untuk pemilihan kepala daerah berikutnya. Dalam logika politik hal ini menguntungkan kedua belah pihak. Ketika partai yang sebelumnya mengusungnya menjadi wakil/kepala daerah sudah tidak ada harapan lagi untuk lolos parliament threshold, maka satu-satunya cara untuk mempertahankan kekuasannya adalah dengan berpindah ke partai yang kemungkinan besar lolos parliament threshold, sehingga peluang bisa melanggengkan kekuasaan akan lebih besar. Keuntungan bagi partai pengusungnya adalah apabila kadernya menjadi kepala daerah maka akan bisa mendongkrak perolehan suara partai.

Perubahan ulat menjadi kupu-kupu tentunya berbeda dengan perubahan baju politikus. Dalam filofosi kehidupan, perubahan ulat menjadi kupu-kupu diartikan sebagai suatu proses lelaku untuk mendapatkan kedudukan yang lebih mulia. Proses menjadi kepompong biasanya digambarkan sebagi proses prihatin dan puasa untuk meningkatkan kepribadian menjadi yang lebih istimewa. Menjadi kupu-kupu adalah kedudukan yang mulila bagi seekor ulat. Dengan warna sayap yang menarik dan sangat indah, pastilah semua orang tertarik dengannya. Coba kita bandingkan dengan ulat bulu, seram dan menakutkan.

Coba kita bandingkan dengan perubahan partai yang dilakukan oleh politikus. Kita sering melihat politikus begitu mudahnya berpindah partai. Mereka sangat oportunis dan pragmatis. Berpindah partai hanya untuk kepentingan yang menguntungkan dirinya sendiri. Memang secara formal hal tersebut dimungkinkan dan diperbolehkan, namun dalam kaca mata fatsun politik, hal tersebutlah sangatlah tidak etis. Karena merupakan perilkau yang tidak etis tersebut, orang sering menyebut poltikus seperti itu sebagai kutu loncat. Politikus layaknya pemain bola, yang bisa pindah kapan dan ke mana saja, yang penting nilai kontrak dan gaji yang ia dapatkan di klub yang baru. Politikus ini tidak mempunyai karakter ideal seorang politisi. Idealnya, seorang polotisi adalah mewakili kepentingan rakyat melalui partai yang sesuai dengan ideologinya, bukan mewakili kepentingan pribadi untuk mendapatkan kekuasaan.

Politisi hendaknya meniru ulat, kepompong dan kupu-kupu. Binatang ini begitu indahnya berubah bukan karena kepentingan pribadinya, tapi karena ingin membuat manusia bahagia. Ulat bulu yang begitu menakutkan manusia menjadi seeokor kupu-kupu yang membuat manusia senang melihatnya. Saya yakin kalau Partai Demokrat tidak mendapatkan suara terbanyak dalam pemilu nanti, dipastikan si kutu loncat ini akan bersiap-siap untuk meloncat lagi ke partai yang bisa melambungkan dirinya.



tulisanku, 15-04-2011

Kamis, 07 April 2011

Antara Korupsi, Malinda Dee dan Malu

Tidak seperti biasanya, yaitu naik Senja Utama, perjalanan ke Yogyakarta pada hari Jumat,1 April 2011 saya lakukan dengan naik kereta Fajar Utama. Dengan naik kereta ini, saya bisa seharian melihat hampir semua hal yang terjadi di sekitar saya dan sekaligus menikmati suasana perjalanan di siang hari. Salah satu peristiwa yang saya lihat pada hari itu adalah ketika ada pemeriksaan tiket selepas Stasiun Besar Cirebon yang dilakukan oleh salah seorang petugas kereta api. Ketika petugas tersebut meminta salah seorang penumpang yang duduk di seberang tempat duduk saya, untuk menunjukkan tiketnya, ternyata si penumpang bukannya menyerahkan tiketnya, tapi saya melihat dia menyerahkan uang (kalau tidak salah Rp 20.000,- an) sembari bersalaman dengan petugas kereta api tadi. Melihat peristiwa itu aku merasa risih dan hati kecilku merasa tidak terima, kemudian aku pura-pura batuk “hmm..hmm...” sambil kualihkan pandanganku ke penumpang dan petugas tadi. Begitu pandanganku dan pandangan mereka ketemu, saya melihat wajah kedua orang tersebut berubah agak memerah dan tersenyum malu-malu dan kemudian petugas tadi pergi.

Ternyata kejadian tersebut berulang lagi, selepas stasiun Purwokerto, namun kali ini petugasnya sudah berganti. Aku pun melakukan hal serupa, yaitu pura-pura batuk,”...hmm...hmmm...” dan melihat petugas kembali malu-malu dan berusaha segera menyembunyikan uang pemberian penumpang tadi.

Melihat peristiwa tadi aku mulai berpikir bahwa secara kodratnya manusia itu malu apabila melakukan pekerjaan yang tidak benar dan akan menutupi perbuatannya tadi sesegera dan serapat mungkin agar orang lain tidak mengetahuinya. Apa yang dilakukan petugas kereta api dan penumpang tadi sebenarnya masuk dalam pengertian korupsi, dan korupsi adalah sesuatu perbuatan yang melanggar hukum. Karena biasanya atau seharusnya pelakunya malu maka sering orang mengganti dengan istilah perbuatan yang memalukan dan perbuatan tadi bisa membuat malu tidak hanya kepada pelakunya tapi juga keluarga dan warga sekitarnya.

Saya masih ingat ketika semasa ayah saya aktif mengajar di sebuah sekolah dasar. Karena sudah termasuk guru senior maka ayah saya diperbolehkan mengikuti tes untuk dipromosikan sebagai kepala sekolah. Setelah tiga kali menjalani tes dan gagal terus, ayah saya ditawari oleh oknum penyelenggara ujian untuk menyediakan uang Rp. 3.000.000,- agar pada tes keempat bisa diluluskan. Ayah saya ternyata tidak menyanggupi, dan alasannya (yang masih membanggakan saya) adalah, “malu-maluin saja, guru nyogok hanya untuk jadi kepala sekolah, terus anak didiknya mau dibawa kemana?”

Malu adalah sifat manusia yang universal. Sifat malu tidak diberikan kepada binatang. Malu hanya diberikan Tuhan kepada manusia sebagai salah satu ukuran untuk menentukan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. Manusia sering tidak sadar bahwa ketika mereka masih mempunyai rasa malu dengan orang lain ketika melakukan suatu perbuatan tidak terpuji, maka itu sebenarnya adalah peringatan supaya segera ditinggalkan dan hukuman yang lebih berat tidak dikenakan.

Kasus yang menghebohkan hari-hari terakhir ini adalah pembobolan dana nasabah oleh Malinda Dee. Dalam kacamata hukum, apa yang dilakukan oleh Malinda Dee tersebut juga sudah masuk dalam pengertian korupsi, karena korupsi tidak hanya diartikan pada kerugian keuangan negara saja, namun kerugian perusahaan pun sudah masuk dalam pengertian korupsi. Salah satu hal yang mendorong untuk membuat tulisan ini adalah ketika saya membaca headline harian Kompas, 7 April 2011, Malinda Pegang 236 Nasabah. Dari berita tersebut, saya mendapatkan informasi tersangka kasus pembobolan dana masabah Citibank, Melinda Dee, ternyata menangani 236 nasabah dengan nilai nominal minimal Rp. 500 juta per nasabah dan dengan total dana yang dibobol Rp. 17 milyar. Namun yang mengherankan, dari 256 nasabah yang dibobol ternyata hanya 3 orang nasabah yang yang melaporkan telah dirugikan. Pertanyaannya adalah kemana yang 233 nasabah lainnya. Harian Kompas edisi sebelumnya memberitakan bahwa ada dugaan bahwa nasabah-nasabah yang menjadi korban Malinda Dee adalah nasabah yang melakukan pencucian uang dari tindak pidana. Berarti dapat saya simpulkan bahwa mereka sebenarnya malu melaporkan bahwa dirinya dirugikan, karena uang mereka berasal dari perbuatan yang tidak terpuji alias yang memalukan.

Korupsi yang selama ini dianggap sudah menjadi penyakit akut di negara kita, salah satu penyebabnya adalah hilangnya rasa malu bagi pelakunya. Ketika rasa malu ditanya, sebelum melakukan korupsi, dan apa yang menjadi jawaban dari rasa malu itu dituruti maka sebenarnya korupsi dan perbuatan tidak terpuji lainnya bisa dicegah. Tapi lain halnya, apabila urat malu pelaku tersebut sudah putus.

Bagi kita yang masih diberikan rasa malu, maka bersyukurlah. Apalagi rasa malu tersebut masih bisa mengingatkan seseorang dari perbuatan yang memalukan.



tulisanku, 07-04-2011, 07.25

Jumat, 11 Maret 2011

Tertawa itu Ternyata Menyehatkan

Sekitar pukul 20.30 WIB malam tadi, sembari menunggu mata mulai mengantuk, saya coba membaca sebuah artikel di sebuah majalah yang membahas tentang tertawa. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa hasil sebuah penelitian menyatakan tertawa 100 kali dalam sehari sama dengan melakukan olaharaga dayung atau joging selama 10 menit. Dipertengahan artikel juga disebutkan tentang penelitian juga bahwa tertawa 10 menit sama dengan naik sepeda 10 menit. Subhanllah..sungguh luar biasa...!
Tertawa adalah suatu aktivitas yang sering dilakukan oleh hampir semua orang. Dari bayi yang baru lahir sampai dengan kakek-nenek yang sudah tua renta. Tertawa adalah bahasa universal, dan tidak perbedaan pengertian antara bangsa yang satu dan bangs a yang lain. Ekspresi tertawa pun juga suatu ekspresi universal. Bahkan terkadang kita tidak sadar melakukan hal tersebut. Begitu ada sesuatu yang memicu rasa humor kita, kemudian kita tertawa. Terkadang ada yangn spontan dan ada pula yang memerlukan waktu lama untuk mencerna makna peristiwa sehingga bisa menyatakan bahwa sesuatu itu lucu. Salah satu hal yang paling penting adalah bahwa tertawa itu tidak memerlukan biaya alias gratis. Tidak ada ceritanya orang harus membayar dulu sebelum dia tertawa.
Walaupun tertawa itu mudah dan murah, namun kita juga sering temui orang yang sangat sulit untuk tertawa. Mukanya selalu dingin bahkan mungkin cenderung cemberut. Dipancing-pancing untuk senyum saja sepertinya sangat sulit, apalagi bisa tertawa. Apabila dia mendengar cerita yang lucu, hanya sebuah gerakan kecil pada mulutnya saja yang keluar, untuk menunjukkan bahwa ia mengerti maksud dari cerita tadi.
Bagi anda yang senang tertawa, berbahagialah atas hasil penelitian di atas. Bagi anda yang sulit tertawa, berusahalah untuk bisa tertawa karena penelitian di atas. Cobalah kita rasakan, apabila kita sedang tertawa. Kita akan merasakan otot-otot wajah kita meregang dan secara logika sederhana hal ini akan membantu mengolahragakan otot-otot wajah kita. Ketika kita tertawa lepas dan ikhlas serta spontan maka sebenarnya tidak hanya otot-otot wajah kita yang berelaksasi tapi hampir seluruh otot dalam tubuh kita akan ikut meregang. Ada suatu aliran energi yang segar masuk dalam tubuh kita ketika tertawa. Tentunya sebuah tawa yang spontan dan tanpa ada paksaan. Jadi kalau kita sudah tidak sempat untuk berolahraga, tidak ada salahnya marilah kita berlatih untuk tertawa. Berlati untuk tertawa secara lahir dan batin. Ekspresi tertawa yang lepas tapi bukan tanpa kendali diiringi suasana hati mengikuti ekspresi kegembiraan yang muncul.
Tapi pesan saya yang terakhir, walaupun tertawa itu menyehatkan, janganlah berlebihan karena akan membuat hati kita tertutup dari masuknya sebuah nasehat kebenaran dan jangan tertawa sendiri tanpa sebab, karena kita akan dianggap sakit ingatan.



tulisanku, 10-03-2011, 07.00 WIB

Kamis, 17 Februari 2011

Catatan dari Perpanjangan SIM

Hari Senin, 14 Februari 2011, saya sempatkan memperpanjang Surat Ijin Mengemudi (SIM C). Saya masih ingat 5 tahun yang lalu ketika saya memperpanjang SIM C sebelumnya, begitu masuk area parkir sudah banyak para calo SIM bergentanyangn menawarkan jasanya. Kalau kita masuk ruangan tunggunya, maka akan kita dapatkan, ruangan yang cukup luas namun sesak dengan orang dan tidak ber-AC pula, ditambah lagi tempat duduk yang jumlahnya kurang dibandingkan dengan jumlah pemohon yang antri. Belum lagi ada pungutan-pungutan lain, misalnya “cabut berkas” dan “dipaksa” untuk membeli beli dompet SIM.
Namun hari itu tampak lain. Begitu masuk wilayah Polres (kebetulan adalah Polres Sleman DIY), aroma peningkatan pelayanan sudah mulai terasa. Tidak ada calo lagi yang terang-terangan menawarkan jasanya ditempat parkir. Sebuah ruangan yang cukup besar dan sudah ber-AC, walaupun jumlah AC kurang begitu mendukung luas ruangan dan jumlah pemohon SIM, namun sudah lebih baik. Berbagai papan pengumuman pun sudah ditempel untuk mempermudah bagi siapa pun dan apapun keperluannya terkait dengan SIM.
Namun hari itu saya masih merasakan ada sesuatu mengganjal. Berikut ini ceritanya.

Beberapa hari sebelumnya, saya sudah coba mempelajari UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terutama yang terkait dengan SIM. Ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan:

  1. Untuk memperoleh SIM (baru) harus memenuh persyaratan usia, administratif, kesehatan, dan lulus ujian (Pasal 81);
  2. Masa berlakunya SIM adalah 5 tahun dan dapat diperpanjang kembali (Pasal 85 ayat 2), namun tata cara perpanjangan SIM tidak diatur dalam UU tersebut.
  3. Pada Pasal 88 disebutkan ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara, persyaratan, pengujian, dan penerbitan Surat Izin Mengemudi diatur dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, namun setelah saya coba tanya Pakdhe Google ternyata saya tidak menemukan Perkap yang mengatur hal tersebut.

Karena permohonan saya adalah perpanjangan SIM maka saya pun berasumsi bahwa syarat yang harus dipenuhi adalah cukup administratif dan kesehatan saja, karena tentunya syarat usia dan lulus ujian sudah terpenuhi pada waktu kali pertama mendapatkan SIM baru.
Menurut Pasal 81 ayat (3) syarat administratif meliputi identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk, pengisian formulir permohonan; dan rumusan sidik jari. Sedangkan menurut Pasal 81 ayat (4) syarat kesehatan meliputi sehat jasmani dengan surat keterangan dari dokter dan sehat rohani dengan surat lulus tes psikologi. Satu hal yang agak mendapat perhatian dari saya adalah adanya keharusan surat sehat rohani dengan surat lulus psikologi. Surat ini cukup susah dapatnya dan mahal, pikirku.

Karena waktu dan uang sangat berharga bagi saya, maka saya minta informasi dari seorang teman yang kerjanya di Polres untuk memastikan persyaratan perpanjangan SIM C. Tapi ternyata syaratnya cukup foto kopi KTP, foto kopi SIM lama dan surat keterangan sehat dari dokter. Dan benar, begitu sampai di tempat pelayanan SIM terpampang tulisan syarat perpanjangan SIM sama seperti apa yang disampaikan oleh teman saya tadi. Dan saya pun sudah mempersiapkan diri untuk mempersingkat waktu, antara lain dengan surat keterangan sehat dari dokter Puskesmas Mlati II.

Ketika sudah cukup lama mengantri saya pun dipanggil (lama antrenya adalah saat harus membayar biaya di loket BRI). Namun apa yang terjadi, surat keterangan dokter tadi ditolak dan harus menggantikannya dengan surat keterangan dokter yang ada klinik depan kantor Polres Sleman tersebut. Saya coba memberikan alasan, surat keterangan dokter yang diminta dalam persyaratan itu tidak dijelaskan harus dari mana, dan UU Nomor 22 tahun 2009 pun tidak mengaturnya, jadi kalau yang saya lampirkan adalah SK Sehat dari dokter Puskesmas menurut pendapat saya sudah cukup kuat (karena dokter plat merah). Namun alasan saya tetap tidak diterima dan sanggahan yang diberikan yang tidak membuat saya puas (harus dari dokter yang ditunjuk...mana ada kata-kata tersebut..baik di UU ataupun di papan pengumumunan Polres tidak ada).

Dengan berat hati saya pun mengalah ke klinik yang ditunjuk. Ternyata sebuah klinik kecil dan sudah antri belasan orang. Ada 2 orang petugas (petugas tensimeter dan penulis). Begitu saya datang kemudian diukur tekanan darahnya, kemudian dipanggil dan dapatlah surat keterangan dokter tersebut dengan membayar Rp. 20.000,-. Begitu saya baca ternyata banyak informasi yang ada dalam surat keterangan tersebut yaitu tekanan darah, tinggi dan berat badan, fungsi anggota tubuh, hasil periksa rabun mata, jarak pandang baca dan kesehatan secara umum, yang semua ditulis normal, padahal saya sama sekali tidak diperiksa hal-hal tersebut di atas. Kalau mau jujur, waktu saya mendapatkan SK Sehat dari dokter puskesmas saya malah benar-benar diperiksa oleh dokter, baik tekanan darah, tinggi dan berat badan, fungsi anggota tubuh, rabun mata, jarak pandang baca dan kesehatan secara umum, dan saya hanya bayar Rp. 3.000,-

Akhirnya saya harus kembali antri lagi dan baru jam 11.50 semua proses selesai, meleset jauh dari waktu yang sebelumnya sudah saya perhitungkan.

Yang masih menjadi pertanyaan saya adalah:

  1. Apakah SK Sehat dari dokter tersebut harus melalui dokter yang ditunjuk oleh pihak Polres, padahal tidak ada penjelasan harus dari dokter tertentu? Apakah SK Sehat dari dokter pemerintah tidak memenuhi syarat, padahal benar-benar dilakukan pemeriksaan;
  2. Seandainya menggunakan dokter yang ditunjuk tersebut, kenapa pemeriksaan yang dilakukan hanya formalitas saja? Persyaratan sehat dalam memperoleh ijin mengemudi harusnya menjadi perhatian karena pengguna SIM mempunyai pengaruh terhadap keselamatan dia sendiri dan pengguna jalan lainnya.


Kita tahu bahawa sekarang sudah dilakukan reformasi di tubuh Polri dengan adanya remunerasi. Dan kita tahu bahwa peningkatan pelayanan memang sudah dirasakan masyarakat, salah satunya pelayananan SIM. Namun harusnya perlu lebih diperluas dan tidak boleh setengah-setengah. Harus ada ketegasan dalam prosedur pemberian pelayanan, dan harus dihilangkan kesan mengada-ada.

Terima kasih Pak Polisi, semoga ke depan semakin baik.

tulisanku, 17-02-2011, 05.40 WIB

Jumat, 04 Februari 2011

Ubanku Sayang.....




Hari Kamis, 3 Februari 2011, saya menghadiri acara yang melibatkan alumni tempat kuliah sayan dulu, STAN Prodip Keuangan. Acara tersebut memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat bertemu dengan temen-temen lama (reuni tidak sengaja..ceritanya). Namun ada satu pertanyaan yang selalu muncul ketika satu demi satu temen lama saya tegur, “Nang, rambutmu kok sudah banyak ubannya?”. Tidak hanya satu bahkan sudah saya hitung sampai empat kali mendapatkan pertanyaan seperti itu.


Sebenarnya tidak hanya pas acara tersebut saja saya mendapatkan pertanyaan atau komentar tentang uban yang mulai banyak di rambut saya. Bahkan ketika ketemu temen lama, saudara jauh, ataupun keluarga sendiri, saya mendapatkan pertanyaan seperti itu. Biasanya saya cuma tersenyum, kadang juga saya jawab dengan berkelakar (ketika yang menanyakana da teman yang kebetulan sudah lulus MBA-Makin Botak Aja), “sebenarnya dulu aku ditanya malaikat karena usiaku sudah mulai tua, mau botak kepalanya atau mau tumbuh ubannya, maka aku jawab ‘aku mau tumbuh uban saja’... he he 2...”. Uban selalu identik dengan tua. Usia saya memang belum tua (kata saya sendiri...), baru 36 tahun, namun memang rambutku tumbuh begitu banyak, sehingga kata orang belum selayaknya tumbuh uban di kepala. Dari beberapa artikel yang saya baca, tumbuhnya uban pada usia muda memang bukan merupakan suatu hal yang wajar. Diperkirakan bahawa hal tersebut disebabkan oleh hal-hal diluar karena faktor usia yang semakin menua. Ada yang mengatakan bahwa uban pada usia muda disebabkan oleh kekurangan unsur vitamin dan gisi, faktor gen atau keturunan, faktor stres, kelainan metabolisme atau mungkin pemakain jenis sampo yang tidak cocok. Semua penyebab tersebut sudah dianalisis para ahli kesehatan rambut dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah tentunya.


Apa pun penyebabnya, namun saya berpendapat bahwa uban yang tumbuh di kepala saya bukanlah karena stres, karena selama ini saya merasa baik-baik saja, tidak ada tekanan dan cenderung mengalami kehidupan yang selalu menyenangkan. Karena prinsip saya dalam kehidupan ini adalah “kalau tidak dinikmati, sayang waktu dalam kehidupan kita”. Kalau boleh berpendapat, kemungkinan besar adalah faktor gen atau keturuan (ayah saya juga sudah beruban dari saat usia muda) atau bisa saja kurang gisi (di waktu kecil makan telur saja dibagi dua atau bahkan empat, makan tempe diiris miring jadi dua juga). Wallahu a’lam, hanya Allah yang tahu.
Namun, apapun komentar orang, temen, dan siapa pun juga, saya tetap menjadi orang yang nyaman dengan anugerah yang terlalu awal diberikan oleh Allah ini, sesuai dengan prinsip saya “dinikmati saja”. Kenapa saya bisa menikmati ? Ada beberapa alasan :

  1. Uban tidak tidak akan mengurangi kenikmatan dalam mejalani kehidupan ini. Uban tidak akan menjadikan kita merasa ada yang kurang dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak seperti orang yang mungkin karena sesuatu hal kemudian kehilangan salah satu panca inderanya atau anggota badannya, uban sama sekali tidak berpengaruh terhadap keseharian kita;
  2. Uban akan mengingatkan kita, bahwa kita sudah semakin bertambah umurnya. Sudah tiba saatnya untuk mengevaluasi pribadi kita, dan mengakselerasi sesuatu yang dirasa kurang di sisa umur kita. Pada dasarnya uban akan membuat kita tidak “kemaki” lagi karena usia semakin bertambah.
  3. Uban memberikan keistimewaan pada diri saya.
    Artikel dalam detikhot yang dikutip dari Giulia Simolo dari Askmen, uban adalah salah kekurangan laki-laki yang justru dianggap menjadi sebuah daya tarik oleh para wanita, karena menjadi lambang kematangan dan kedewasaan bagi seorang pria. Jadi uban bukanlah sebuah aib, tapi sebuah kebanggaan.

Namun walaupun saya merasa nyaman dengan uban saya, namun banyak masukkan dari teman dan kerabat untuk mengurangi kecepatan bertambahnya uban pada usia muda, dikarenakan warna putih uban tidak dapat diubah menjadi hitam lagi. Saran yang saya dapatkan adalah dengan melakukan olahraga yang cukup dan dari sisi makanan, dianjurkan untuk mengonsumsi sumber pangan yang berkhasiat menguatkan ginjal dan paru-paru. Untuk pemakaian minyak rambut alami yang dibuat dari minyak wijen, kemiri, atau cem-ceman daun mangkokan serta daun dan bunga sepatu juga sangat baik untuk memperlambat uban.







tulisanku, 4 Januari 2011




Kamis, 27 Januari 2011

Menulis Itu (tidak) Sulit..?

Sudah lama saya menderita ‘penyakit’ ini. Pengin menjadi bisa menulis, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk menulis. Bahkan blog saya ini hampir 2 bulan lebih saya anggurkan begitu saja. Terkadang saya merasa kecil ketika dibandingkan dengan para penulis begitu mudahnya mereka membuat sebuah novel yang sangat tebal, bisa membuat tulisan ilimiah yang dapat menjadi rujukan atau walaupun hanya sekedar tulisan pendek dalam sebuah artikel majalah atau surat kabar.
Saya terkadang iri ketika membaca sebuah tulisan yang bagus, apakah itu menyentuh, ilmiah ataupun terasa hidup. Suatu ide yang sangat sederhana bisa ditulis dalam suatu uraian yang sangat luar biasa. Suatu cerita sederhana dapat terasa hidup menyentuh para pembacanya. Sebuah peristiwa yang sepele dapat diuraikan bagitu banyak hikmah yang dapat diambilnya. Semua itu tentunya dibuat oleh seorang yang mempunyai kemampuan untuk merangkai kata-kata, mengambil sesuatu yang paling dalam dalam sebuah peristiwa, membuat hidup sebuah momentum. Bahkan saya merasa iri juga ketika ada seorang teman yang begitu mudahnya menuliskan sebuah pengalamannya yang sederhana dalam sebuah blog dengan begitu indahnya.
Terkadang begitu selesai membaca sebuah tulisan atau artikel, muncul keinginan saya untuk bisa menulis seperti halnya penulis tersebut. Keinginan tersebut muncul spontan, namun ketika saya mencoba untuk menulis, terkadang bingung apakah yang harus aku tulis, aku harus mulai dari mana, kalau dimulai dari ini kok kayaknya tidak pas. Ketika mau memulai kok terasa sangat berat, malas sekali, padahal kalau dilihat sepertinya menulis itu mudah. Terkadang perasaan merasa tidak nyaman dengan kalimat-kalimat yang aku tuliskan juga muncul, kok rasanya tidak pas dengan kalimat ini, kurang cocok dengan kalimat itu dan sebagainya.
Terkadang juga ada masalah, ketika saya punya ide dan pengin saya tuangkan dalam suatu tulisan ada saja keinginan untuk menunda penulisan tersebut, ah..nanti sajalah atau tunggu agak “selo” baru nanti aku tulis, namun akhirnya tidak kesampaian juga tulisan tersebut.
Pernah saya mempunyai tekad, pokoknya begitu saya selesai mengalami suatu peristiwa maka harus saya simpan dalam suatu bentuk tulilsan, namun hal tersebut juga kayakany tidak bisa mendorong saya untuk bisa menulis dengan baik. Pernah saya juga mencoba membuka-buka internet, tentang bagaimana menjadi penulis yang baik...namun sekali lagi saya juga belum menemukan bahwa hal itu bisa mendorong saya untuk menjadi penulis.
Yang ada hanyalah bahwa saya masih pengin menjadi seseorang yang bisa dengan gampang menulis, semangat untuk mulai menulis apa saja dan memberi kehidupan dalam tulisan saya, tapi dengan cara apa? Sementara ini memang belum ada, namun pokoknya saya harus mulai coba untuk menulis dan menulis seberapa pun jelek dan tidak berbobotnya tulisan saya.

Selasa, 26 Oktober 2010

Jakarta oh..Jakarta

Sudah 10 bulan saya tinggal di Jakarta, sejak saya tinggalkan tahun 2000, namun baru kemarin malam saya mengalami sebuah kemacetan yang luar biasa. Hari itu Senin, 25 Oktober 2010 pukul 18.00, jarak 5 km aku tempuh dalam waktu 1 jam lebih. Sepeda motor saya hanya berjalan merayap dan sesampai di perempatan Pancoran berhenti sama sekali. Keadaan macet sangat luar biasa. Dalam keadaan stagnan di per-4-an Pancoran semua kendaraan seolah sudah tidak bisa sabar lagi, semua membunyikan klakson (yang menurut saya ndak ada pengaruhnya untuk kemacetan, hanya menambah bising dan semakin emosi). Ditambah lagi kaki kanan saya sedikit kelindas ban mobil yang coba merangsek ke depan memanfaatkan setiap celah. Salah satu ujian kesabaran lagi, batinku.
Setelah itu saya mandi makan dan tiduran sambil ngobrol dengan teman sembari meyalakan televisi. Melalui televisi, dapat saya peroleh informasi ternyata kemacetan Jakarta luar biasa, lebih dari yang aku perkirakan. Bahkan, menurut berita pagi harinya, kemacetan tersebut terjadi sampai dengan pukul 02.00 dini hari, ruarrr... biasa. Namun begitulah Jakarta, kalau tidak begitu bukan Jakartanamanya. Hujan, banjir dan macet adalah santapan penduduk Jakarta setiap hari, bahkan juga penduduk musiman seperti saya ini. Hujan sedikti akan memberikan efek domino terhadap permasalahan yang lain, apalagi hujan lebat seperti kejadian kemarin.
Beberapa waktu yang lalu, ketika saya masih belum menjadi penduduk musiman Jakarta, sang calon gubernur yang akhirnya terpilih, Foke atau Fauzi Bowo, memiliki jargon..” Untuk membangun Jakarta, serahkanlah kepada ahlinya dan kepada yang sudah berpengalaman. Jika tidak, kehancuran hanya tinggal menunggu waktunya.” yang secara tidak langsung mengatakan “saya adalah ahli dalam memecahkan masalah yang dihadapi Jakarta”. Namun selama 3 tahun pemerintahan beliau, saya sebagai warga musiman Jakarta merasakan tidak ada kemajuan selama pemerintahan Sang Gubernur tersebut, dan malah banyak yang berteriak, “Mana yang katanya ahli, kok ndak bisa berbuat apa-apa?”
Saya sependapat dengan sebuah artikel di Detik.Com, yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Foke bukanlah orang yang ahli kebijakan namun lebih kepada seorang akademisi sehingga ketika dituntut untuk menjadi seorang aktor yang harus memutuskan suatu kebijakan, dia merasa kesulitan, lihatlah pendidikannya S-1 Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, S-2 Perencanaan Kota dan Wilayah dari Technische Universitat Braunschweig Republik Federasi Jerman dan Doktor Ingenieur dari Fachbereich Architektur/Raum Und Umweltplanung-Baungenieurwesen Universitat Kaiserlautern Republik Federasi Jerman. Foke memang pinter, tapi mungkin pinter dalam arti sempit secara akademis.
Apa pun komentarnya, secara pendidikan Foke adalah orang pinter. Lalu apa yang menyebabkan, seolah tidak ada perkembangan ke arah yang lebih baik dalam mengatasi masalah Jakarta ini. Saya pun tidak punya data yang dapat digunakan untuk menjastifikasinya, dan hanya sekedar duga-menduga. Duagaan saya ada 2 kemungkinan :
  1. Foke memang hanyalah seorang akademisi, yang hanya menguasai konsep-konsep secara teoritis yang sifatnya ilmiah tanpa bisa menerjemahkan kepada program kerja yang lebih kongkrit pada level kebijakan; atau
  2. Karena Foke, pada waktu naik menjadi pimpinan didukung oleh hampir semua kekuatan politik di Jakarta kecuali PKS (yang waktu itu mengusung Adang-Dani) sehingga terkesan kebijakannya masih dipengaruhi oleh berbagai kepentingan sehingga semuanya tidak dilaksanakan secara maksmimal untuk menyelesaikan masalah Jakarta;
  3. Foke memang tidak berani dan masih takut atau hati-hati;
Dari 3 kemungkinan tersebut, saya berpendapat bahwa sebenarnya Foke adalah sudah tepat menjadi pemimpin Jakarta, secara akademis dia pintar, namun perlu syarat lain yaitu :
  1. Dia harus mampu mengaplikasikan konsep-konsep teori yang dimiliki pada level kebijakan yang lebih aplikatif;
  2. Dia harus ‘gila’. Gila di sini artinya dia harus mampu membuat kebijakan-kebijakan yang luar biasa dan cenderung dikatakan gila , karena permasalahan Jakarta sudah bukan merupakan masalah yang biasa lagi, tapi sudah gila/luar biasa. Kebijakan-kebijakan tersebut mungkin tidak populis karena tentunya banyak kepentingan yang akan terlindas. Sehingga untuk membuat kebijakan yang gila, dia harus bisa mengesampingkan semua kepentingan yang ada disekitarnya yang bisa mengganggu. Bahkan kata Tulus Abadi dari YLKI, diperlukan suatu kebijakan yang sangat luar biasa (ekstrimnya) untuk melawan perilaku warga Jakarta yang tingkahnya semakin primitif saja.
Semua itu dugaan saya saja, yang awam terhadap Jakarta, dan sedikit uneg-uneg untuk urun rembug terhadap masalah Jakarta.

Senin, 06 September 2010

Kaosku Ternyata Seragam Pramuniaga


Beberapa hari yang lalu kami sekeluarga berbelanja di sebuah supermarket di Jalan Solo. Waktu akan berangkat biasanya aku pake kaos ala kadarnya, tapi istri aku bilang, “..Abi mbok pake kaos yang rada ‘wangun’ lah..!”, (Abi adalah panggilan anak-anakku sebagai pengganti kata Ayah) dan apa kata istri aku turuti, menggantinya dengan kaos yang dibelikan istriku beberapa waktu yang lalu.

Ketika kami sampai di supermarket tersebut, kami langsung berkeliling mencari kebutuhan ramadhan dan lebaran yang sebentar lagi. Kalau di supermarket, biasanya aku selalu memisahkan diri dari istri dan anak-anak. Beberapa saat kemudian ketika aku melihat-lihat barang yang dipajang di toko tersebut, tiba-tiba ada seorang laki-laki 50 tahunan yang menanyakan sesuatu ke aku, “ Mas, kalau parfum mobil ada disebelah mana ya?” Aku agak kaget, dan spontan aku jawab “ Aduuh, saya ndak tahu Pak.” Dan kemudian aku ngeloyor pergi dan berpikir ‘memangnya aku pelayanan toko’. Beberapa saat kemudian aku baru sadar kalau kaos yang aku pakai mempunyai motif yang sama dengan kaos yang dipakai oleh pelayan supermarket tersebut. Pantesan orang tadi tanya ke aku. Kemudian timbullah perasaan hati ndak enak juga, setelah tahu ternyata kaos yang aku pakai sama dengan seragam pramuniaga supermarket tersebut.

Kemudian aku cari istri dan anak-anak yang sedang memilih barang yang akan dibeli dan aku ceritakan pangalaman tadi. Istriku hanya tertawa dan bilang, “ Harusnya tadi jangan bilang ndak tahu, kalau memang tahu tunjukkan saja, kasihan kan kesannya jadi pramuniaga supermarket tidak memberikan pelayanan yang baik karena tahunya Abi kan pelayan toko..” Dalam hatiku, benar juga kata istriku tadi, tapi..tetap males juga dan timbul perasaaan yang tidak nyaman.

Ternyata kejadian tadi belum berakhir, baru beberapa menit, ada lagi seorang ibu yang tanya kepada aku, “ Mas..kalau minyak goreng di sebelah mana ya?”. Spontan saran istriku aku laksanakan karena kebetulan kau tahu lokasinya, “ Di pojok sebelah kanan bu, dekat buah-buahan.” Kemudian ibu tadi ngomong, “terima kasih ya Mas”.
Satu kata yang tulus keluar dari mulut ibu tadi ‘terima kasih’. Aku jadi berfikir ternyata apa yang aku lakukan tadi sangat membantu ibu tadi, walaupun memposisikan sebagai seorang pramuniaga. Satu kebaikan telah aku lakukan, pikirku, yaitu membantu ibu tadi. Aku tidak membayangkan jika waktu itu aku menjawab, “ Saya bukan pelayan Bu..”, mungkin ibu tadi akan merasa salah tingkah bersalah atau bahkan malu. Ternyata jawabanku bisa mencegah ibu tadi dari perasaan bersalah tadi dan aku berfikir benar juga nasehat istriku tadi.

Ooo, ternyata peristiwa tadi bukan yang terakhir. Setelah kami selesai belanja dan istri sedang antri di kasir, aku mencba mencari udara di luar, tepatnya di depan supermarket. Aku dikejutkan oleh seseorang yang memanggil..” Mas.. tolong didorongkan troli ya” Ternyata ada seorang yang sedang mendorong troli dan dia ingin membuka bagasi mobilnya terlebih dahulu. Spontan aku respon dengan mendorongkan troli tadi. Tapi orang yang satu ini lain, dia tidak ucapkan sepatah katapun setelah troli tersebut aku dorongkan. Sekali lagi aku berpikir, mungkin karena kaos yang aku pakai ini, dia mengira sebagai petugas toko dan sudah menjadi tugasku.

Aku berfikir, ternyata kebaikan bisa dilakukan dimana saja dan dalam kondisi apapun. Dengan ‘berseragam pramuniaga’ aku bisa membuat orang terbantu, supermarket juga terbantu citra pelayanannya, dan yang jelas menjaga orang lain dari perasaan bersalah. Aku cuma berharap, harapan istriku tadi semoga benar, dan apapun yang telah aku lakukan, semoga tetap ada rasa ikhlas di hatiku.

Namun setelah itu aku kayaknya perlu berpikir lagi untuk memakai kaos tersebut apabila bepergian ke luar rumah.


pengalaman di Super Indo Jalan Solo Yogyakarta ,4 September 2010