Sebuah hadits
masyhur riwayat Imam Muslim mengatakan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih
dicintai Allah dibandingkan dengan mukmin yang lemah. Tidak diperdebatkan bahwa
kuat dalam haidts ini adalah berkaitan dengan fisik. Rabu, 18 Oktober 2017
ANTARA SEHAT DAN KUAT
Sebuah hadits
masyhur riwayat Imam Muslim mengatakan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih
dicintai Allah dibandingkan dengan mukmin yang lemah. Tidak diperdebatkan bahwa
kuat dalam haidts ini adalah berkaitan dengan fisik. Kamis, 14 Januari 2016
UNTUK APA MEREKA LAKUKAN ITU
Saya mempunyai rutinitas jogging tiap
hari Selasa, Rabu dan Jumat pagi di sekitar
Monas yang kebetulan dekat dengan kantor. Ada beberapa aktivitas orang yang
sama yang teramati.Selasa, 10 Mei 2011
Jadikan Kekurangan sebagai Kelebihan..!
Jumat, 15 April 2011
Ulat Bulu dan Dede Yusuf
Kamis, 07 April 2011
Antara Korupsi, Malinda Dee dan Malu
Jumat, 11 Maret 2011
Tertawa itu Ternyata Menyehatkan
tulisanku, 10-03-2011, 07.00 WIB
Kamis, 17 Februari 2011
Catatan dari Perpanjangan SIM
Beberapa hari sebelumnya, saya sudah coba mempelajari UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terutama yang terkait dengan SIM. Ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan:
- Untuk memperoleh SIM (baru) harus memenuh persyaratan usia, administratif, kesehatan, dan lulus ujian (Pasal 81);
- Masa berlakunya SIM adalah 5 tahun dan dapat diperpanjang kembali (Pasal 85 ayat 2), namun tata cara perpanjangan SIM tidak diatur dalam UU tersebut.
- Pada Pasal 88 disebutkan ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara, persyaratan, pengujian, dan penerbitan Surat Izin Mengemudi diatur dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, namun setelah saya coba tanya Pakdhe Google ternyata saya tidak menemukan Perkap yang mengatur hal tersebut.
Karena permohonan saya adalah perpanjangan SIM maka saya pun berasumsi bahwa syarat yang harus dipenuhi adalah cukup administratif dan kesehatan saja, karena tentunya syarat usia dan lulus ujian sudah terpenuhi pada waktu kali pertama mendapatkan SIM baru.
Menurut Pasal 81 ayat (3) syarat administratif meliputi identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk, pengisian formulir permohonan; dan rumusan sidik jari. Sedangkan menurut Pasal 81 ayat (4) syarat kesehatan meliputi sehat jasmani dengan surat keterangan dari dokter dan sehat rohani dengan surat lulus tes psikologi. Satu hal yang agak mendapat perhatian dari saya adalah adanya keharusan surat sehat rohani dengan surat lulus psikologi. Surat ini cukup susah dapatnya dan mahal, pikirku.
Karena waktu dan uang sangat berharga bagi saya, maka saya minta informasi dari seorang teman yang kerjanya di Polres untuk memastikan persyaratan perpanjangan SIM C. Tapi ternyata syaratnya cukup foto kopi KTP, foto kopi SIM lama dan surat keterangan sehat dari dokter. Dan benar, begitu sampai di tempat pelayanan SIM terpampang tulisan syarat perpanjangan SIM sama seperti apa yang disampaikan oleh teman saya tadi. Dan saya pun sudah mempersiapkan diri untuk mempersingkat waktu, antara lain dengan surat keterangan sehat dari dokter Puskesmas Mlati II.
Ketika sudah cukup lama mengantri saya pun dipanggil (lama antrenya adalah saat harus membayar biaya di loket BRI). Namun apa yang terjadi, surat keterangan dokter tadi ditolak dan harus menggantikannya dengan surat keterangan dokter yang ada klinik depan kantor Polres Sleman tersebut. Saya coba memberikan alasan, surat keterangan dokter yang diminta dalam persyaratan itu tidak dijelaskan harus dari mana, dan UU Nomor 22 tahun 2009 pun tidak mengaturnya, jadi kalau yang saya lampirkan adalah SK Sehat dari dokter Puskesmas menurut pendapat saya sudah cukup kuat (karena dokter plat merah). Namun alasan saya tetap tidak diterima dan sanggahan yang diberikan yang tidak membuat saya puas (harus dari dokter yang ditunjuk...mana ada kata-kata tersebut..baik di UU ataupun di papan pengumumunan Polres tidak ada).
Dengan berat hati saya pun mengalah ke klinik yang ditunjuk. Ternyata sebuah klinik kecil dan sudah antri belasan orang. Ada 2 orang petugas (petugas tensimeter dan penulis). Begitu saya datang kemudian diukur tekanan darahnya, kemudian dipanggil dan dapatlah surat keterangan dokter tersebut dengan membayar Rp. 20.000,-. Begitu saya baca ternyata banyak informasi yang ada dalam surat keterangan tersebut yaitu tekanan darah, tinggi dan berat badan, fungsi anggota tubuh, hasil periksa rabun mata, jarak pandang baca dan kesehatan secara umum, yang semua ditulis normal, padahal saya sama sekali tidak diperiksa hal-hal tersebut di atas. Kalau mau jujur, waktu saya mendapatkan SK Sehat dari dokter puskesmas saya malah benar-benar diperiksa oleh dokter, baik tekanan darah, tinggi dan berat badan, fungsi anggota tubuh, rabun mata, jarak pandang baca dan kesehatan secara umum, dan saya hanya bayar Rp. 3.000,-
Akhirnya saya harus kembali antri lagi dan baru jam 11.50 semua proses selesai, meleset jauh dari waktu yang sebelumnya sudah saya perhitungkan.
Yang masih menjadi pertanyaan saya adalah:
- Apakah SK Sehat dari dokter tersebut harus melalui dokter yang ditunjuk oleh pihak Polres, padahal tidak ada penjelasan harus dari dokter tertentu? Apakah SK Sehat dari dokter pemerintah tidak memenuhi syarat, padahal benar-benar dilakukan pemeriksaan;
- Seandainya menggunakan dokter yang ditunjuk tersebut, kenapa pemeriksaan yang dilakukan hanya formalitas saja? Persyaratan sehat dalam memperoleh ijin mengemudi harusnya menjadi perhatian karena pengguna SIM mempunyai pengaruh terhadap keselamatan dia sendiri dan pengguna jalan lainnya.
Kita tahu bahawa sekarang sudah dilakukan reformasi di tubuh Polri dengan adanya remunerasi. Dan kita tahu bahwa peningkatan pelayanan memang sudah dirasakan masyarakat, salah satunya pelayananan SIM. Namun harusnya perlu lebih diperluas dan tidak boleh setengah-setengah. Harus ada ketegasan dalam prosedur pemberian pelayanan, dan harus dihilangkan kesan mengada-ada.
Terima kasih Pak Polisi, semoga ke depan semakin baik.
tulisanku, 17-02-2011, 05.40 WIB
Jumat, 04 Februari 2011
Ubanku Sayang.....

Namun, apapun komentar orang, temen, dan siapa pun juga, saya tetap menjadi orang yang nyaman dengan anugerah yang terlalu awal diberikan oleh Allah ini, sesuai dengan prinsip saya “dinikmati saja”. Kenapa saya bisa menikmati ? Ada beberapa alasan :
- Uban tidak tidak akan mengurangi kenikmatan dalam mejalani kehidupan ini. Uban tidak akan menjadikan kita merasa ada yang kurang dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak seperti orang yang mungkin karena sesuatu hal kemudian kehilangan salah satu panca inderanya atau anggota badannya, uban sama sekali tidak berpengaruh terhadap keseharian kita;
- Uban akan mengingatkan kita, bahwa kita sudah semakin bertambah umurnya. Sudah tiba saatnya untuk mengevaluasi pribadi kita, dan mengakselerasi sesuatu yang dirasa kurang di sisa umur kita. Pada dasarnya uban akan membuat kita tidak “kemaki” lagi karena usia semakin bertambah.
- Uban memberikan keistimewaan pada diri saya.
Artikel dalam detikhot yang dikutip dari Giulia Simolo dari Askmen, uban adalah salah kekurangan laki-laki yang justru dianggap menjadi sebuah daya tarik oleh para wanita, karena menjadi lambang kematangan dan kedewasaan bagi seorang pria. Jadi uban bukanlah sebuah aib, tapi sebuah kebanggaan.
Namun walaupun saya merasa nyaman dengan uban saya, namun banyak masukkan dari teman dan kerabat untuk mengurangi kecepatan bertambahnya uban pada usia muda, dikarenakan warna putih uban tidak dapat diubah menjadi hitam lagi. Saran yang saya dapatkan adalah dengan melakukan olahraga yang cukup dan dari sisi makanan, dianjurkan untuk mengonsumsi sumber pangan yang berkhasiat menguatkan ginjal dan paru-paru. Untuk pemakaian minyak rambut alami yang dibuat dari minyak wijen, kemiri, atau cem-ceman daun mangkokan serta daun dan bunga sepatu juga sangat baik untuk memperlambat uban.
Kamis, 27 Januari 2011
Menulis Itu (tidak) Sulit..?
Selasa, 26 Oktober 2010
Jakarta oh..Jakarta
- Foke memang hanyalah seorang akademisi, yang hanya menguasai konsep-konsep secara teoritis yang sifatnya ilmiah tanpa bisa menerjemahkan kepada program kerja yang lebih kongkrit pada level kebijakan; atau
- Karena Foke, pada waktu naik menjadi pimpinan didukung oleh hampir semua kekuatan politik di Jakarta kecuali PKS (yang waktu itu mengusung Adang-Dani) sehingga terkesan kebijakannya masih dipengaruhi oleh berbagai kepentingan sehingga semuanya tidak dilaksanakan secara maksmimal untuk menyelesaikan masalah Jakarta;
- Foke memang tidak berani dan masih takut atau hati-hati;
- Dia harus mampu mengaplikasikan konsep-konsep teori yang dimiliki pada level kebijakan yang lebih aplikatif;
- Dia harus ‘gila’. Gila di sini artinya dia harus mampu membuat kebijakan-kebijakan yang luar biasa dan cenderung dikatakan gila , karena permasalahan Jakarta sudah bukan merupakan masalah yang biasa lagi, tapi sudah gila/luar biasa. Kebijakan-kebijakan tersebut mungkin tidak populis karena tentunya banyak kepentingan yang akan terlindas. Sehingga untuk membuat kebijakan yang gila, dia harus bisa mengesampingkan semua kepentingan yang ada disekitarnya yang bisa mengganggu. Bahkan kata Tulus Abadi dari YLKI, diperlukan suatu kebijakan yang sangat luar biasa (ekstrimnya) untuk melawan perilaku warga Jakarta yang tingkahnya semakin primitif saja.
Senin, 06 September 2010
Kaosku Ternyata Seragam Pramuniaga

Beberapa hari yang lalu kami sekeluarga berbelanja di sebuah supermarket di Jalan Solo. Waktu akan berangkat biasanya aku pake kaos ala kadarnya, tapi istri aku bilang, “..Abi mbok pake kaos yang rada ‘wangun’ lah..!”, (Abi adalah panggilan anak-anakku sebagai pengganti kata Ayah) dan apa kata istri aku turuti, menggantinya dengan kaos yang dibelikan istriku beberapa waktu yang lalu.
Ketika kami sampai di supermarket tersebut, kami langsung berkeliling mencari kebutuhan ramadhan dan lebaran yang sebentar lagi. Kalau di supermarket, biasanya aku selalu memisahkan diri dari istri dan anak-anak. Beberapa saat kemudian ketika aku melihat-lihat barang yang dipajang di toko tersebut, tiba-tiba ada seorang laki-laki 50 tahunan yang menanyakan sesuatu ke aku, “ Mas, kalau parfum mobil ada disebelah mana ya?” Aku agak kaget, dan spontan aku jawab “ Aduuh, saya ndak tahu Pak.” Dan kemudian aku ngeloyor pergi dan berpikir ‘memangnya aku pelayanan toko’. Beberapa saat kemudian aku baru sadar kalau kaos yang aku pakai mempunyai motif yang sama dengan kaos yang dipakai oleh pelayan supermarket tersebut. Pantesan orang tadi tanya ke aku. Kemudian timbullah perasaan hati ndak enak juga, setelah tahu ternyata kaos yang aku pakai sama dengan seragam pramuniaga supermarket tersebut.
Kemudian aku cari istri dan anak-anak yang sedang memilih barang yang akan dibeli dan aku ceritakan pangalaman tadi. Istriku hanya tertawa dan bilang, “ Harusnya tadi jangan bilang ndak tahu, kalau memang tahu tunjukkan saja, kasihan kan kesannya jadi pramuniaga supermarket tidak memberikan pelayanan yang baik karena tahunya Abi kan pelayan toko..” Dalam hatiku, benar juga kata istriku tadi, tapi..tetap males juga dan timbul perasaaan yang tidak nyaman.
Ternyata kejadian tadi belum berakhir, baru beberapa menit, ada lagi seorang ibu yang tanya kepada aku, “ Mas..kalau minyak goreng di sebelah mana ya?”. Spontan saran istriku aku laksanakan karena kebetulan kau tahu lokasinya, “ Di pojok sebelah kanan bu, dekat buah-buahan.” Kemudian ibu tadi ngomong, “terima kasih ya Mas”.
Satu kata yang tulus keluar dari mulut ibu tadi ‘terima kasih’. Aku jadi berfikir ternyata apa yang aku lakukan tadi sangat membantu ibu tadi, walaupun memposisikan sebagai seorang pramuniaga. Satu kebaikan telah aku lakukan, pikirku, yaitu membantu ibu tadi. Aku tidak membayangkan jika waktu itu aku menjawab, “ Saya bukan pelayan Bu..”, mungkin ibu tadi akan merasa salah tingkah bersalah atau bahkan malu. Ternyata jawabanku bisa mencegah ibu tadi dari perasaan bersalah tadi dan aku berfikir benar juga nasehat istriku tadi.
Ooo, ternyata peristiwa tadi bukan yang terakhir. Setelah kami selesai belanja dan istri sedang antri di kasir, aku mencba mencari udara di luar, tepatnya di depan supermarket. Aku dikejutkan oleh seseorang yang memanggil..” Mas.. tolong didorongkan troli ya” Ternyata ada seorang yang sedang mendorong troli dan dia ingin membuka bagasi mobilnya terlebih dahulu. Spontan aku respon dengan mendorongkan troli tadi. Tapi orang yang satu ini lain, dia tidak ucapkan sepatah katapun setelah troli tersebut aku dorongkan. Sekali lagi aku berpikir, mungkin karena kaos yang aku pakai ini, dia mengira sebagai petugas toko dan sudah menjadi tugasku.
Aku berfikir, ternyata kebaikan bisa dilakukan dimana saja dan dalam kondisi apapun. Dengan ‘berseragam pramuniaga’ aku bisa membuat orang terbantu, supermarket juga terbantu citra pelayanannya, dan yang jelas menjaga orang lain dari perasaan bersalah. Aku cuma berharap, harapan istriku tadi semoga benar, dan apapun yang telah aku lakukan, semoga tetap ada rasa ikhlas di hatiku.
Namun setelah itu aku kayaknya perlu berpikir lagi untuk memakai kaos tersebut apabila bepergian ke luar rumah.
pengalaman di Super Indo Jalan Solo Yogyakarta ,4 September 2010