Selasa, 08 Februari 2011

Mudah Mengisi SPT Tahunan PPh Orang Pribadi



Saat ini sudah masuk di bulan Februari 2011. Sebentar lagi adalah bulan Maret 2011. Salah satu kesibukkan Wajib Pajak Orang Pribadi (OP) adalah mempersiapkan untuk pengisian SPT Tahunan PPh Orang Pribadi tahun 2010 bagi kita yang sudah mempunyai NPWP, tentu saja NPWP orang pribadi. Batas waktu penyampaian SPT PPh OP tahun 2010 adalah tanggal 31 Maret 2011. Pada tanggal tersebut, SPT sudah harus disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat WP terdaftar.

Bagaimaana cara mengisi SPT Tahunan PPh OP? Menurut Kantor Pelayanan Pajak, pengisian SPT tersebut sebenarnya cukup mudah. Tapi apakah betul mudah. Sudah beberapa kali, saya mendapatkan pertanyaan tentang bagaiamana cara mengisi SPT dan SPT mana yang harus saya pakai. Bahkan dulu pernah diberikan kesempatan untuk membagi ilmu tata cara pengisian SPT Tahunan untuk karyawan dan dosen di sebuah perguruan tinggi, tapi kebanyakan mereka beranggapan mengisi SPT itu sulit. Banyak juga tetangga yang menanyakan yang mana yang harus diisi, karena ternyata mereka mendapatkan beberapa jenis formulir SPT.


Melalui tulisan ini saya ingin membagi “ilmu” tentang pengisian SPT Tahunan.


SPT Tahunan PPh OP ada 3 jenis yaitu Bentuk Formulir 1770SS, Bentuk Formulir 1770S dan Bentuk Formulir 1770. Setiap WP OP harus mengisi salah satu dari ketiga bentuk SPT tersebut . Kemudian sebagai WP OP kita harus mengisi formulir yang mana?

Bentuk Formulir 1770 diperuntukkan bagi Wajib Pajak yang mempunyai penghasilan:
  • dari usaha/pekerjaan bebas yang menyelenggarakan pembukuan atau Norma Penghitungan Penghasilan Neto;
  • dari satu atau lebih pemberi kerja
  • penghasilan lain

Bentuk Formulir 1770S diperuntukkan bagi Wajib Pajak yang mempunyai penghasilan

  • dari satu atau lebih pemberi kerja;
  • dari dalam negeri lainnya; dan/atau
  • yang dikenakan Pajak Penghasilan final dan/atau bersifat final,
Bentuk Formulir 1770 SS adalah bagi Wajib Pajak:
  • yang mempunyai penghasilan hanya dari satu pemberi kerja dengan jumlah penghasilan bruto dari pekerjaan tidak lebih dari Rp60.000.000,00 setahun dan
  • tidak mempunyai penghasilan lain kecuali penghasilan berupa bunga bank dan/atau bunga koperasi.

Mungkin lebih mudahnya adalah sebagai mana saya buat bagan berikut ini:



Cukup mudah bukan menentukan jenis formulir mana yang akan kita pakai dalam menyampaikan SPT Tahunan PPh OP.


Nah kalau tip-nya supaya mudah dalam pengisisannya adalah sebagai berikut :


Untuk SPT Formulir 1770 SS :

  1. Siapkan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 dari pemberi kerja (form. 1721-A1 atau 1721-A2
  2. Mulailah mengisi SPT Tahunan sesuai data Anda.
  3. Sajikan harta dan kewajiban sesuai kenyataan yang ada untuk menghindari permasalahan di kemudian hari (buat kertas kerja tersendiri).

Untuk SPT Formulir 1770 S :

  1. Siapkan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 dari pemberi kerja (form. 1721-A1 atau 1721-A2), bila Anda seorang pegawai.
  2. Siapkan bukti pemotongan pajak yang dilakukan pihak lain berkaitan dengan penghasilan yang pernah Anda diterima seperti Bukti Pemotongan PPh Pasal 23, Bukti Pemotongan Hadiah Undian, dll. apabila ada.
  3. Siapkan bukti pembayaran pajak yang dibayar sendiri (Surat Setoran Pajak atau Tanda Bukti Fiskal Luar Negeri), apabila ada.
  4. Siapkan bukti pembayaran zakat atas penghasilan kepada badan/lembaga amil zakat yang resmi/disahkan pemerintah, apabila ada.
  5. Buatlah rekapitulasi penghasilan selama setahun, baik yang sudah dipotong pajaknya oleh pihak lain atau yang belum.
  6. Mulailah mengisi SPT Tahunan setelah data umumnya terisi.
  7. Pengisian dimulai dari lampiran 1770S-I yang menyajikan penghasilan neto dari pekerjaan dan sumber penghasilan lainnya. Pergunakan data bukti pemotongan dari pihak lain untuk mengisinya.
  8. Isikan juga apabila Anda memiliki penghasilan yang belum dilakukan pemotongan oleh pihak lain.
  9. Ikuti petunjuk dalam formulir SPT yang bersangkutan (dalam setiap lembar bagian bawah terdapat petunjuk yang sangat jelas)
  10. Sajikan harta dan kewajiban sesuai kenyataan yang ada untuk menghindari permasalahan di kemudian hari.

Untuk SPT Formulir 1770 :

  1. Siapkan/buat catatan penghasilan bruto atau peredaran usaha setiap hari selama setahun, bila Anda diperkenankan menggunakan PENCATATAN.
  2. Temukan tarif prosentase norma penghitungan penghasilan neto untuk jenis usaha Anda, misal: usaha salon di Yogyakarta ditetapkan tarifnya 28%, hal ini berarti penghasilan neto (laba bersih) usaha salon di Yogyakarta adalah 28% dari peredaran usaha.
  3. Bila menggunakan PEMBUKUAN, siapkan laporan keuangan (Neraca dan Lap. Rugilaba).
  4. Buat perbandingan laporan keuangan dengan tahun yang lalu. Analisis untuk peningkatan/pengurangan yang mencolok.
  5. Buat kertas kerja terlebih dahulu untuk menyesuaikan laporan keuangan versi akuntansi dengan ketentuan perpajakan.
  6. Siapkan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 dari pemberi kerja (form. 1721-A1 atau 1721-A2), bila Anda kebetulan juga seorang pegawai.
  7. Siapkan bukti pemotongan pajak yang dilakukan pihak lain berkaitan dengan penghasilan yang pernah Anda diterima seperti Bukti Pemotongan PPh Pasal 23, Bukti Pemotongan Hadiah Undian, dll., apabila ada.
  8. Siapkan bukti pembayaran pajak yang dibayar sendiri (Surat Setoran Pajak atau Tanda Bukti Fiskal Luar Negeri), apabila ada.
  9. Siapkan bukti pembayaran zakat atas penghasilan kepada badan/lembaga amil zakat yang resmi/disahkan pemerintah, apabila ada.
  10. Buatlah rekapitulasi penghasilan selama setahun, baik yang sudah dipotong pajaknya oleh pihak lain atau yang belum.
  11. Buat juga biaya-biaya yang berkenaan dengan perolehan penghasilan tersebut.
  12. Mulailah mengisi SPT Tahunan setelah data umumnya terisi.
  13. Pengisian dimulai dari lampiran 1770-I yang menyajikan penghitungan penghasilan neto. Isikan data laporan rugilaba pada lampiran 1770-I halaman 1 bila Anda menggunakan PEMBUKUAN. Bila tidak, Anda dapat melanjutkan pada halaman 2.
  14. Pergunakan data bukti pemotongan dari pihak lain untuk mengisi penghasilan yang diperoleh dari luar usaha/pekerjaan bebas.
  15. Isikan juga apabila Anda memiliki penghasilan yang belum dilakukan pemotongan oleh pihak lain.
  16. Ikuti petunjuk dalam formulir SPT yang bersangkutan (dalam setiap lembar bagian bawah terdapat petunjuk yang sangat jelas sumber angka dan ditujukan kemana)
  17. Sajikan harta dan kewajiban sesuai kenyataan yang ada untuk menghindari permasalahan di kemudian hari.

Adapun teknis pengisiannya, tinggal ikuti saja petunjuk pengsisiannya. Anda bisa sekalian minta buku petunjuk pengisian SPT Tahunannya ke Kantor Pelayanan Pajak. Saya yakin kalau kita ikuti buku petunujuknya tersebut kita akan dengan mudah bisa mengisikannya.
Selamat mengisi SPT Tahunan.





tulisanku, 08-01-2011

Ono-ono Wae...(Singkatan Lucu)

Selalu ada yang lucu dan baru. Itulah paling tidak yang saya temukan setiap saya melakukan perjalanan. Pagi tadi di sebuah kendaraan tertulis PERBAKIN (Persatuan Bathuk Kinclong), ada-ada saja orang ini hanya ingin menyindir orang yang sudah semaikin menipis rambutnya. Sebenarnya masih ada lagi istilah yang lain, yaitu MBA (Makin Botak Aja), AGUS (Agak Gundhul Sedikit), GUNAWAN (Gundhul Tapi Menawan) SUKIRNO (Suka Mikir Porno) atau TBC (Tua Bothak Cluthak)


Kemudian saya berpikir untuk mengingat-ingat singkatan-singkatan lucu yang pernah aku temui. Berikut ini daftarnya :
OBLO (Organisasi Bocah Lali Omah) dan IMMI (Ikatan Malem Minggu Ijen) biasa untuk menyindir teman-teman yang biasanya akhir pekan pulang kampung karena sesuatu hal ternyata tidak pulang kampung. Atau yang yang sering ngeluyur JARUM SUPER (Jarang Dirumah Suka Pergi);

Waktu masih sekolah di SD ada kurikulum pembelajaran dengan dengan metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), dan karena tidak efektif diplesetkan jadi Cah Bodho Soyo Akeh, apalagi kalau sudah terkait dengan mata pelajaran MATEMATIKA (Makin Tekun Makin Tidak Karuan) bisa menambah pusing.

Ada juga singkatan gelar (sudah cukup lama adanya singkatan ini) Drs (Di Rumah Saja atau yang agak kasar Dasar Rodo Sinthing), BA (Bakul Angkringan), Letjen (Lewat Jendela) dan SPd (Sarjana Puyeng Ndhase). Ada pula untuk menambah percaya diri biasanya orang yang tinggi badan kurang dari rata-rata, dia menyatakan sebagai PENDEKAR (Pendhek dan Kekar), ada juga yang dengan mencukur rambutnya cepak, ABCD (ABRI Bukan Cepak Doang)

Kalau di Yogya, UGM tentunya universitas yang favorit dan ini menginspirasi untuk universitas-universitas swasta di Yogya yang ada dibuat singkatan-singkatan yang cukup lucu, misalnya:
  • UII (Universitas Indonesia I) plesetan dari Universitas Islam Indonesia
  • UGM (Universitas Godean Mangidul) menunjuk ke Universitas Mercubuana (dulu Universitas Wangsa Manggala) yang memang arahnya dari Godean ke selatan;
  • UMY (Universitas Mana Ya) untuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
  • AKPER sebenarnya Akademi Keperawatan tapi diubah menjadi Akademi Peringas Peringis;
  • AKPRIND (Akademi Perindustrian..kalau tidak salah) diplesetkan menjadi Akademi Prindang Prinding;

Terkait dengan masa kuliah ada juga singkatan-singkatan nakal misalnya STMJ (Semester Tujuh Masih Jomblo) untuk menyindir yang belum punya pacar atau CBSA (Cinta Bersemi Sesama Aktifis).

Singkatan juga terkadang plesetan dari nama orang misalnya Santi Utomo (Sampe Nanti See You Tomorrow), Diana (Diam-diam Mempesona), Ramlan (Ramai Lancar), Rojali (Rokok Jarang Beli), Jamaludin (Jalan malam udara dingin) atau Sudirman (Suka Dirumah Teman)

Ada juga singkatan bahasa jawa yang diajarkan waktu kecil oleh ayahku (kata ayahku itu berasal dari kakekku juga jadi semacam plesetan boso kumpeni/Belanda) :
Karlondheren (Mbakar Telo Semendhe Keren)
Burnaskopen (Bubur Panas Kokopen)
Goingan Jimolatibeh (Nggogohi Jangan Driji Limo Dilati Kabeh)
Nerkongsis Seroten (maaf...Pener B*k*ng Ngisis Serotan)
Soerdheg Wheren (Susur Neng Nggedheg Ewer-eweren)
Idhus Talen (maaf lagi T*i Wedhus Untalen)
Lithel Bohimut (maaf lagi S*l*t Gatel Dileboni Semut)
Mbulan Kerno (Tumbu Neng Ndalan Singkirno)

Sebenarnya masih ada lagi tapi sudah menjurus saru dan tidak pantas misalnya Sumuk Ra Keringeten ada juga bahasa Perancis, misalnya Mahsong Kehkuse (Omah Kosong Okeh Tikuse), ada lagi asal bikin singkatan Jipat Surlat Kenthol (Kaji Mlumpat Susure Mencelat Tekene Kecanthol), Suru blegitu (Asu Turu Diblegi Watu), AMD (ABRI Mung Ndhase),

Itulah beberapa singkatan yang cukup lucu yang pernah saya temukan. Tentunya mohon maaf apabila menyinggung nama orang atau lembaga, semuanya hanyalah untuk goyunan saja, dengan harapans semoga bisa menjadi tombo stress dan menghibur...!


tulisanku, 08-01-2011


Jumat, 04 Februari 2011

Ubanku Sayang.....




Hari Kamis, 3 Februari 2011, saya menghadiri acara yang melibatkan alumni tempat kuliah sayan dulu, STAN Prodip Keuangan. Acara tersebut memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat bertemu dengan temen-temen lama (reuni tidak sengaja..ceritanya). Namun ada satu pertanyaan yang selalu muncul ketika satu demi satu temen lama saya tegur, “Nang, rambutmu kok sudah banyak ubannya?”. Tidak hanya satu bahkan sudah saya hitung sampai empat kali mendapatkan pertanyaan seperti itu.


Sebenarnya tidak hanya pas acara tersebut saja saya mendapatkan pertanyaan atau komentar tentang uban yang mulai banyak di rambut saya. Bahkan ketika ketemu temen lama, saudara jauh, ataupun keluarga sendiri, saya mendapatkan pertanyaan seperti itu. Biasanya saya cuma tersenyum, kadang juga saya jawab dengan berkelakar (ketika yang menanyakana da teman yang kebetulan sudah lulus MBA-Makin Botak Aja), “sebenarnya dulu aku ditanya malaikat karena usiaku sudah mulai tua, mau botak kepalanya atau mau tumbuh ubannya, maka aku jawab ‘aku mau tumbuh uban saja’... he he 2...”. Uban selalu identik dengan tua. Usia saya memang belum tua (kata saya sendiri...), baru 36 tahun, namun memang rambutku tumbuh begitu banyak, sehingga kata orang belum selayaknya tumbuh uban di kepala. Dari beberapa artikel yang saya baca, tumbuhnya uban pada usia muda memang bukan merupakan suatu hal yang wajar. Diperkirakan bahawa hal tersebut disebabkan oleh hal-hal diluar karena faktor usia yang semakin menua. Ada yang mengatakan bahwa uban pada usia muda disebabkan oleh kekurangan unsur vitamin dan gisi, faktor gen atau keturunan, faktor stres, kelainan metabolisme atau mungkin pemakain jenis sampo yang tidak cocok. Semua penyebab tersebut sudah dianalisis para ahli kesehatan rambut dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah tentunya.


Apa pun penyebabnya, namun saya berpendapat bahwa uban yang tumbuh di kepala saya bukanlah karena stres, karena selama ini saya merasa baik-baik saja, tidak ada tekanan dan cenderung mengalami kehidupan yang selalu menyenangkan. Karena prinsip saya dalam kehidupan ini adalah “kalau tidak dinikmati, sayang waktu dalam kehidupan kita”. Kalau boleh berpendapat, kemungkinan besar adalah faktor gen atau keturuan (ayah saya juga sudah beruban dari saat usia muda) atau bisa saja kurang gisi (di waktu kecil makan telur saja dibagi dua atau bahkan empat, makan tempe diiris miring jadi dua juga). Wallahu a’lam, hanya Allah yang tahu.
Namun, apapun komentar orang, temen, dan siapa pun juga, saya tetap menjadi orang yang nyaman dengan anugerah yang terlalu awal diberikan oleh Allah ini, sesuai dengan prinsip saya “dinikmati saja”. Kenapa saya bisa menikmati ? Ada beberapa alasan :

  1. Uban tidak tidak akan mengurangi kenikmatan dalam mejalani kehidupan ini. Uban tidak akan menjadikan kita merasa ada yang kurang dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak seperti orang yang mungkin karena sesuatu hal kemudian kehilangan salah satu panca inderanya atau anggota badannya, uban sama sekali tidak berpengaruh terhadap keseharian kita;
  2. Uban akan mengingatkan kita, bahwa kita sudah semakin bertambah umurnya. Sudah tiba saatnya untuk mengevaluasi pribadi kita, dan mengakselerasi sesuatu yang dirasa kurang di sisa umur kita. Pada dasarnya uban akan membuat kita tidak “kemaki” lagi karena usia semakin bertambah.
  3. Uban memberikan keistimewaan pada diri saya.
    Artikel dalam detikhot yang dikutip dari Giulia Simolo dari Askmen, uban adalah salah kekurangan laki-laki yang justru dianggap menjadi sebuah daya tarik oleh para wanita, karena menjadi lambang kematangan dan kedewasaan bagi seorang pria. Jadi uban bukanlah sebuah aib, tapi sebuah kebanggaan.

Namun walaupun saya merasa nyaman dengan uban saya, namun banyak masukkan dari teman dan kerabat untuk mengurangi kecepatan bertambahnya uban pada usia muda, dikarenakan warna putih uban tidak dapat diubah menjadi hitam lagi. Saran yang saya dapatkan adalah dengan melakukan olahraga yang cukup dan dari sisi makanan, dianjurkan untuk mengonsumsi sumber pangan yang berkhasiat menguatkan ginjal dan paru-paru. Untuk pemakaian minyak rambut alami yang dibuat dari minyak wijen, kemiri, atau cem-ceman daun mangkokan serta daun dan bunga sepatu juga sangat baik untuk memperlambat uban.







tulisanku, 4 Januari 2011




Selasa, 01 Februari 2011

Begitulah..Mendidik Anak-Anak..!

Setiap pagi biasanya komputer kubuka jam 07.15. Ini hari Jumat, dan saya datang kantor agak pagi, dan mungkin juga menjadi hari krida bagi pegawai-pegawai di lingkungan birokrasi, ada senam pagi kemudian dilanjutkan makan bubur kacang ijo. Walaupun kantorku sudah tidak ada senam pagi, (mungkin keterbatasan tempat), namun makan bubur kacang ijo masih tetap jalan.
Sambil menikmati kacang ijo, kubuka komputerku, ternyata istri sudah on line juga. Setelah haha hihi, maklum ketemu mukanya cuma tiap sabtu dan ahad, istri curhat tentang anak-anak. Najwa, katanya, sekarang gampang sekali cengeng. Tadi mau berangkat sekolah langsung nangis hanya karena dibilangi kakaknya, “cepetan dik, sudah siang!”. Memang beberapa hhari terakhir ini, hanya karena masalah kecil saja, anak saya tersebut gampang nangis dan terus ngambek. Kadang-kadang hanya kesenggol sedikit oleh kakaknya, laporannya disakiti oleh kakaknya, kemudian menangis. Belum lagi adiknya Tiara, sekarang juga manja banget, dan tidak mau kalah dengan dua kakaknya. Intinya istri saya merasa sangat kerepotan dan kadang capek melihat hal seperti itu. Tiada kata yang bisa kuucapkan selain,” ya sudah dik, bagaimana lagi namanya anak-anak”, karena memang ‘harus pegimana lagi......’.
Memang anakku yang kedua ini rada spesial. Najwa namanya, umur sudah 7,5 tahun, Ia begitu cengengnya, kadag-kadang hanya masalah kecil kemudian langsung “sedheprok” dilantai dan nangis, kadang hanya diusili kakaknya langsung menangis, lupa mengerjakan PR langsung menangis. Anakku yang pertama, Dafa, 11 tahun, lain lagi, kalau dengan adiknya (Najwa) begitu tidak sukanya, sebegitunya sampai-sampai mau disayang oleh adiknya dia marah-marah, kalau marah minta ampun pelampiasannya. Nah begitulah, anak-anak menurutku. Kadang lebih banyak membuat kita menjadi kesal, capek, dan merasa kurang dihargai oleh mereka.
Bagaimanapun juga, anak-anak adalah amanah dari Allah. Semua penerima amanah pasti akan dimintai pertangggungjawaban bagaimana amanah itu ditunaikan dengan baik.Agar menjadi pengemban amanah yang baik tentunya harus bisa mengambil hikmah dari pengalaman kita. Ada beberapa hal yang aku dapatkan setelah saya dikaruniai anak-anak tersebut.
  1. Setiap anak mempunyai karakteristik sendiri;
    Saya pernah mendampingi anak saya belajar tentang ‘tambah dan selisih’, kalau tidak salah ada kasus seperti ini “Ada ikan berada pada kedalam 50 cm dibawah permukaan laut, kemudian dia meloncat 30 cm di atas permukaan laut untuk menangkap mangsanya, berapa jumlah jarak yang dilewati oleh ikan tersebut?” Saya membuat contoh persamaan matematika, bahkan sampai 3 atau 4 contoh, namun anak saya belum juga bisa menyelesaikan kasus tersebut. Akhirnya saya buat ilustrasi dengan gerakan (seolah-olah ikan), barulah dia memahami.
    Seperti kata-kata hikmah, setiap anak akan membawa rejeki sendiri-sendiri, begitu pula karakteristik. Kesalahan dalam memperlakukan anak-anak adalah saat memperlakukan mereka dengan sangkaan bahwa ‘setiap anak sama saja’. Jangan pernah berharap bahwa anak kita mempunyai watak yang sama. Itu salah, anak membawa watak dan karakteristik sendiri. Jadi jangan mendidik anak hanya dengan berpedoman menurut usia mereka. Wah... kayak seorang ahli anak-anak saja. Namun hal tersebut sudah saya alami, bahwa harus memahami dulu karakter, sehingga kita akan tepat mendidik anak menurut karakternya.
  2. Setiap anak akan mencari sosok yang dijadikan contoh;
    Saya masih ingat, apabila saya mengamati barang-barang di supermarket, saya selalu bersedekap atau “mbondo tangan”, ee...anak saya selalu ikut-ikutan seperti itu dibelakang saya. Ini satu lagi, saya coba mengajari anak-anak menggosok gigi yang benar, tapi prakteknya ternyata tidak benar, barulah setelah saya bareng-bareng menggosok gigi bersama mereka, mereka mulai benar cara gosok giginya.
    Keteladanan dan contoh adalah hal yang mutlak dalam mendidik anak-anak. Artinya bahwa anak-anak akan mengambil sikap kita sebagai acuan tindakan mereka, bahkan terhadap tingkah laku kita yang tidak kita sadari atau sepele. Oleh karena itu kehati-hatian dalam bersikap, hati-hati dalam ucapan dan perbutana adalah mutlak harus dilakukan oleh orang tua.
  3. Berpikirlah sebelum kita melakukan suatu tindakan kepada anak-anak kita;
    Suatu kali, ketika saya diburu-buru oleh suatu pekerjaan, saya coba agak keras ngomong ke anak saya, “minggir dulu mas, nanti pekerjaan ini ndak selesai!” sambil saya dorong sedikit anak tersebut. Setelah itu apa yang terjadi, anak saya tersebut ngambek dan meninggalkan ruangan dengan wajah marah. Atau pernahkah kita sering melihat wajah anak kita ketika sedang tidur dan coba kita bayangkan ketika kita memarahinya. Pasti ada perasaan menyesal dan kasihan. Sejenak berpikir sebelum melakukan suatu hal kepada anak kita adalah suatu hal yang sangat bijaksana. Jangan sampai kita mneyesal setelahnya ataupun mungkin malah membuat anak tersebut menjadi menjauh dari kita.
    Kuncinya adalah berfikir sebelum bertindak dan bersabar sebelum menghukum. Kadang keduanya akan terasa sulit masuk ke benak kita ketika yang kita hadapi anak-anak. Namun ketika kita mau berfikfir dan bersabar, dipastikan tidak ada penyesalan pada akhirnya.
  4. Setiap anak akan meminta haknya untuk bermain dengan orang tuanya;
    Setiap pulang ke rumah, setiap Sabtu dan Ahad, pasti ada saja salah satu anak saya minta main. Kadang Dafa ngajak main kelereng, Najwa ngajak main bulu tangkis dan Tiara ngajak main puzzle atau kartu. Suatu hal yang sangat tidak pas dilakukan oleh orang dewasa, bahkan kita cenderung malas untuk mengikutinya. Apalagi kita mempunyai pekerjaan yang lebih penting. Apakah benar seperti itu? Sebenarnya kalau kita mau sempatkan untuk mengikuti ajakan tersebut, akan menjadi jalan kita menjalin hubungan yang lebih erat dengan anak-anak kita. Anak-anak tidak selalu harus bernain dengan anak-anak yang sebaya juga, namun kedekatan dengan orang tua dapat dibentuk melalui pemberian hak bermain bersama mereka.
    Sebuah artikel yang saya baca mengatakan bahwa, pembentukan karakter yang baik oleh orang tua dapat diberikan kepada anak-anaknya dengan masuk ke dalam dunianya.

    Jumat, 28-01-2011

Jumat, 28 Januari 2011

Di Jakarta, Senyum Saja Kok Mahal Ya..?

Sudah 1 tahun lebih saya meninggalkan Yogyakarta, homebase-ku. Dan selama itu saya menjadi anak kos di Jakarta. Rumah kosku sekitar sekitar 30 kamar dan hampir 80% terisi. Desain rumah kos tersebut hampir mirip sebuah asrama dengan 3 lantai dan kamar mandi di luar, setiap 3 kamar kos mendapat 1 jatah kamar mandi. Dengan desain sebuah asrama seperti itu mengharuskan setiap penghuni kos akan selalu “wira wiri” di depan kamar kos lainnya setiap melsayakan aktivitas.
Jelas namanya juga rumah kos, yang tinggal di rumah tersebut adalah orang-orang luar kota, dan berdasarkan “penerawangan” saya, sebagian besar adalah orang pulau Jawa atau mungkin malah “wong nJowo”. Kenapa saya bisa bilang seperti itu, karena diaolog mereka menggunakan bahasa Jawa dan sebagian malah menggunakan motor dengan plat AB, AD, H, L dan ada juga yang R (ndak perlu saya sebutkan dari mana asal kendaraan tersebut). Orang Jawa adalah orang yang terkenal dengan latar belakang budaya Jawa yang luhur, mereka mempunyai unggah ungguh dan budaya ramah. Orang Jawa yang saya kenal adalah orang murah untuk tersenyum yang ramah, murah untuk menegur sapa, walaupun hanya sebatas sungging senyum kecil belaka. Masih ingat kalau setiap pulang kampung, setiap nyampai Sabtu pagi di desa saya, saya harus “ndherek langkung” atau paling tidak senyum ketika lewat di depan rumah tetangga dan mereka pun akan mebalasanya dengan tulus.
Namun yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah budaya tersebut tidak saya temui di kos-kosan saya,rumah kos yang dihuni mayoritas orang Jawa. Salah satu contoh yang saya rasakan adalah ketika saya gosok gigi di wastafel dan ada salah satu penghuni kos mau ambil gayung sabun yang ditaruh ditatakan wastafel depanku, ia pun tidak menegur atau sekedar permisi, tapi langsung ambil. Tetangga kamar sebelah pun yang suatu waktu kunci motornya jatuh dan saya anterkan ke kamarnya, sampai saat ini pun kalau papasan atau ketemu tanpa ada senyuman, dan padangannya tetap “lrus kedepan”. Bahkan ada pula yang tanpa permisi parkir motor di depan kamar saya tanpa permisi sehingga mengganggu akses saya ke kamar.
Gejala apakah ini? Saya terus terang bukan pengamat sosial. Namun nmelihat tersebut saya merasa ini bukanlah suatu hal yang baik namun tidak juga bisa memberikan analisis gejala apakah ini. Yang saya tahu adalah bahwa ini Jakarta, suatu tempat yang konon rasa toleransi dan kekeluargaan sudah tidak ada lagi (atau lebih halusnya menipis). Kota yang sudah lu-lu dan gue-gue.
Namun marilah kita merenung dan kembalikan kepada asal-usul kita, siapa kita ini. Kita adalah bangsa yang mempunyai budaya luhur dengan nilai-nilai etika yang agung. Bahkan kalau dihitung juga mungkin penghuni Jakarta sebagian besar juga orang Jawa (lho kok terus Jakarta....padahal tadi cuma membahas wilayah kos-kosan saya... saya kira tidak salah, hampir semua kos-kosan kayaknya tidak jauh beda juga) Dari orang-orang yang jelas mempunyai adat-istiadat sangat santun dan ramah, tapi kenapa setelah masuk Jakarta menjadi seperti itu.
Alangkah enaknya kalau sesama penghuni kos dan mungkin sesama penghuni Jakarta kembali mengingat budaya luhur asal-usulnya dan tetap dipertahankan dalam keseharian di ibu kota ini. Apakah beratnya sih senyum dan sapa yang mungkin Cuma sedikti saja. Saya membayangkan bagaimana suasana koks-kosan yang penuh kekeluargaan walaupun hanya sekedar senyum dan permisi keluar dari mulur kita. Bhakan kata-kata bijak, senyum adalah sedekah.
Curhat pribadi...27-01-2011

Kamis, 27 Januari 2011

Menulis Itu (tidak) Sulit..?

Sudah lama saya menderita ‘penyakit’ ini. Pengin menjadi bisa menulis, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk menulis. Bahkan blog saya ini hampir 2 bulan lebih saya anggurkan begitu saja. Terkadang saya merasa kecil ketika dibandingkan dengan para penulis begitu mudahnya mereka membuat sebuah novel yang sangat tebal, bisa membuat tulisan ilimiah yang dapat menjadi rujukan atau walaupun hanya sekedar tulisan pendek dalam sebuah artikel majalah atau surat kabar.
Saya terkadang iri ketika membaca sebuah tulisan yang bagus, apakah itu menyentuh, ilmiah ataupun terasa hidup. Suatu ide yang sangat sederhana bisa ditulis dalam suatu uraian yang sangat luar biasa. Suatu cerita sederhana dapat terasa hidup menyentuh para pembacanya. Sebuah peristiwa yang sepele dapat diuraikan bagitu banyak hikmah yang dapat diambilnya. Semua itu tentunya dibuat oleh seorang yang mempunyai kemampuan untuk merangkai kata-kata, mengambil sesuatu yang paling dalam dalam sebuah peristiwa, membuat hidup sebuah momentum. Bahkan saya merasa iri juga ketika ada seorang teman yang begitu mudahnya menuliskan sebuah pengalamannya yang sederhana dalam sebuah blog dengan begitu indahnya.
Terkadang begitu selesai membaca sebuah tulisan atau artikel, muncul keinginan saya untuk bisa menulis seperti halnya penulis tersebut. Keinginan tersebut muncul spontan, namun ketika saya mencoba untuk menulis, terkadang bingung apakah yang harus aku tulis, aku harus mulai dari mana, kalau dimulai dari ini kok kayaknya tidak pas. Ketika mau memulai kok terasa sangat berat, malas sekali, padahal kalau dilihat sepertinya menulis itu mudah. Terkadang perasaan merasa tidak nyaman dengan kalimat-kalimat yang aku tuliskan juga muncul, kok rasanya tidak pas dengan kalimat ini, kurang cocok dengan kalimat itu dan sebagainya.
Terkadang juga ada masalah, ketika saya punya ide dan pengin saya tuangkan dalam suatu tulisan ada saja keinginan untuk menunda penulisan tersebut, ah..nanti sajalah atau tunggu agak “selo” baru nanti aku tulis, namun akhirnya tidak kesampaian juga tulisan tersebut.
Pernah saya mempunyai tekad, pokoknya begitu saya selesai mengalami suatu peristiwa maka harus saya simpan dalam suatu bentuk tulilsan, namun hal tersebut juga kayakany tidak bisa mendorong saya untuk bisa menulis dengan baik. Pernah saya juga mencoba membuka-buka internet, tentang bagaimana menjadi penulis yang baik...namun sekali lagi saya juga belum menemukan bahwa hal itu bisa mendorong saya untuk menjadi penulis.
Yang ada hanyalah bahwa saya masih pengin menjadi seseorang yang bisa dengan gampang menulis, semangat untuk mulai menulis apa saja dan memberi kehidupan dalam tulisan saya, tapi dengan cara apa? Sementara ini memang belum ada, namun pokoknya saya harus mulai coba untuk menulis dan menulis seberapa pun jelek dan tidak berbobotnya tulisan saya.

Kamis, 18 November 2010

Open atau Oven

Parmo adalah pegawai pajak di KPP Pratama Wonosari, sebuah KPP yang berada jauh dari kota Yogyakarta (dapat dikatakan sebagai KPP pelosok). Suatu saat dia disuruh mengikuti apa yang namanya short course perpajakan di Jakarta. Dia amat kaget, karena selama bekerja di kantor pajak, seumur-umur dia hanya bekerja di Wonosari terus dan belum pernah berpindah-pindah apalagi merasakan kota Jakarta (doanya kuat kali).
Singkat cerita, sesampai di Jakarta, sambil menunggu acara yang baru dimulai esok harinya, dia mencoba berjalan-jalan di pusat perkantoran Jalan Jenderal Sudirman untuk mengisi waktu luangnya. Ketika dia berada di depan sebuah bank, berhentilah dia dan melihat ada tulisan open di pintu kaca depan yang berwarna hitam, “weih open segini gedenya” pikir dia. Tak lama kemudian seorang bule nampak mau masuk ke bank tersebut, namun dicegah oleh Parmo, “Maaf mister, jangan masuk open itu, nanti Mister bisa gosong ”. Dengan nampak bingung, si bule tetap memaksakan masuk pintu tadi, dan Parmo berteriak, " Mister....jangan....!” tapi si bule tetap masuk.
Dengan perasaan cemas Parmo menunggu sambil mondar-mandir di luar pintu tadi, dan tak lama kemudia keluarlah seoranga negro (mungkin warga negara Afrika) keluar dari pintu tadi dan langsung dicegat oleh Parmo, “ benar kan Mister, saya kan sudah bilang, jangan masuk, nanti Mister gosong, sekarang terbukti kan Mister jadi gosong.” Tampak si negro bingung mendengar ocehan Parmo tadi.