Kamis, 20 Agustus 2015

MAKNA 70 TAHUN

Sumber gambar : www.google.co.id


Bulan ini, negara kita memperingati hari lahirnya (baca: kemerdekaan) yang ke-70 tahun. Usai 70 tahun bukanlah usia yang muda lagi, bahkan untuk ukuran manusia, usia 70 tahun adalah usia yang sudah terhitung sangat tua. Bahkan sebagian besar manusia tidak dapat merasakan lagi usia 70 tahun, karena Allah telah memanggil ke alam barzah. Dan apabila manusia diberikan usia sampai dengan 70 tahun, maka manusia tinggal menikmati masa-masa tuanya.
Ketika usia menyentuh pada angka 60, saat itulah sebenarnya manusia memasuki masa-masa menikmati. Secara usia, saat itu manusia sudah memasuki masa pensiun. Saatnya manusia menikmati. Apa yang dinikmati, mungkin bisa anak yang sudah ‘mentas’, cucu yang sudah sudah mulai besar, atau investasi yang tinggal menikmati hasilnya saja. Beragam cara untuk bisa menikmati usia di atas 60, misalnya momong cucu, melakukan travelling ke rumah anak-anaknya yang tinggal tersebar di wilayah lain, atau menyalurkan hobby.
Apa yang kita rasakan dengan negera kita. Bulan ini negara kita genap 70 tahun. Namun kita belum merasakan nyaman di dalamnya, merasa terlindungi olehnya, dan merasa bangga menjadi warganya. Pada usia 70 tahun kita masih melihat masyarakat yang susah untuk diajak mengantri, cara berdemokrasi yang masih kekanak-kanakan, nafsu korupsi yang melebih nafsu binatang, rasa dendam antar elit politik yang mengalahkan ‘api dalam sekam’, dan masih banyak lagi bentuk ketidakdewasaan lainnya.
Kita masih melihat carut marut pengelolaan negara yang tidak terstruktur, elit politik yang melakukan manuver tanpa ada santunnya, bentrok antar warga yang bernuansa SARA, ataupun keidakmampuan negara melindungi warga dari rasa takut akan kriminalitas dan bahkan terkahir adalah bentuk ketidakadilan aparat dalam memberikan keistimewaan kepada rombongan motor gede di Yogyakarta.
Coba kita bandingkan dengan negera tetangga sebelah, Singapura (50 tahun) dan Malaysia (43 tahun). Kedua Negara mempunyai usia jauh lebih muda dari Negara kita, namun kita selalu kalah dalam berbagai hal dengan negara tersebut. Misalnya saja Indeks Persepsi Korupsi tahun 2015 milik Transparency International, kita ada di 107 sedangkan Singapura ada di 7 dan Malaysia ada di 50. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita juga jauh tertinggal dengan 2 negara tersebut.
Apa yang seharusnya kita lakukan. Sebenarnya cukuplah kita berkaca kepada negara-negara tetangga kita atau negara-negara yang sudah maju. Bagaimana mereka tumbuh menjadi negara yang sekarang dapat dibanggakan. Bukan hanya karena kita sebagai bangsa dan tinggal di dalamnya kita kemudian menjadi bangga, tetapi karena memang negara kita mempunyai sesuatu yang patut dibanggakan dan dipamerkan di depan negara-negara lain. Kita mempunyai potensi yang bisa dibanggakan, tergantung kita mau atau tidak untuk segera menjadi dewasa dan menjadi negara yang berwibawa dan membanggakan.
Salam Merdeka!

Selasa, 28 Juli 2015

PRINSIP DASAR MENGHITUNG PENGHASILAN NETTO FISKAL

Sumber gambar : www.google.co.id
Beberapa waktu ada seorang teman yang bercerita bahwa di kantornya ada Wajib Pajak (WP) yang sedang diperiksa merasa keberatan atas koreksi fiskal yang telah dilakukan oleh pemeriksa pajak. Pokok permasalahannya adalah ketika WP menghitung penghasilan netto fiskal, WP melakukan penyesuaian fiskal negatif atas suatu biaya (tepatnya deffered cost) yang secara akuntansi  sudah benar pencatatannya, sehingga penghasilan netto fiskal setelah penyesuaian fiskal tersebut menjadi lebih kecil.


Alasan WP adalah dalam industri WP, jumlah biaya tersebut biasanya jumlahnya cukup besar. UU Perpajakan secara jelas mengatur tentang tatacara pembebanan cadangan dalam industri tersebut. Dalam prakteknya, cadangan  dalam industri tersebut jumlah relatif jauh lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang dipermasalahkan oleh WP, sehingga kemudian WP melakukan pembebanan atas deffered cost tadi dengan asumsi  dan perhitungan sesuai dengan jumlah yang relevan menurut WP tanpa mendasarkan pada suatu ketentuan atau aturan yang berlaku.


Secara logika apa yang dilakukan oleh WP cukup masuk akal yaitu melawankan biaya dengan pendapatan yang dihasilkan secara proporsional sesuai dengan jumlah penjualan yang terjadi,seolah-olah memenuhi prinsip cost againsts revenue, yaitu mempertemukan antara biaya dan pendapatan yang relevan untuk mendapatkan net income yang sesungguhnya.


Alasan WP sekilas memang bias diterima, namun untuk mendapatkan penghasilan netto fiskal yang tepat seuai dengan peraturan per-UU-an, kita perlu memahami kembali bagaiamana cara  menghitung penghasilan netto fiskal yang benar untuk mengitung pajak yang terutang.


Pasal 28 UU KUP dan penjelasannya menegaskan bahwa pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem yang lazim dipakai di Indonesia, misalnya berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, kecuali peraturan perundang-undang perpajakan menentukan lain. Ketentuan tersebut dapat diartikan bahwa ketika WP menghitung penghasilan netto fiskal, harus berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan yang lazim berlaku, namun apabila ada ketentuan-ketentuan yang diatur tersendiri atau berbeda oleh peraturan perpajakan, WP harus menghitung kembali sesuai dengan aturan perpajakan tersebut.
 
Dalam hal ini dapat disimpulkan kalau suatu hal terkait dengan pembukuan yang tidak dikecualikan oleh peraturan perpajakan, maka WP harus melakukan perlakuan sesuai Standar Akuntansi Keuangan yang lazim berlaku alias tanpa melakukan penyesuaian fiskal.

Rabu, 18 Januari 2012

KETEGASAN SEORANG PEMIMPIN

Satu karakter kepemimpinan yang diperlukan dalam mengelola keadaan yang tidak normal adalah ketegasan. Ketegasan dalam makna kemampuan untuk merencanakan, menjalankan program, dan mengawasi serta mengevaluasi agar semua program dan kebijakan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, tanpa ada kompromi.
Jika dengan kompromi, berakibat gagalnya tujuan. Ketegasan itu memang lebih mudah tampak dalam struktur organisasi yang bersifat komando (seperti di militer) dengan stakeholder yang relatif homogen atau didukung dengan perangkat-perangkat yang mampu memaksa berbagai pihak untuk sepakat suka atau tidak suka dengan apa yang ditetapkan sang pemimpin.
Dalam struktur yang demikian, pemimpin adalah indentik dengan orang kuat dan cenderung otoriter dan despot. Ketegasan yang lahir dalam kepemimpinan yang sedemikian ini adalah ketegasan yang represif,tidak ada dialog dan proses komunikasi yang egaliter antara pemimpin dan berbagai entitas lainnya. Kepemimpinan yang demikian tentu bukan kepemimpinan yang dikehendaki, kecuali kalau sosok manusia yang menjadi pemimpin itu mengambil istilah Plato adalah sosok philosofer, sosok manusia-malaikat yang mempunyai vested interest tunggal mencurahkan semua kekuatan jiwa, raga, dan karsanya sepenuhnya untuk kepentingan publik.
Padahal, sosok manusia yang demikian ini adalah sesuatu yang lebih menjadi utopia daripada realita.Yang mainstream terjadi adalah apa yang dikemukakan oleh Lord Acton bahwa kekuasaan cenderung kepada perilaku korup, semakin mutlak kekuasaan, maka semakin mutlak kekorupan. Dengan kata lain, kita ingin mengatakan ketegasan pemimpin dalam mileu yang totaliter dan otoriter bukanlah sebuah hal yang istimewa. Ketegasan yang kita nilai istimewa dan bermakna adalah ketegasan yang lahir dalam lingkungan yang demokratis, bahkan cenderung euforia di mana semua entitas ingin berpartisipasi dalam mewarnai pengambilan keputusan secara tidak proporsional.
Ketegasan dalam hal yang sedemikian itulah menjadi ketegasan yang istimewa. Kita katakan istimewa karena; pertama, ketegasan dalam kondisi yang demikian lahir melalui proses internalisasi yang matang tentang sense of scale of prioritydari seorang pemimpim.Dalam lingkup kehidupan yang demokratis dan kental dengan euforia politik, ketegasan dalam pengambilan keputusan biasanya menjadi dilematis.Dilema terjadi antara lain ketika harus mengambil kebijakankebijakan yang bermanfaat bagi banyak orang tetapi berdampak merugikan segelintir orang.
Apalagi kalau kemudian segelintir orang ini mempunyai dukungan sosial-ekonomi-politik yang kuat. Demikian juga akan menjadi dilematis ketika diperlukan mengambil kebijakan yang mendatangkan manfaat mendasar bagi publik, tetapi berorientasi jangka panjang dihadapkan pada kepentingan-kepentingan jangka pendek yang memberikan mudarat besar dalam jangka panjangnya. Seorang pemimpin diuji ketegasannya dalam berbagai tarik-menarik kepentingan yang demikian ini. Ketegasan akan dapat lahir ketika sang pemimpin memiliki pemahaman dan disiplin yang prima tentang skala prioritas yang harus diambil.
Dalam kondisi yang demikian ini, ketegasan seorang pemimpin akan diakui ketika ia berani mengambil kebijakan yang menguntungkan publik secara umum sekalipun dengan konsekuensi merugikan posisi sosial-ekonomi politik pribadi dan kelompoknya atau segelintir vested interest lainnya, atau ia berani mengambil kebijakan yang memberikan manfaat dalam jangka panjang dibanding kebijakan yang populer dalam jangka pendek, tetapi merugikan dalam jangka panjang.
Kedua, ketegasan dalam lingkungan yang penuh dengan euforia menjadi istimewa karena biasanya banyaknya vested interest yang saling tarik-menarik dan saling bertolak belakang. Dalam kondisi yang demikian, ketegasan seorang pemimpin mengambil sikap tertentu yang boleh jadi tidak disukai oleh banyak vested interest hanya bisa terjadi ketika pemimpin tersebut telah memiliki sifat seorang negarawan. Seorang negarawan berani mengambil keputusan- keputuan mendasar yang akan membawa maslahat bagi bangsa dan negaranya walaupun kebijakan tersebut akan mendapat tantangan dari banyak vested interest yang dirugikan dari kebijakan yang diambilnya.
Dengan kata lain, kita ingin mengatakan dalam lingkungan yang demokratis, apalagi cenderung pada euforia politik seperti kondisi negara kita saat ini, ketegasan mencerminkan kenegarawanan. Ketiga, ketegasan dalam lingkungan yang demokratis menjadi istimewa karena kemampuan mengambil ketegasan dalam lingkungan yang sedemikian tersebut hanya bisa lahir ketika pemimpin memang sosok yang mempunyai prinsip, berkarakter, dan berintegritas.Pemimpin yang demikian ini biasanya memiliki prinsip-prinsip mendasar yang kokoh yang sulit dikompromikan, apalagi didagang-sapikan ketika berhadapan dengan tujuan berbangsa dan bernegara.
Karena dalam kondisi yang demikian, ketegasan itu indentik dengan kepahlawanan. Ambil contoh dalam pemberantasan korupsi; pemimpin yang berintegritas dan berkarakter akan bisa memberikan visi yang jelas tentang pemberantasan korupsi untuk kepentingan bangsa dan negara ketika ia mampu memulai pemberantasan itu dengan menggoreng paus dan hiunya korupsi di depan umum.Tetapi, seorang pemimpin akan gagal menunjukkan visi dan integritas tentang pemberantasan korupsi ketika ia hanya membabat pelaku-pelaku korup yang recehan, yang tidak memiliki perlawanan sosial ekonomi dan politik terhadapnya.
Dan terakhir, ketegasan dalam kondisi yang yang dipenuhi dengan euforia politik seperti kondisi kita saat ini menjadi sesuatu yang istimewa jika ketegasan tersebut diiringi dengan kepiawaian dan kedewasaan dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan berbagai stakeholder yang berkepentingan dengan pengambilan keputusan. Artinya, keputusan yang diambil mempunyai logika publik yang bernas sehingga mayoritas stakeholder mengakui bahwa kepentingan di belakang lahirnya kebijakan atau keputusan itu semata-mata untuk kepentingan semua bukan hanya untuk kepentingan segelintir orang apalagi untuk kepentingan sang pemimpin an sich.
(tulisan Dr. Andi Irawan yang dimuat di Koran Seputar Indonesia 5 tahun lalu)

Selasa, 17 Januari 2012

MEMBANGUN SIKAP OPTIMIS

Apa resolusi kamu di tahun 2012? Apakah kamu optimis dapat mencapainya? Mungkin dua kata tersebut cukup populer akhir-akhir ini, resolusi dan optimis. Rasa optimis adalah sebuah keyakinan yang muncul dalam pribadi seseorang. Sikap ini tidak akan muncul dengan sendirinya. Sikap tersebut akan muncul sebagai akibat dari sebuah proses pencarian dan pembentukan. Sikap tersebut tidak ada akan muncul secara tiba-tiba pada diri seseorang secara cuma-cuma. Diperlukan sebuah proses belajar dan tindakan untuk mendapatkan rasa optimis dalam pribadi seseorang.
Terdapat 2 aspek apabila kita berbicara tentang rasa optimis, aspek kepribadian dan aspek ketuhanan (rabbaniyyah). Kita perlu memahami kedua aspek tersebut agar sifat optimis manjadi bagian dari kepribadian seorang manusia. Dalam surat Ali Imran ayat 139, Allah memerintahkan agar manusia tidak pesimis dan berputus asa, karena manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya. Namun ada syarat yang harus dipenuhi selain itu, yaitu apabila mereka beriman.
Apsek kepribadian. Mempunyai rasa optimis atau pesimis adalah sesuatu yang melekat pada kepribadian seseorang. Sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya, manusia diberikan kecerdasan. Dengan kecerdasannya, manusia diharapkan mampu memahami hakekat makna optimis. Dalam kehidupannya, manusia selalu dihadapkan pada sebuah rencana yang terhampar dihadapannya untuk mencapai sebuah tujuan. Selalu ada kesempatan dan kesempitan dalam pandangan manusia. Seseorang yang optimis selalu memandang bahwa setiap langkah atau perubahan yang yang dia lakukan selalu ada peluang lebih baik.
Optimis dalam kepribadian manusia memiliki dua pengertian.Pertama, rasa optimis adalah doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk meyakini adanya harapan yang lebih baik, ada kesempatan dalam sebuah kesempitan. Kedua, rasa optimis berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Apabila dibuat sebuah pengertian singkat manusia yang memiliki rasa optimis adalah ketika mampu meyakini adanya kesempatan atau peluang kehidupan yang lebih baik dan keyakinan memotivasi nya melakukan aksi dan tindakan nyata untuk meraihnya. Rasa optimis seperti itu dalam prakteknya sangat diperlukan. Manusia harus mempunyai harapan bahwa sesuatu yang dia lakukan akan membawa sebuah kebaikan, berdasarkan perhitungan peluang yang dia lakukan. Dengan adanya harapan tersebut akan menimbulkan energi untuk mewujudkannya. Tanpa energi positif tentunya, kita sudah tahu kalau harapan itu tidak bisa mengubah apa-apa. Untuk menciptakan langkah dan hasil yang lebih bagus dibutuhkan harapan yang lebih bagus agar energinya lebih bagus. Memiliki harapan yang lebih bagus akan memunculkan energi dorongan yang lebih bagus. Sekarang, coba kita bayangkan apa yang akan kita rasakan seandainya kita sudah tidak memiliki harapan adanya kehidupan yang lebih bagus di masa datang? Kemungkinan yang paling dekat adalah kita tidak terdorong untuk melakukan sesuatu yang lebih bagus, dengan tindakan dan langkah-langkah yang konkret dan lebih bagus pula. Kehidupan yang lebih bagus memang tidak bisa diwujudkan dengan hanya harapan, namun untuk meraihnya dibutuhkan harapan yang bagus.
Pribadi yang optimis melihat segala sesuatu dengan kaca mata yang terang dan pikiran yang jernih. Dalam keadaan yang tertekan sekalipun, dia maish mampu mempertahannkan keterangan kaca matanya dan kejernihan pikirannnya. Selalu ada harapan dan kesempatan dalam setiap kegelapana yang menyelimutinya. Sikap yang optimis ini telah melahirkan pribadi-pribadi yang tangguh. Orang-orang yang menjadi aktor sejarah dalam kehidupan manusia adalah orang-orang yang mempunyai rasa optimis dalam dirinya.
Aspek ketuhanan (rabbaniyyah). Firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 139, Janganlah kamu bersikap lemah (pesimis), dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu adalah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” memberikan penegasan kepada kita bahwa sikap optimis dan tidak mudah putus asa hanya akan dapat dirasakan oleh manusia-manusia yang beriman. Proses pembentukan kepribadian optimis dalam diri manusia, memerlukan campur tangan Allah.
Margo Jones, seorang pakar psikologi, mengatakan, agar dapat mempunyai kepribadian yang optimis, ada satu syarat bahkan disebut sebagai prasyarat bagi semua usaha, yaitu tingkatkan keimanan. Menurut Margo Jones Salah satu esensi keimanan adalah adanya kesadaran bahwa kita ini “dimiliki” (being owned) oleh Tuhan atau munculnya perasaan “kebersamaan” dengan Tuhan. Semakin kuat keimanan itu, semakin kuat juga kesadaran itu dan rasa kebersamaan itu. Punya kesadaran yang kuat bahwa kita ini “dimiliki” akan membuat kita tidak mudah merasa sendirian atau merasa tidak memiliki siapa-siapa dalam menatap masa depan.
Sikap optimis tidaklah datang dengan sendirinya. Kemunculannya harus didahului oleh rasa takwa yang membuat seseorang merasa perlu untuk meningkatkan volume ibadahnya kepada Allah swt. Kita harus yakin bahwa Allah Mahakuasa. Jika derajat manusia sudah dalam posisi bertakwa, maka manusia akan mempunyai keyakinan bahwa tak ada yang terlepas dari kekuasaan-Nya. Di tangan-Nyalah segala sesuatu. Allah Maha mengatur, Allah Maha berkehendak, Allah yang membuat sesuatu menjadi mulia, dan Allah pula yang membuat sesuatu menjadi hina. Jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, meskipun sulit menurut kita, maka itu pasti terjadi.
Kepercayaan akan semua ini, dalam pandangan Islam dikenal dengan sebutan tawakal. Semakin kuat kepercayaan ini, maka akan semakin tebal rasa tawakal, dan akhirnya rasa optimis dalam diri semakin bertambah. Dari rasa tawakal inilah optimis berawal. Rasa optimis haruslah mengalahkan pesimis yang bisa menyerang siapa saja. Jika ingin berhasil, kita harus bisa membangun rasa optimis dalam diri dan kita memulainya dengan memupuk rasa tawakal kepada Allah.
Selain dengan tawakal, rasa optimis akan semakin terasa indah ketika manusia mampu mengkombinasikan dengan selalu berprasangka baik kepada Allah. Berbicara optimis adalah berbicara tentang harapan akan suatu waktu di masa yang akan datang. Ketika yang mempunyai kuasa atas segala sesutua yang belum terjadi adalah Allah, sudah barang tentu manusia harus menyandarkan semuanya kepada Allah. Sedangkan Allah sendiri berkata dalam sebuah hadits qudsi, “ Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkan kebaikan. Bila ia berprasangka buruk, maka keburukan akan menimpanya.”
Tahun baru Miladiyyah baru beberapa hari kita lewati, tahun baru Hijriyyah baru satu bulan kita tinggalkan. Momen awal tahun biasanya adalah sebagai sarana seseorang untuk memulai membuat sebuah perencanaan dalam kehidupannya paling tidak satu tahun ke depan. Tahun baru biasanya sebagai sebuha momentum awal untuk mengawali sebuah langkah besar untuk mendapatkan sebuah tujuan besar pula. Salah satu tekad(azzam) yang harus digenggam adalah rasa optimis bahwa apa yang kita rencanakan dapat kita capai tentunya selalu bertawakal kepada-Nya dengan penuh huznudzon bahwa Allah selalu akan memudahkan langkah kita.

Jumat, 02 Desember 2011

HIDUP BERSAMA ORANG SULIT

Ada yang membuat kami sekeluarga merasa ‘jijik’ beberapa hari ini. Adalah itik-itik peliharaan tetangga yang ‘diumbar’ alias dibiarkan lepas tanpa dimasukkan dalam kandang. Yang membuat kami merasa ‘jijik’ tadi adalah kotoran itik yang ternyata teronggok di mana-mana. Hujan yang turun setiap hari menambah suasana semakin becek dan semakin menjijikan. Kami sampai bingung harus bagaiamana mengatasi permasalahan tersebut, apakah harus marah-marah kepada tetangga kami ataukah kami harus marah-marah terhadap itik-itik tersebut. Namun kedua hal tersebut tidak kami lakukan sama sekali, karena kalau kami marah ke tetangga pasti akan menjadikan permasalahan lebih panjang, kalau kami marah kepada itik, buat apa? namanya juga binatang. Akhirnya kami mengalah, dan mencoba untuk bersabar dengan kondisi tersebut, dan yang kami lakukan adalah mencoba mengusir itik-itik tersebut ketika datang dan membersihkan kotoran apabila ‘terpaksa’ itik teresebut buang kotoran di sekitar rumah.
Dalam setiap kehidupan kita, pastilah akan selalu hadir sesuatu yang akan membuat kita merasa susah dan sulit, seperti itik tadi. Tidak hanya itik, namun kita juga akan merasakan kehadiran orang-orang yang sulit, orang yang akan memberikan sesuatu yang tidak nyaman atau bahkan akan membuat kita merasa terganggu. Di kantor seringkali kkita temukan orang-orang yang tidak bersahabat dengan kita, mudah marah, sering membuat pekerjaan bersama menjadi kacau. Di kampung sering kita temukan juga tetangga yang usil, tetangga yang reseh, tetangga yang selalu membuat kehidupan bersama menjadi tidak nyaman. Dalam sebuah organisasi sering juga kita temukan orang yang merepotkan dengan ulah dan tindakannya. Dan bahkan dalam keluarga kita pun ada salah satu anggota yang dirasakan sulit diatur, sulit dikendalikan, dan pokoknya membuat keseharian menjadi serba sulit.
Yang menjadi pertanyaan adalah bagaiamana menangani orang sulit seperti ini? Apakah mereka harus disingkirkan? Apakah kita harus menghindar dari orang-orang seperti ini?
Kalau boleh saya berpendapat, jawabannya ada TIDAK. Orang-orang seperti ini akan selalu muncul dalam dalam kehidupan kita. Kita tidak bisa menolak kehadiran orang-orang yang sulit dalam keseharian kita, baik di kantor, kampung, organisasi maupun keluarga kita, karena memang tidak ada manusia yang sempurna menurut kita.
Ada 2 hal yang harus kita pahami ketika kita berhadap dengan orang-orang yang menurut aturan umum atau mungkin aturan kita, dianggap orang yang sulit :
Pertama, kita harus memahami bahwa, kita tidak pernah akan menemui sebuah lingkungan yang sempurna. Pastilah ada orang-orang yang dapat dipersamakan dengan itik tadi. Ketika kita sudah bisa memahami ini, maka yang perlu kita bangun dalam persepsi kita adalah kita adalah bagian dari mereka dan mereka adalah bagian dari kita. Kita harus bisa menerima kehadiran mereka, dengan terpaksa maupun dengan ikhlas.
Kedua, kita harus menjadikan kehadiran orang-orang seperti itu untuk melatih toleransi dan kesabaran kita. Sangatlah mudah apapabila kita bertoleransi dengan orang-orang yang kita kasihi dan orang-orang yang sesuai dengan apa yang kita anggap 'kalem'. Namun ujian sebenarnya dari sebuah toleransi adalah ketika kita diuji untuk toleran kepada orang-orang yang menurut kita sulit, susah diatur dan bandel. Ketika kita bisa toleransi dengan orang-orang yang dibeci, saat itulah nilai spiritual toleransi berada dalam puncaknya.

Kamis, 01 Desember 2011

SIAPAKAH IDOLAMU?

Dalam sebuah tulisannya, salah seorang pegawai di salah satu kantor pajak, mengatakan dengan terus terang kekaguman, penghargaan dan penghormatannya kepada kepala kantornya yang telah bisa merubah dirinya menjadi bangga bekerja di kantor pajak, di saat banyak kasus, fitnah dan cercaan diterima oleh kantor tersebut. “Kepala kantor saya dengan sabar dan tekun menyimak serta mencatat semuanya. Beliau menjanjikan untuk membawa dan memperjuangkan masalah ini ke atasan. Wow….kesan awal yang baik. Wise, cool, humble, dan membela bawahan. In big respect and honour to you yang telah merubah saya,” itulah sebagian kalimat yang ia tulis.
Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda bahwa setiap dari kita ada seorang ‘pemimpin’, dan setiap ‘pemimpin’ akan dimintai pertanggungjawaban. Ada dua makna pertanggungjawaban dalam sabda Nabi tersebut. Makna pertama pertanggungjawaban yang dimaksudkan disini adalah pertanggungjawaban secara vertikal yang akan diminta oleh Tuhan ketika amal manusia diperhitungkan di hari yang mana manusia akan dibalas sesuai dengan amal kebaikannya. Dan yang kedua adalah pertanggungjawaban yang sifatnya horisontal yang harus disampaikan kepada sesama manusia yang menjadi tanggung jawabnya.
Pertanggungjawaban secara horisontal tersebut terjadi antara manusia dengan manusia lainnya yang harus dilakukan karena meraka dalam suatu hubungan tertentu. Sebagai contoh adalah seorang presiden dengan rakyatnya, seorang pemimpin perusahaan dan pegawai yang menjadi anak buahnya, antara seorang suami dengan istrinya, seorang ayah dengan anak-anaknya. Banyak bentuk-bentuk hubungan lainnya ya ng termasuk dalam sebuah hubungan yang mempunyai konsekuensi sebuah bentuk pertanggungjawaban. Artinya salah seorang yang terikat dalam sebuah hubungan tadi mempunyai fungsi sebagai ‘pemimpin’ yang harus memberikan pertanggunjawaban.
Bagaimana ukuran seorang ‘pemimpin’ dianggap sukses. Kepemimpinan adalah sebuah hubungan antara manusia dengan manusia lainnya. Sehingga secara mudah, salah satu cara mengukur kesuksesan seorang ‘pemimpin’ adalah dengan melihat seberapa besar kemanfaatan ‘pemimpin’ itu terhadap orang lain yang terikat sebuah hubungan dengannya. Pada dasarnya makna kehidupan bagi seseorang akan terasa indah ketika dia memberikan dampak yang positif pada orang lain. Saat orang lain mengekspresikan kekagumannya kepada ‘pemimpin’nya, maka saat itulah sebenarnya fungsi kepemimpinan dan kewajiban untuk memberikan pertanggungjawabkan sudah dijalankan dengan baik.
Ketika saya bertanya kepada seorang remaja puteri dalam sebuah acara di kampung tetangga, siapa yang kamu banggakan dan menjadi idolamu? Remaja tersebut menjawab ibuku. Kemudian saya bertanya,” kenapa?”, dan dia menjawab karena dialah yang susah payah mengandung, melahirkan dan membersarkan saya serta dia juga mampu ikut membantu ayahnya menopang kegiatam ekonomi keluarganya sehingga ia bisa menyelesaikan sekolahnya saat ini.
Mungkin lain lagi ketika seorang anak laki-laki ditanya, siapakah idola kamu? Ketika dia melihat bahwa ayahnya adalah seorang yang bisa mengajarkan nilai-nilai disiplin dan senantiasa bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, maka jawaban anak tersebut kemungkinan besar adalah ayahku, aku ingin seperti dia.
Artinya sama seperti pegawai pajak dalam tulisannya tadi, dia tentunya tidak akan canggung menjawab, kepala kantornyalah yang menjadi idolanya ketika dia ditanya siapakah pimpinan idolanya. Karena dia telah mnemukan sosok yang mampu mengayomi, memberikan semangat dan sekaligus merubah dirinya menjadi seorang yang bangga terhadap apa yang dia kerjakan untuk kantornya.
Secara sederhana, keberhasilan dan kesusksesan seseorang dapat dengan mudah diukur dengan pengakuan orang-orang yang disekitarnya. Orang-orang akan menjadikan mereka sebagai idolanya. Mereka akan banyak mendapat nilai-nilai dari idolanya tersebut dan nilai-nilai tersebut akan mempengaruhi kehidupannya. Mereka mempunyai keyakinan bahwa dengan mengikuti nilai-nilai yang dimiliki oleh sang idola tadi mereka akan memperoleh sebuah kebahagian dalam lingkungan atau pun kehidupannya.
Pemimpin yang sukses adalah ketika pengikutnya mengatakan,”saya ingin menjadi pemimpin seperti dia”. Ayah yang sukses adalah ketika anaknya merasa bangga dengan ayahnya dan ia ingin seperti dia. Seorang istri yang sukses adalah ketika sang suami mengatakan,”sungguh beruntung saya mempunyai istri seperti dia.”
Lalu bagaimana dengan seorang suami yang sukses? Tentunya ketika istri membanggakan suaminya orang yang menjadi idolanya, ketika dia merasakan suaminya sangat sayang terhadap dirinya, bertanggung jawab terhadap kelurganya, dan menjadi tauladan bagi dia dan anaknya. Khusus untuk yang terakhir ini, saya menulis dengan sedikit malu, karena masih ragu apakah saya sudah menjadi seorang suami yang selama ini dicari oleh istri saya. Apakah saya sudah menjadi idola bagi istri saya? Apakah saya sudah menjadi sosok yang patut dibanggakan oleh keluarga saya?
Jawabannya adalah di tangan istri dan anak-anak saya. Bagaimana dik?
(terinspirasi setelah membaca kolom Pernik Majalah Swa)

MENCARI YANG SEMPURNA

Alkisah ada seorang pemuda yang sudah cukup usianya untuk mengakhiri masa lajangnya dengan menikah. Maka ia putuskan untuk mencari seorang gadis yang akan dia nikahi. Namun ada satu syarat yang ingin ia dapatkan, yaitu dia ingin memmpunyai istri seorang gadis yang sempurna.
Setelah beberapa lama dia mencari, akhirnya dia menemukan seorang gadis yang sangat cantik. Bayangan si pemuda tadi, “inilah gadis sempurna yang selama ini aku impikan untuk kujadikan istriku”. Namun ternyata pemuda tadi mengurungkan niatnya untuk menikahi gadis itu, karena ternyata gadis tersebut tidak bisa memasak.
Karena kecewa gadis yang akan dinikahinya tadi tidak sesempurna seperti yang dia impikan, pemuda tadi kemudian mencari gadis lainnya. Alhasil bertemulah dia dengan seorang gadis yang sangat cantik dan masakannya sangat luar biasa lezatnya. “inilah gadis sempurna yang aku cari,” pikir pemuda tersebut. Setelah pemuda tersebut mendekati sang gadis, alangkah kecewanya pemuda tersebut karena ternyata gadis tersebut berpendidikan amat rendah. Dia hanya lulusan SD dan kemamp[uan memasaknya dia peroleh dari ibunya. Akhirnya dia tinggalkan gadis itu untuk mencari gadis lainnya.
Beberapa waktu kemudian bertemulah pemuda tadi dengan seorang gadis yang sangat cantik, pandai memasak, lulusan S2 sebuah perguruan tinggi ternama dan bahkan sudah memiliki beberapa restoran yang cukup ternama. “Sempurna;” pikir pemuda tersebut,”inilah calon istriku yang selama ini menjadi harapanku.” Namun pemuda tersebut kembali kecewa tidak bisa menikahi gadis tersebut, karena apa? Ternyata gadis tersebut mencari pemuda yang sempurna.
(disarikan dari tulisan Ajahn Brahm)