Rabu, 24 Agustus 2011

DOA RAMADHAN

Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Berkahilah hambaMu yang hari ini menjalankan puasa
Berkahilah hambaMu yang hari ini tilawah Al Qur’an
Berkahilah hambaMu yang hari ini berdzikir
Berkahilah hambaMu yang hari ini bertaubat
Berkahilah hambaMu yang hari ini berdoa
Berkahilah hambaMu yang hari ini berinfak
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim
Berkahilah hambaMu yang hari ini menjaga kehormatannya
Berkahilah hambaMu yang hari ini menjaga lisannya
Berkahilah hambaMu yang hari ini memaafkan kesalahan orang lain
Berkahilah hambaMu yang hari ini memberikan bantuan yang sangat diperlukan
Berkahilah hambaMu yang hari ini menolong kesulitan orang
Berkahilah hambaMu yang hari ini meringankan beban saudaranya
Ya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
Berkahilah hambaMu yang hari ini meminta maaf padahal belum tentu ia bersalah
Berkahilah hambaMu yang hari ini menyambung silaturahim
Berkahilah hambaMu yang hari ini tersenyum ramah kepada semua manusia
Berkahilah hambaMu yang hari ini menyantuni keluarganya dengan kasih sayang
Berkahilah hambaMu yang hari ini mampu menahan amarah
Berkahilah hambaMu yang hari ini berlaku sopan dan tertib di jalan raya
Berkahilah hambaMu yang hari ini meninggalkan perbuatan tercela
Ya Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa
Berkahilah hambaMu yang hari ini menyatakan cinta kepada isterinya
Berkahilah hambaMu yang hari ini menyatakan sayang kepada suaminya
Berkahilah hambaMu yang hari ini mendidik anak-anaknya
Berkahilah hambaMu yang hari ini melaksanakan kewajibannya
Berkahilah hambaMu yang hari ini berlaku baik kepada tetangganya
Berkahilah hambaMu yang hari ini memuliakan tamunya
Berkahilah hambaMu yang hari ini bekerja mencari rezeki yang halal
Ya Allah Yang Maha Mengetahui segala kondisi hamba
Berkahilah hambaMu yang hari ini berolah raga menjaga kesehatannya
Berkahilah hambaMu yang hari ini melaksanakan shalat tarawih
Berkahilah hambaMu yang hari ini pergi ke masjid
Berkahilah hambaMu yang hari ini membersihkan rumah dan halamannya
Berkahilah hambaMu yang hari ini menimba ilmu
Berkahilah hambaMu yang hari ini berdakwah
Ya Allah Ya Hayyu Ya Qayyum
Berkahilah hambaMu yang hari ini menghormati orang tuanya
Berkahilah hambaMu yang hari ini menyiapkan sahur untuk keluarganya
Berkahilah hambaMu yang hari ini memberikan makanan buka puasa
Berkahilah hambaMu yang hari ini bersabar atas kekurangan pasangannya
Ya Allah Ya Rabbal ‘Alamin
Berkahilah hambaMu yang hari ini membaca tulisan ini
Berkahilah hambaMu yang hari ini menyebarkan doa ini kepada sahabatnya
Ya Allah Yang Maha Mengampuni segala dosa
Berkahilah kami semua
Aamiin.
(terima kasih Pak Cah atas ijin untuk copas doa ini)

Kamis, 11 Agustus 2011

Memberi Energi pada Doa


Berdoa adalah hal yang sangat manusiawi. Doa akan dilakukan oleh seorang manusia yang mengakui adanya sebuah kekuatan besar, yang benama Allah, di balik perjalanan umat manusia. Kalau kita mencoba berhitung dalam sehari, berulang kali kita berdoa kepada Allah dengan berbagai macam permohonan. Bagi yang sedang mendapatkan sebuah musibah, tentunya dia akan berdoa agar musibahnya dapat segera berakhir; bagi yang sedang akan menempuh sebuah ujian maka ia akan berdoa agar ia lulus dalam ujian tersebut; bagi yang sedang merasa kekurangan rejeki maka ia akan berdoa agar lebih dimurahkan rejekinya. Semua akan melantunkan sebuah permohonan sesuai yang menjadi harapannya.
Ketika manusia memiliki keinginan yang kuat untuk mendapatkan sesuatu sesuatu dari Tuhannya, maka harapan kepada Tuhannya akan sangat dominan dalam hatinya. Harapan yang kuat inilah yang akan menciptakan sebuah energi yang besar sehingga menjadikan doanya benar-benar khusyu’ dia sampaikan kepada Tuhannya. Orang yang sedang menghadapi sebuah ujian kelulusan, yang mungkin akan menentukan masa depannya, maka dia akan berdoa dengan energi yang luar biasa untuk bisa mendapatkan harapannya tersebut. Orang yang sudah berumur tetapi belum juga mendapatkan jodohnya maka dia akan berdoa dengan energi dan harapan yang luar biasa besar untuk mendapatkan jodohnya. Harapan yang menggebu tadi akan menciptakan energi khusyu’ dalam doanya. Energi inilah yang tentu saja akan menambah kekuatan doa di hadapan Sang Pencipta. Dan Insya Allah, dengan kekuatan harapan dan kesungguhan dalam doa inilah, Allah tidak akan memalingkan wajah-Nya.
Ketika manusia berada dalam kondisi yang nyaman, berdoa terkadang hanya merupakan sebuah aktivitas ritual yang rutin dikerjakan sebagai bentuk penyempurna ibadah pokok. Berdoa sehabis melakukan ibadah sholat adalah sesuatu yang harus dilakukan. Hal ini didorong bukan karena kebutuhan namun lebih karena merupakan kebiasaan yang umum dilakukan. Ketika doa hanya sebagai sebuah rutinitas dalam keseharian, maka doa hanya akan mengalilr tanpa makna. Doa hanya akan menjadi sebuah ucapan tanpa bobot dan bacaan yang tidak mempunyai energi untuk meminta kepada Tuhannya. Doa-doa yang keluar dari mulut hanyalah sebuah kalimat yang mempunyai nada teratur tanpa ada tekanan-tekanan makna. Kalau sudah seperti ini, bagaimana Allah akan mendengarkan, apalagi mengabulkan, ketika doa hanyalah sebatas ritual tanpa harapan dan tanpa makna.
Menciptakan sebuah kekuatan dalam doa dengan energi yang ditimbulkan melalui harapan yang kuat, tidaklah mudah. Ketika manusia berada dalam kondisi yang serba kecukupan dan nyaman, ia harus tetap mampu menciptakan energi dalam doanya. Kalau tidak, doa tersebut hanya terjebak dalam sebuah rutinitas saja. Bagaimana caranya memunculkan energi dalam doa? Dalam sebuah kajian Ramadhan di sebuah masjid, seorang ustadz mengatakan, ciptakan energi kekhusyu’an dalam doa kita dengan membayangkan dalam pikiran kita, apa-apa saja yang kita doakan kepada Allah.
Saya yakin, semua orang pasti selalu berdoa untuk keluarganya, untuk suami/istri dan anak-anaknya. Bagaimana agar doa untuk keluarga kita benar-benar mempunyai energi yang kuat sehingga doa itu khusyu’, penuh penghayatan dan pengharapan serta benar-benar keluar dari hati kita? Hanya ada satu cara, bayangkan wajah mereka satu persatu. Bayangkan wajah istri/suami kita, bayangkan betapa dia adalah orang yang kita cintai; bayangkan bahwa dia adalah orang yang sangat berharga dalam kehidupan kita; bayangkan bahwa dia adalah orang yang kita harapkan dapat bersama-sama menjalani hidup ini untuk medapatkan ridlo-Nya. Barulah kita ungkapkan doa kita untuk suami/istri kita kepada Allah dengan sepenuh pengharapan kita.
Ketika kita berdoa untuk anak kita. Bayangkan wajah mereka satu persatu. Bayangkan bahwa kita tidak berdaya dalam mendidik mereka tanpa hidayah dari Allah; bayangkan bahwa mereka sesungguhnya tidak berdaya tanpa perlindungan dari Allah. Sebut dan bayangkan satu persatu nama dan wajah anak kita, dan kemudian berdoalah untuk masing-masing anak-anak kita. Karena terkadang setiap anak mempunyai karakter yang berbeda, dan kita pun perlu secara khsusus untuk memberikan doa yang berbeda kepada masing-masing dari mereka. Uangkapkan dengan penuh maka dan harapan, Insya Allah kekuatan doa akan muncul dengan sendirinya.
Ketika kekuatan harapan benar-benar dapat dihadirkan dalam sebuah doa, maka yang keluar adalah permintaan dari sebuah hati yang ikhlas dari seorang hamba yang tidak berdaya di hadapan Tuhannya. Kekuatan inilah yang akan menjadikan doa mempunyai daya permintaan yang kuat dan tentunya Allah pun akan tidak segan-segan untuk mengabulkan permintaannya.

Rabu, 10 Agustus 2011

Di Balik Makna Keingintahuan

Ketika seseorang duduk bersama dengan orang lain, baik itu dalam sebuah perjalanan, dalam sebuah proses menunggu antrian, dalam sebuah event yang melibatkan banyak orang, maka mungkin akan ada sebuah aktivitas yang melibatkan mereka ke dalam sebuah percakapan. Walaupun mungkin untuk saat ini kondisinya agak berbeda, karena teknologi sudah semakin maju, dan seolah dunia dalam genggaman manusia. Sebagian orang akan lebih cenderung sibuk dalam aktivitasnya sendiri dengan perangkat-perangkat elektronik yang dia miliki, seperti handphone atau netbook.

Saya termasuk orang yang sebenarnya tidak bisa sibuk dengan diri sendiri ketika duduk bersebelahan dengan orang lain. Saya biasanya berusaha untuk menyapa orang-orang yang ada di samping tempat duduk ketika dalam suatu perjalanan, ruang tunggu atau di tempat lain. Tentunya apa yang saya lakukan mendapat tanggapan yang berbeda-beda dari orang-orang yang saya ajak bicara. Ada yang begitu senang melayani pembicaraan, ada pula yang tidak begitu peduli dengan apa yang saya katakan. Akan menjadi sesuatu yang cukup menarik apabila orang yang diajak berkomunikasi menanggapi dengan baik. Dimulai dengan sebuah basa basi dan pembicaraan singkat hingga akhirnya berkembang menjadi pembicaraan yang hangat dan bersahabat. Dari mulai hanya bertanya tentang keperluan kenapa ada di situ, tinggalnya dimana hingga berkembang ke hal-hal lain yang membuat pembicaraan semakin menarik dan menyenangkan.

Menurut anda mungkin cerita saya tersebut tidaklah begitu penting untuk diceritakan. Sesuatu yang mungkin anda anggap tidak begitu penting. Dari banyak orang yang coba saya ajak berbicara selama ini, saya melihat mereka dari berbagai macam latar belakang pekerjaan, pendidikan, dan status sosial. Dari beberapa pengalaman saya, terkadang orang-orang yang mempunyai latar belakang pendidikan rendah dan pekerjaan di kalangan kelas menengah dan bawah, mereka cenderung memberikan respon yang hangat dan menyenangkan. Lain halnya dengan orang-orang yang berasal dari kalangan atas dan orang-oang yang lebih mapan secara ekonomi atau pendidikan, mereka lebih cenderung hanya menjawab ala kadarnya sekedar menjawab pertanyaan yang saya sampaikan. Saya juga sering temukan orang yang mempunyai sifat tertutup dan tidak mau berbagai cerita dengan orang lain tentang dirinya.

Dalam sebuah pertemanan atau persahabatan pun, hal tersebut juga sering saya temukan. Orang-orang yang saya anggap teman dan sahabat masih saja cenderung tertutup untuk saling berbicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan dirinya. Dalam itu hal yang bersifat private mungkin bisa dimaklumi, namun terkadang hal-hal yang biasa saja dalam sebuah pertemanan, orang tersebut tidak mau membicarakan. Kadang mereka tidak menghargai keingintahuan yang kita ungkapkan. Keingintahuan sering dipersamakan dengan sikap sok pengin tahu.

Saya berpendapat bahwa keingintahuan seseorang terhadap aktivitas orang lain adalah suatu bentuk kepedulian. Orang yang ingin tahu tentang hal-hal yang terkait dengan orang lain, pastilah ia adalah orang yang peduli. Sebaliknya, orang yang tidak peduli biasanya dia tidak akan mau tahu, cenderung mengurusi apa yang terkait dengan dirinya sendiri dan cuek dengan keadaan orang lain. Bahkan saya berani katakan bahwa orang yang baik adalah orang yang selalu tertarik pada orang lain. Bentuk keingintahuan seseorang kepada orang lain adalah salah satu bentuk menghormati orang lain. Orang yang peduli dengan orang lain adalah orang yang berusaha mendudukkan posisi dirinya sejajar dengan orang lain, bukan menjadikannya berada di bawah kita. Keingintahuan seseorang terhadap orang lain dalam bentuk memperhatikan orang lain dapat diartikan sebagai bentuk kepedulian, karena apa yang dilakukan tersebut akan membuat orang lain merasa dianggap dan dihargai. Keingintahuan sesungguhnya juga merupakan bentuk rasa cinta dan penghargaan terhadap orang lain.

Keingintahuan seseorang atas kondisi teman dan sahabatnya merupakan naluri kemanusiaan yang secara kodrati akan muncul sebagai bentuk pertanggungjawaban manusia dalam menjalani hubungan sosial. Keingintahuan seseorang juga harus dihargai dengan direspon sewajarnya sebagai bentuk penghargaan atas sebuah hubungan kemanusiaan.

Selasa, 14 Juni 2011

Yuk Chatting dengan Beretika..!


Siapa yang tidak kenal chatting? Menurut saya ini adalah sebuah pertanyaan retoris yang tidak memerlukan jawaban.
Chatting adalah suatu feature di internet internet untuk berkomunikasi langsung sesama pemakai internet yang sedang online baik menggunakan mobile phone maupun komputer. Anda mengirim pesan dengan teks atau suara kepada orang lain yang sedang online, kemudian orang yang dituju membalas pesan Anda dengan teks atau suara, demikian seterusnya.
Kemudahan dalam memanfaatkan fasilitas tersebut membuat orang gemar melakukannya, baik tua atau muda. Bahkan bukan rahasia lagi, sebagian besar para pekerja di kantor menghabiskan waktunya untuk chatting. Sebagian melakukannya untuk obrolan pribadi dan sebagian lagi untuk membicarakan masalah pekerjaan. Dan terkadang chatting diperlukan juga dalam sebuah penyelesaian pekerjaan di kantor, karena sekarang fasilitas dalam chatting sudah sangat beragam dan cukup membantu, dari fasilitas group chatting atau pengiriman file dan dokumen tertentu. Sekalipun praktis dan mudah, Anda tak bisa asal melakukannya. Ada aturan tak tertulis yang kerap tak disadari para penggemar chatting. Karena meskipun tak dilakukan secara face to face, bisa saja kegiatan ini mengganggu.
Agar chatting kita menyenangkan dan tentunya menjadi chatting yang sehat dan tak saling mengganggu, maka ada beberapa etika yang perlu diketahui. Berikut ini adalah beberapa etika terkait chatting terutama chatting di kantor.

Ucapkan salam.
Ucapkan salam, tidak ada buruknya jika ucapan salam diterapkan pada saat chatting yang justru dapat menambah suasana keakraban. Pada setiap perjumpaan kita bisa mengetikkan selamat siang, halo, hi, atau assalamu’alaikum, atau jika ingin mengakhirinya, bisa mengetikkan selamat tinggal, bye, atau wa’alaikum salam.

Bersikap sopan
Sekalipun Anda tahu siapa-siapa saja rekan chatting Anda yang sedang online atau tidak, Anda tidak bisa memaksa salah satu rekan Anda yang online untuk meladeni Anda. Bersikaplah sopan. Awali obrolan dengan kata-kata, 'Maaf, sedang sibuk tidak mas....?'. Dan tidak ada salahnya apabila kita sedang sibuk, tinggal kita ubah status kita di account chatting dengan tanda sibuk.

Jangan banyak basa-basi.
Jika rekan Anda mengatakan sibuk namun Anda ingin membicarakan hal penting, jangan banyak basa-basi. Tidak perlu membahas hal-hal yang tak perlu. Jika terkait dengan pekerjaan, tuliskan pesan singkat bahwa Anda ingin berdiskusi soal pekerjaan. Walaupun ini mengenai pekerjaan alangakh baiknya kita tetap menyanakan apakah patner chatting kita mau menerima ajakan berdiskusi tentang pekerjaan tersebut.

Hormati kesibukannya
Jika ia menolak Anda ajak bicara dengan alasan sibuk, Anda tidak boleh memaksa. Anda bisa mengatakan bahwa dia bisa memberi tahu Anda ketika tidak sibuk dan siap diajak membahas sesuatu lewat fasilitas chatting.

Jangan mengganggu
Kendati seseorang terlihat online, bukan berarti dia berada di tempat sepanjang hari. Tuliskan pesan secukupnya bahwa Anda ingin chatting dengan dia. Jika sapaan Anda tak dijawabnya, jangan menuliskan pesan beruntun yang menuntut agar Anda segera diladeni. Bisa jadi, mereka memang tak ada di tempat karena meeting, keluar kantor atau dipanggil bos.

Berkata jujur
Jika Andalah yang disapa namun Anda sibuk, jangan pura-pura tak ada di tempat dengan tidak menjawab pesannya. Lebih baik Anda jujur dan mengatakan bahwa Anda sedang sibuk. Sebaliknya, Anda akan stres sendiri jika Anda belagak tak sibuk dan dia terus memborbadir Anda dengan beraneka obrolan, sehingga tidak ada salahnya Anda menolak meneruskan obrolan secara halus.

Jangan memaksakan diri.
Jika Anda benar-benar sibuk dan tidak mau diganggu oleh teman-teman chatting Anda, jangan memaksakan diri untuk online. Jika ada hal yang penting, tentu rekan Anda bisa meninggalkan pesan lewat email.

Hargai rekan chatting kita.
Jika Anda sudah menyatakan ada waktu untuk chatting, hargailah patner chatting Anda. Berikan perhatian terhadap apa yang ditulis atau disampaikan dalam chatting tersebut, walaupun hanya dengan satu kata yang menunjukkan bahwa Anda memperhatikannya atau berikanlah komentar terhadap apa yang disampaikan lawan chatting Anda. Jangan sampai patner chatting kita menunggu respon tentang apa yang dia sampaikan. Apabila Anda meninggalkan komputer, alangkah baiknya meminta ijin sebelumnya, siapa tahu dia sedang menunggu jawaban dari kita.

Jangan membuat sebuah tema percakapan menggantung.
Ketika Anda membahas sesuatu baik itu pekerjaan ataupun tema chatting lainnya, usahakan percakapan tersebut diakhiri dengan baik, artinya jangan sampai Anda menggantung dan tidak memberikan sebuah kalimat sebagai penanda bahwa kita mengakhiri pembicaraan tentang tema tersebut. Jangan lupa minta izin kepada partner chatting, pada saat kita ingin meninggalkan komputer, siapa tahu dia sedang menunggu komentar atau sikap kita.

Jangan terlalu banyak membuka dialog.
Membuka dialog dengan banyak patner chatting pada saat yang bersamaan tidaklah bijaksana. Jika Anda tidak ingin dikatakan tidak serius oleh partner chatting Anda, karena harus melayani banyak dialog dengan yang lain. Selain itu, jika sembari menyelesaikan tugas pekerjaan, maka akan sangat mengganggu kelancaran pekerjaan Anda tersebut.

Chatting dalam sebuah group chatting.
Dalam sebuah group chatting, apabila ada salah satu dari anggota grup memberikan sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada anggota grup dan memerlukan jawaban, sedapat mungkin Anda memberikan jawaban ataupun apabila Anda tidak tahu, Anda cukup memberikan tanda atau jawaban tidak tahu. kalau Anda sedang tidak berkenan ikut dalam sebuah grup chatting, Anda bisa snooze atau mungkin nge-block gruop chatting tersebut sementara.

Jika Anda memang sedang ada waktu dan mood, berarti Anda sedang bagus untuk chatting, tidak ada salahnya Anda lakukan. Sekedar refreshing di tengah kesibukan atau menanyakan pekerjaan lewat chatting, jamak saja deh. Atau buka satu dialog dengan salah seorang teman untuk sekedar sambilan ketika kita berada di depan komputer untuk melakukan pekerjaan rutin. Hentikan chatting segera jika kondisinya tak memungkinkan lagi. Teman chatting Anda pasti mengerti kok.

Rabu, 01 Juni 2011

Gara-Gara si Udin



Seorang teman berseloroh, kalau kamu mau terkenal sebagai pembuat berita yang heboh, tambahlah namamu dengan kata din.
Memang, nama yang memakai kata din mampu menciptakan pemberitaan yang luar biasa. Dari sensasi yang positif maupun negatif. Tokoh sufi yang dikenal dalam cerita dan hikmah-hikmah dikenal dengan nama Nasrudin. Ada pula ulama dan cedekiawan yang bernama Din Syamsudin, yang mampu membawa Muhammadiyah menjadi sebuah organisasi massa yang mampu berperan dalam kemajuan di negeri ini. Beberapa waktu yang lalu berita heboh tentang penembakan terhadap Nasruddin Zulkarnain, seorang petinggu BUMN, yang konon otak pembunuhannya dilakukan oleh seorang petinggi KPK. Belum lama ini muncul sebuah lagu dengan judul Udin yang mendadak populer lewat dunia maya. Masih ada lagi yang sedang panas-panasnya, yaitu kasus Nazaruddin. Seorang petinggi sebuah partai besar yang sedang berkuasa, atas dugaan suap dan korupsi dalam dua kasus yang berbeda.
Din adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab, ad-Dien, yang artinya adalah agama. Biasanya ketika kata ini digunakan dalam sebuah nama akan didahului dengan kata lain sehingga mempunyai makna yang lebih lengkap, misalnya Syamsudin (matahari agama), Nashiruddin (penolong agama), Komarudin (bulan agama) dan masih banyak lagi. Kita semua tahu bahwa nama adalah doa. Pemakaian kata din dalam sebuah nama, bukanlah sebuah kebetulan saja. Orang tua memberikan nama kepada anaknya dengan harapan anaknya nanti menjadi orang yang saleh sesuai dengan makna kebaikan dalam kata din. Si anak diharapkan kelak menjadi orang yang kehidupan sehari-harinya mempunyai komitmen terhadap agamanya. Sebagai contoh orang tua yang memberi nama anaknya Syamsudin, pasti mempunyai harapan anaknya menjadi orang yang bisa manjadi penerang agamanya laksana matahari.
Selain doa, nama adalah amanat orang tua. Anak mempunyai tugas menjaga nama tersebut dan mempunyai tugas merealisasikan harapan orang tuanya kelak di masa dewasa. Ada tugas berat yang disandang anak pada namanya, yaitu bagaimana si anak harus berjuang sekuat tenaga agar harapan orang tuanya bisa terwujud. Pada kenyataannya, nama yang begitu agung maknanya, tidak disadari oleh orang yang punya nama tersebut. Mereka terkadang mengabaikan nama yang melekat pada dirinya, apakah artinya sebuah nama, mungkin begitu pikirnya. Menyandang nama yang mempunyai makna suci tidak membuat mereka canggung untuk melakukan sesuatu yang hina.

Sesederhana apapun nama kita, ada harapan, doa dan amanat di dalamnya. Mari jadikan nama kita sebagai penjaga dan pengingat kita atas perbuatan yang akan kita lakukan. Jangan sampai orang tua malu dengan perbuatan kita yang jauh dari harapan yang melekat di sebuah nama.

Selasa, 31 Mei 2011

Melatih Kemandirian Anak

Beberapa waktu yang lalu, anak lelaki saya yang duduk di kelas 5 SD minta agar dibelikan handphone yang bermodel QWERTY. Bukan tanpa alasan, dia menceritakan bagaimana teman-teman sebayanya di sekolah, telah mempunyai handphone. Dengan bangganya mereka selalu membagi-bagi nomor handphone yang dimilikinya kepada teman-teman lainnya. Belum lagi fasilitas game, video, kamera yang merupakan bawaan handphone dapat dimainkan setiap kali mereka ingin. Hmm..anak mana yang tidak pengin seperti itu. Menanggapi permintaan anak, saya kemudian saya berpikir, apakah memang anak seusia dia sudah memerlukan handphone dengan tipe smartphone?

Di sekitar kita, anak SD menggunakan smartphone, sejenis Blackberry atau merk yang lain, bukanlah pemandangan yang langka. Bahkan kita juga sering melihat anak usia SMP sudah membawa mobil ketika berangkat ke sekolah. Barangkali juga sering anak kita merengek, “ Yah, yuk kita makan di luar, di restoran anu.” Padahal makanan sudah siap tersaji di rumah. Pola hidup konsumtif sudah menjadi barang biasa di sekitar kita. Orang tua dengan alasan kasih sayang kepada anak dan didukung kemampuan ekonomi untuk memenuhi, sering menuruti apa yang dimaui oleh anak-anaknya. Hal itu menurut saya hal tersebut tidak salah, karena anak adalah buah hati, buat apa bekerja mencari uang kalau bukan untuk membahagiakan buah hatinya. Kesalahan dari sikap seperti itu adalah seringnya tidak memperhatikan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan.

Kebiasaan menuruti apa yang menjadi keinginan anak, apabila dibiarkan dan tidak terkontrol, akan menjadi panyakit yang akan merusak jiwa anak-anak, karena anak akan terbiasa terpenuhi apa yang menjadi keinginannya. Pemberian fasilitas untuk memenuhi semua permintaan anak akan membentuk karakter konsumtif, karena secara tidak langsung orang tua akan membentuk karakater tersebut. Pada awalnya, hal tersebut hanya akan menjadikan anak menjadi manja, tidak mandiri dan cenderung egois di hadapan teman-temannya. Ketika karakter yang yang terbentuk pada diri anak tersebut akan mengikut sampai usia dewasa, maka disinilah letak bahayanya. Apabila di masa yang akan di datang, orang tuanya jatuh misikn atau sudah tidak bisa memenuhi keinginan dan kebutuhannya, maka anak dengan karakter konsumtif dan manja tadi akan sangat merasakan dampaknya. Sebuah survey yang pernah saya baca, 80% eksekutif muda dengan penghasilan paling rendah Rp. 15 juta terancam misksin pada masa tuanya, karena gaya hidup yang hanya menuruti gengsi demi status sosial, dengan menghambur-hamburkan uang hanya untuk menuruti keinginannya.

Seorang psikolog dalam sebuha artikel mengatakan, sebenarya hal tersebut dapat diantisipasi dengan menanamkan pola pikir bahwa memenuhi kebutuhan anak itu adalah penting namun harus didasarkan pada alasan kebutuhan, bukan karena keinginan anak, gengsi terhadap anak lainnya atau hanya sekedar menuruti kemauan anak. Orang tua harus secara bijak bisa menanamkan pola pikir kepada anak, bahwa pada waktu yang akan datang dia harus mandiri dan orang tua tidak bisa memberikan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Orang tua perlu berbicara dengan bahasa yang mudah dan sederhana kepada anaknya dalam menyampaikan hal tersebut dan dibarengi dengan sikap selektif dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan anak.

Mengajarkan sejak dini kepada anak tentang bagaimana membedakan antara kebutuhan dan keinginan juga harus dilakukan. Orang tua harus mampu menjelaskan tentang kebutuhan apa yang sesuai dan manfaat apa yang dapat diperoleh. Mengajarkan untuk berperilaku hemat atas uang yang dimiliki perlu juga ditanamkan kepada anak, walaupun mungkin jumlah uang yang dimilikinya hanya sedikit. Dengan kebiasaaan sepert ini, anak akan mempunyai karakter yang mandiri dan tidak bergaya hidup konsumtif, dan tentunya merupakan bekal yang penting di masa yang akan datang.

Kemudian kembali ke pertanyaan awal, perlukah anak SD dibelikan smartphone atau minimal handphone QWERTY?

Selasa, 24 Mei 2011

Arti Sebuah Konsekuensi

Beberapa hari ini, pemberitaan tentang tentang kasus korupsi di negara kita memasuki waktu-waktu yang sangat krusial. Beberapa kasus korupsi yang akan maupun sedang diungkap mulai menyentuh orang-orang yang cukup penting sebuah partai, maupun pejabat publik.

Setelah sekian lama KPK tidak bisa menentukan status hukum salah seorang sosialita dalam penanganan kasus korupsi cek pelawat yang menyeret beberapa anggota dan mantan anggota DPR, akhirnya KPK punya keberanian menetapkan sosialita tersebut, yang juga salah seorang istri mantan pejabat penting, sebagai tersangka pemberi suap. Kasus yang saat ini sedang hangat juga adalah kasus dugaan korupsi pembangunan Wisma Atlet Sea Games, yang konon katanya melibatkan bendahara umum partai yang sedang berkuasa di negeri ini. Belum lagi pemberitaan tentang korupsi Wisma Atlet reda, sang bendahara dihadapakan pada dugaan kasus suap terhadap Mahkamah Konstusi senilai hampir Rp. 1 Milyar. Dua contoh kasus yang melibatkan seorang sosialita dan seorang pengusaha kaya.

Dari dulu, pertanyaan yang membuat saya heran adalah kenapa mereka yang menjadi tersangka sebuah kasus korupsi , mau-maunya melakukan perbuatan yang sangat rendah tersebut. Apalagi apabila dicermati, hampir semua kasus korupsi yang terjadi di negeri ini melibatkan orang-orang yang secara ekonomi mapan bahkan berkelebihan. Secara ekonomi, hidup sudah nikmat; kebutuhan sudah bukan merupakan barang yang mahal lagi; relasi sudah tidak terbilang dari yang golongan strata rendah maupun strata tinggi. Apa sebabnya mereka mau melakukan sebuah tindakan yang nantinya akan merugikan dirinya sendiri? Apakah mereka tidak membayangkan sebuah hunian penjara yang tidak nyaman akan menyambut mereka? Apakah mereka tidak membayangkan nasib keluarganya akibat sanksi sosial? Yang jelas, saya masih saja terheran-heran sampai dengan saat ini.

Yang bisa sedikit menjawab keheranan saya adalah adanya sebuah teori tentang perbuatan, yaitu teori utilitas. Menurut teori ini, manusia akan melakukan sebuah tindakan pastinya melalui sebuah perhitungan tentang manfaat yang didapat dan biaya yang akan dilkeluarkan. Tindakan akan dilakukan apabila ternyata keuntungan jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.

Para koruptor melakukan tindakan tersebut karena ada sebuah keuntungan yang akan dia dapatkan. Yang jelas mereka sudah melakukan analisis untung rugi, walaupun mungkin menurut perhitungan orang awam seperti saya, perhitungan untung rugi yang dilakukan mereka tidak masuk dalam logika perhitungan saya. Mereka tentunya akan melakukan perenungan masak-masak sebelum perbuatan itu dilakukan, dan hasil perhitungan dia, mungkin resiko terungkapnya sangatlah kecil, dan keuntungan yang akan didapatkan sudah tampak di depan mata.

Dalam sebuah analisis untung rugi, resiko adalah masuk dalam kategori biaya (rugi). Terkadang dalam menentukan berapa keugian yang mungkin akan didapatkan, manusia sering hanya menghitung dengan satuan yang setara dengan perhitungan keuantungan. Ada satu sisi resiko yang sering dilupakan manusia dalam perhitungan rugi tersebut. Sisi tersebut adalah sebuah konsekuensi. Ketika seseorang melakukan perbuatan asusila dengan seseorang lainnya dalam suatu ruangan yang tersembunyi, sudah digelapkan dan di luar jam kantor, resiko untuk ketahuannya tentulah amat kecil. Namun di sisi resiko yang sangat kecil tersebut, ada suatu sisi konsekuensi yang luar biasa besar, apabila perbuatan tersebut diketahui oleh orang lain, misalnya dikucilkan dari pergaulan teman satu kantor ataupun mungkin bahkan keduanya akan diberhentikan dengan tidak hormat oleh perusahaan tersebut. Perhitungan resiko seorang koruptor, mungkin hanyalah sebatas jumlah bulan berada di penjara saja. Ada satu sisi konsekuensi dari hukuman tersebut yang tidak terbayang sebelumnya sehingga tidak masuk dalam perhitungannya, antara lain sanksi sosial buat keluarganya dan masa depan yang tidak senyaman seandainya gelar koruptor tidak disematkan.

Hukum Tuhan di dunia ini memang sudah adil, sebuah perbuatan yang baik akan menghasilkan sebuah kebaikan juga. Dan sebaliknya sebuah kejahatan yang menghasilkan sebuah resiko dan konseksuni keburukan yang akan menimpa si pelaku kehajatan tersebut. Ada sebuah teori tentang konsekuensi yang pernah saya baca. Teori ini membahas beberapa premis yang terkait sdengan sebuah konsekuensi.

Yang pertama adalah perbuatan apapun di dunia ini pasti mengandung sebuah konsekuensi tertentu. Apakah itu perbuatan dalam skala besar atau perbuatan dalam skala yang sangat kecil, semuanya akan mengandung sebuah konsekuensi. Sebuah tindakan kebaikan ataupun kemaksiatan dilakukan manusia walaupun hanya sebesar biji atom akan mempunyai sebuah konsekuensi. Kita bersin, kita mencuri, kita berbohong, kita tidak serius, semua pasti ada konsekuensinya. Itulah yang disebut dengan sunatullah, sebuah ketentuan Allah.

Yang kedua adalah bahwa konsekuensi dari sebuah perbuatan dikendalikan oleh hukum alam. Manusia mengira bahwa semua perhitungan untung rugi yang telah dia lakukan sebelum memutuskan suatu perbuatan, akan berjalan sesuai dengan skenario dia. Ia mengira bahwa resiko dan konsekuensi itu bisa diatur dan dikendalikannya. Ia menduga bahwa konsekuensi itu bisa dihilangkan dengan berbagai cara dengan meminimalkan resiko.

Konsekuensi bukan diatur oleh manusia. Konsekuensi akan mengikuti sunatullah atau hukum alam. Sepandai-pandainya Gayus menutupi perbuatan busuknya, akhirnya ada suatu ketentuan yang berada di luar kendalinya yang kemudian membuka aibnya. Hukum alam itu kemudian menjadikannya sebagai seorang pesakitan seperti saat ini. Seorang pengendara sepeda motor, seandainya tahu bahwa masuk dalam jalur bus way mempunyai resiko tertabrak dan bisa berujung kematian dan ia memahaminya dengan sungguh-sungguh, tentunya dia tidak akan masuk dalam jalur tersebut. Prinsipnya manusia bisa saja menghitung untung dan rugi dari perbuatannya, tapi Tuhanlah yang akan mengatur semuanya.

Yang ketiga adalah adalah terdapat jeda antara perbuatan dan konsekuensi yang akan diterima. Inilah yang disebut dengan time of response. Konsekuensi tidak serta merta datang segera setelah perbuatan dilakukan. Jeda inilah yang sering membuat orang mengira bahwa apa yang dia lakukan aman-aman saja, seolah-olah mereka tidak akan mendapatkan kerugian dari perbuatan tersebut. Jangka waktu antara perbuatan dan konsekuensi berbeda-beda. Mungkin saja seorang yang berselingkuh akan tetap disayang istri atau suaminya, mungkin saja seorang koruptor akan menjadi seorang manusia yang terhormat di masyarakat, mungkin saja pembohong masih akan dipercaya, tapi semua itu adalah soal waktu saja. Seperti sebuah pepatah sepandai-pandai tupai melompat akhirnya dia akan jatuh juga. Adanya time of response inilah yang sering membuat manusia lengah, merasa nikmat, terbuai, merasa aman, sehingga menimbulkan efek ketagihan untuk melakukan yang serba lebih lagi, hingga suatu saat dia akan terpeleset dan diungkap semua kemaksiatannya. Barulah saat itu dia melakukan penyesalan.

Yang terpenting adalah marilah kita sadar, bahwa ada kekuatan Tuhan yang akan mengatur semua perbuatan yang kita lakukan. Serumit apapun, sedetail apapun perhitungan kita atas suatu perbuatan yang kita lakukan, pastilah ada satu sisi yang akan berjalan sesuai dengan hukum alam. Konsekuensi adalah rahasia Ilaahi, musykil apabila manusia berusaha mengakalinya, karena sama saja dia berusaha mengakali Tuhannya.