Selasa, 14 Juni 2011

Yuk Chatting dengan Beretika..!


Siapa yang tidak kenal chatting? Menurut saya ini adalah sebuah pertanyaan retoris yang tidak memerlukan jawaban.
Chatting adalah suatu feature di internet internet untuk berkomunikasi langsung sesama pemakai internet yang sedang online baik menggunakan mobile phone maupun komputer. Anda mengirim pesan dengan teks atau suara kepada orang lain yang sedang online, kemudian orang yang dituju membalas pesan Anda dengan teks atau suara, demikian seterusnya.
Kemudahan dalam memanfaatkan fasilitas tersebut membuat orang gemar melakukannya, baik tua atau muda. Bahkan bukan rahasia lagi, sebagian besar para pekerja di kantor menghabiskan waktunya untuk chatting. Sebagian melakukannya untuk obrolan pribadi dan sebagian lagi untuk membicarakan masalah pekerjaan. Dan terkadang chatting diperlukan juga dalam sebuah penyelesaian pekerjaan di kantor, karena sekarang fasilitas dalam chatting sudah sangat beragam dan cukup membantu, dari fasilitas group chatting atau pengiriman file dan dokumen tertentu. Sekalipun praktis dan mudah, Anda tak bisa asal melakukannya. Ada aturan tak tertulis yang kerap tak disadari para penggemar chatting. Karena meskipun tak dilakukan secara face to face, bisa saja kegiatan ini mengganggu.
Agar chatting kita menyenangkan dan tentunya menjadi chatting yang sehat dan tak saling mengganggu, maka ada beberapa etika yang perlu diketahui. Berikut ini adalah beberapa etika terkait chatting terutama chatting di kantor.

Ucapkan salam.
Ucapkan salam, tidak ada buruknya jika ucapan salam diterapkan pada saat chatting yang justru dapat menambah suasana keakraban. Pada setiap perjumpaan kita bisa mengetikkan selamat siang, halo, hi, atau assalamu’alaikum, atau jika ingin mengakhirinya, bisa mengetikkan selamat tinggal, bye, atau wa’alaikum salam.

Bersikap sopan
Sekalipun Anda tahu siapa-siapa saja rekan chatting Anda yang sedang online atau tidak, Anda tidak bisa memaksa salah satu rekan Anda yang online untuk meladeni Anda. Bersikaplah sopan. Awali obrolan dengan kata-kata, 'Maaf, sedang sibuk tidak mas....?'. Dan tidak ada salahnya apabila kita sedang sibuk, tinggal kita ubah status kita di account chatting dengan tanda sibuk.

Jangan banyak basa-basi.
Jika rekan Anda mengatakan sibuk namun Anda ingin membicarakan hal penting, jangan banyak basa-basi. Tidak perlu membahas hal-hal yang tak perlu. Jika terkait dengan pekerjaan, tuliskan pesan singkat bahwa Anda ingin berdiskusi soal pekerjaan. Walaupun ini mengenai pekerjaan alangakh baiknya kita tetap menyanakan apakah patner chatting kita mau menerima ajakan berdiskusi tentang pekerjaan tersebut.

Hormati kesibukannya
Jika ia menolak Anda ajak bicara dengan alasan sibuk, Anda tidak boleh memaksa. Anda bisa mengatakan bahwa dia bisa memberi tahu Anda ketika tidak sibuk dan siap diajak membahas sesuatu lewat fasilitas chatting.

Jangan mengganggu
Kendati seseorang terlihat online, bukan berarti dia berada di tempat sepanjang hari. Tuliskan pesan secukupnya bahwa Anda ingin chatting dengan dia. Jika sapaan Anda tak dijawabnya, jangan menuliskan pesan beruntun yang menuntut agar Anda segera diladeni. Bisa jadi, mereka memang tak ada di tempat karena meeting, keluar kantor atau dipanggil bos.

Berkata jujur
Jika Andalah yang disapa namun Anda sibuk, jangan pura-pura tak ada di tempat dengan tidak menjawab pesannya. Lebih baik Anda jujur dan mengatakan bahwa Anda sedang sibuk. Sebaliknya, Anda akan stres sendiri jika Anda belagak tak sibuk dan dia terus memborbadir Anda dengan beraneka obrolan, sehingga tidak ada salahnya Anda menolak meneruskan obrolan secara halus.

Jangan memaksakan diri.
Jika Anda benar-benar sibuk dan tidak mau diganggu oleh teman-teman chatting Anda, jangan memaksakan diri untuk online. Jika ada hal yang penting, tentu rekan Anda bisa meninggalkan pesan lewat email.

Hargai rekan chatting kita.
Jika Anda sudah menyatakan ada waktu untuk chatting, hargailah patner chatting Anda. Berikan perhatian terhadap apa yang ditulis atau disampaikan dalam chatting tersebut, walaupun hanya dengan satu kata yang menunjukkan bahwa Anda memperhatikannya atau berikanlah komentar terhadap apa yang disampaikan lawan chatting Anda. Jangan sampai patner chatting kita menunggu respon tentang apa yang dia sampaikan. Apabila Anda meninggalkan komputer, alangkah baiknya meminta ijin sebelumnya, siapa tahu dia sedang menunggu jawaban dari kita.

Jangan membuat sebuah tema percakapan menggantung.
Ketika Anda membahas sesuatu baik itu pekerjaan ataupun tema chatting lainnya, usahakan percakapan tersebut diakhiri dengan baik, artinya jangan sampai Anda menggantung dan tidak memberikan sebuah kalimat sebagai penanda bahwa kita mengakhiri pembicaraan tentang tema tersebut. Jangan lupa minta izin kepada partner chatting, pada saat kita ingin meninggalkan komputer, siapa tahu dia sedang menunggu komentar atau sikap kita.

Jangan terlalu banyak membuka dialog.
Membuka dialog dengan banyak patner chatting pada saat yang bersamaan tidaklah bijaksana. Jika Anda tidak ingin dikatakan tidak serius oleh partner chatting Anda, karena harus melayani banyak dialog dengan yang lain. Selain itu, jika sembari menyelesaikan tugas pekerjaan, maka akan sangat mengganggu kelancaran pekerjaan Anda tersebut.

Chatting dalam sebuah group chatting.
Dalam sebuah group chatting, apabila ada salah satu dari anggota grup memberikan sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada anggota grup dan memerlukan jawaban, sedapat mungkin Anda memberikan jawaban ataupun apabila Anda tidak tahu, Anda cukup memberikan tanda atau jawaban tidak tahu. kalau Anda sedang tidak berkenan ikut dalam sebuah grup chatting, Anda bisa snooze atau mungkin nge-block gruop chatting tersebut sementara.

Jika Anda memang sedang ada waktu dan mood, berarti Anda sedang bagus untuk chatting, tidak ada salahnya Anda lakukan. Sekedar refreshing di tengah kesibukan atau menanyakan pekerjaan lewat chatting, jamak saja deh. Atau buka satu dialog dengan salah seorang teman untuk sekedar sambilan ketika kita berada di depan komputer untuk melakukan pekerjaan rutin. Hentikan chatting segera jika kondisinya tak memungkinkan lagi. Teman chatting Anda pasti mengerti kok.

Rabu, 01 Juni 2011

Gara-Gara si Udin



Seorang teman berseloroh, kalau kamu mau terkenal sebagai pembuat berita yang heboh, tambahlah namamu dengan kata din.
Memang, nama yang memakai kata din mampu menciptakan pemberitaan yang luar biasa. Dari sensasi yang positif maupun negatif. Tokoh sufi yang dikenal dalam cerita dan hikmah-hikmah dikenal dengan nama Nasrudin. Ada pula ulama dan cedekiawan yang bernama Din Syamsudin, yang mampu membawa Muhammadiyah menjadi sebuah organisasi massa yang mampu berperan dalam kemajuan di negeri ini. Beberapa waktu yang lalu berita heboh tentang penembakan terhadap Nasruddin Zulkarnain, seorang petinggu BUMN, yang konon otak pembunuhannya dilakukan oleh seorang petinggi KPK. Belum lama ini muncul sebuah lagu dengan judul Udin yang mendadak populer lewat dunia maya. Masih ada lagi yang sedang panas-panasnya, yaitu kasus Nazaruddin. Seorang petinggi sebuah partai besar yang sedang berkuasa, atas dugaan suap dan korupsi dalam dua kasus yang berbeda.
Din adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab, ad-Dien, yang artinya adalah agama. Biasanya ketika kata ini digunakan dalam sebuah nama akan didahului dengan kata lain sehingga mempunyai makna yang lebih lengkap, misalnya Syamsudin (matahari agama), Nashiruddin (penolong agama), Komarudin (bulan agama) dan masih banyak lagi. Kita semua tahu bahwa nama adalah doa. Pemakaian kata din dalam sebuah nama, bukanlah sebuah kebetulan saja. Orang tua memberikan nama kepada anaknya dengan harapan anaknya nanti menjadi orang yang saleh sesuai dengan makna kebaikan dalam kata din. Si anak diharapkan kelak menjadi orang yang kehidupan sehari-harinya mempunyai komitmen terhadap agamanya. Sebagai contoh orang tua yang memberi nama anaknya Syamsudin, pasti mempunyai harapan anaknya menjadi orang yang bisa manjadi penerang agamanya laksana matahari.
Selain doa, nama adalah amanat orang tua. Anak mempunyai tugas menjaga nama tersebut dan mempunyai tugas merealisasikan harapan orang tuanya kelak di masa dewasa. Ada tugas berat yang disandang anak pada namanya, yaitu bagaimana si anak harus berjuang sekuat tenaga agar harapan orang tuanya bisa terwujud. Pada kenyataannya, nama yang begitu agung maknanya, tidak disadari oleh orang yang punya nama tersebut. Mereka terkadang mengabaikan nama yang melekat pada dirinya, apakah artinya sebuah nama, mungkin begitu pikirnya. Menyandang nama yang mempunyai makna suci tidak membuat mereka canggung untuk melakukan sesuatu yang hina.

Sesederhana apapun nama kita, ada harapan, doa dan amanat di dalamnya. Mari jadikan nama kita sebagai penjaga dan pengingat kita atas perbuatan yang akan kita lakukan. Jangan sampai orang tua malu dengan perbuatan kita yang jauh dari harapan yang melekat di sebuah nama.

Selasa, 31 Mei 2011

Melatih Kemandirian Anak

Beberapa waktu yang lalu, anak lelaki saya yang duduk di kelas 5 SD minta agar dibelikan handphone yang bermodel QWERTY. Bukan tanpa alasan, dia menceritakan bagaimana teman-teman sebayanya di sekolah, telah mempunyai handphone. Dengan bangganya mereka selalu membagi-bagi nomor handphone yang dimilikinya kepada teman-teman lainnya. Belum lagi fasilitas game, video, kamera yang merupakan bawaan handphone dapat dimainkan setiap kali mereka ingin. Hmm..anak mana yang tidak pengin seperti itu. Menanggapi permintaan anak, saya kemudian saya berpikir, apakah memang anak seusia dia sudah memerlukan handphone dengan tipe smartphone?

Di sekitar kita, anak SD menggunakan smartphone, sejenis Blackberry atau merk yang lain, bukanlah pemandangan yang langka. Bahkan kita juga sering melihat anak usia SMP sudah membawa mobil ketika berangkat ke sekolah. Barangkali juga sering anak kita merengek, “ Yah, yuk kita makan di luar, di restoran anu.” Padahal makanan sudah siap tersaji di rumah. Pola hidup konsumtif sudah menjadi barang biasa di sekitar kita. Orang tua dengan alasan kasih sayang kepada anak dan didukung kemampuan ekonomi untuk memenuhi, sering menuruti apa yang dimaui oleh anak-anaknya. Hal itu menurut saya hal tersebut tidak salah, karena anak adalah buah hati, buat apa bekerja mencari uang kalau bukan untuk membahagiakan buah hatinya. Kesalahan dari sikap seperti itu adalah seringnya tidak memperhatikan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan.

Kebiasaan menuruti apa yang menjadi keinginan anak, apabila dibiarkan dan tidak terkontrol, akan menjadi panyakit yang akan merusak jiwa anak-anak, karena anak akan terbiasa terpenuhi apa yang menjadi keinginannya. Pemberian fasilitas untuk memenuhi semua permintaan anak akan membentuk karakter konsumtif, karena secara tidak langsung orang tua akan membentuk karakater tersebut. Pada awalnya, hal tersebut hanya akan menjadikan anak menjadi manja, tidak mandiri dan cenderung egois di hadapan teman-temannya. Ketika karakter yang yang terbentuk pada diri anak tersebut akan mengikut sampai usia dewasa, maka disinilah letak bahayanya. Apabila di masa yang akan di datang, orang tuanya jatuh misikn atau sudah tidak bisa memenuhi keinginan dan kebutuhannya, maka anak dengan karakter konsumtif dan manja tadi akan sangat merasakan dampaknya. Sebuah survey yang pernah saya baca, 80% eksekutif muda dengan penghasilan paling rendah Rp. 15 juta terancam misksin pada masa tuanya, karena gaya hidup yang hanya menuruti gengsi demi status sosial, dengan menghambur-hamburkan uang hanya untuk menuruti keinginannya.

Seorang psikolog dalam sebuha artikel mengatakan, sebenarya hal tersebut dapat diantisipasi dengan menanamkan pola pikir bahwa memenuhi kebutuhan anak itu adalah penting namun harus didasarkan pada alasan kebutuhan, bukan karena keinginan anak, gengsi terhadap anak lainnya atau hanya sekedar menuruti kemauan anak. Orang tua harus secara bijak bisa menanamkan pola pikir kepada anak, bahwa pada waktu yang akan datang dia harus mandiri dan orang tua tidak bisa memberikan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Orang tua perlu berbicara dengan bahasa yang mudah dan sederhana kepada anaknya dalam menyampaikan hal tersebut dan dibarengi dengan sikap selektif dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan anak.

Mengajarkan sejak dini kepada anak tentang bagaimana membedakan antara kebutuhan dan keinginan juga harus dilakukan. Orang tua harus mampu menjelaskan tentang kebutuhan apa yang sesuai dan manfaat apa yang dapat diperoleh. Mengajarkan untuk berperilaku hemat atas uang yang dimiliki perlu juga ditanamkan kepada anak, walaupun mungkin jumlah uang yang dimilikinya hanya sedikit. Dengan kebiasaaan sepert ini, anak akan mempunyai karakter yang mandiri dan tidak bergaya hidup konsumtif, dan tentunya merupakan bekal yang penting di masa yang akan datang.

Kemudian kembali ke pertanyaan awal, perlukah anak SD dibelikan smartphone atau minimal handphone QWERTY?

Selasa, 24 Mei 2011

Arti Sebuah Konsekuensi

Beberapa hari ini, pemberitaan tentang tentang kasus korupsi di negara kita memasuki waktu-waktu yang sangat krusial. Beberapa kasus korupsi yang akan maupun sedang diungkap mulai menyentuh orang-orang yang cukup penting sebuah partai, maupun pejabat publik.

Setelah sekian lama KPK tidak bisa menentukan status hukum salah seorang sosialita dalam penanganan kasus korupsi cek pelawat yang menyeret beberapa anggota dan mantan anggota DPR, akhirnya KPK punya keberanian menetapkan sosialita tersebut, yang juga salah seorang istri mantan pejabat penting, sebagai tersangka pemberi suap. Kasus yang saat ini sedang hangat juga adalah kasus dugaan korupsi pembangunan Wisma Atlet Sea Games, yang konon katanya melibatkan bendahara umum partai yang sedang berkuasa di negeri ini. Belum lagi pemberitaan tentang korupsi Wisma Atlet reda, sang bendahara dihadapakan pada dugaan kasus suap terhadap Mahkamah Konstusi senilai hampir Rp. 1 Milyar. Dua contoh kasus yang melibatkan seorang sosialita dan seorang pengusaha kaya.

Dari dulu, pertanyaan yang membuat saya heran adalah kenapa mereka yang menjadi tersangka sebuah kasus korupsi , mau-maunya melakukan perbuatan yang sangat rendah tersebut. Apalagi apabila dicermati, hampir semua kasus korupsi yang terjadi di negeri ini melibatkan orang-orang yang secara ekonomi mapan bahkan berkelebihan. Secara ekonomi, hidup sudah nikmat; kebutuhan sudah bukan merupakan barang yang mahal lagi; relasi sudah tidak terbilang dari yang golongan strata rendah maupun strata tinggi. Apa sebabnya mereka mau melakukan sebuah tindakan yang nantinya akan merugikan dirinya sendiri? Apakah mereka tidak membayangkan sebuah hunian penjara yang tidak nyaman akan menyambut mereka? Apakah mereka tidak membayangkan nasib keluarganya akibat sanksi sosial? Yang jelas, saya masih saja terheran-heran sampai dengan saat ini.

Yang bisa sedikit menjawab keheranan saya adalah adanya sebuah teori tentang perbuatan, yaitu teori utilitas. Menurut teori ini, manusia akan melakukan sebuah tindakan pastinya melalui sebuah perhitungan tentang manfaat yang didapat dan biaya yang akan dilkeluarkan. Tindakan akan dilakukan apabila ternyata keuntungan jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.

Para koruptor melakukan tindakan tersebut karena ada sebuah keuntungan yang akan dia dapatkan. Yang jelas mereka sudah melakukan analisis untung rugi, walaupun mungkin menurut perhitungan orang awam seperti saya, perhitungan untung rugi yang dilakukan mereka tidak masuk dalam logika perhitungan saya. Mereka tentunya akan melakukan perenungan masak-masak sebelum perbuatan itu dilakukan, dan hasil perhitungan dia, mungkin resiko terungkapnya sangatlah kecil, dan keuntungan yang akan didapatkan sudah tampak di depan mata.

Dalam sebuah analisis untung rugi, resiko adalah masuk dalam kategori biaya (rugi). Terkadang dalam menentukan berapa keugian yang mungkin akan didapatkan, manusia sering hanya menghitung dengan satuan yang setara dengan perhitungan keuantungan. Ada satu sisi resiko yang sering dilupakan manusia dalam perhitungan rugi tersebut. Sisi tersebut adalah sebuah konsekuensi. Ketika seseorang melakukan perbuatan asusila dengan seseorang lainnya dalam suatu ruangan yang tersembunyi, sudah digelapkan dan di luar jam kantor, resiko untuk ketahuannya tentulah amat kecil. Namun di sisi resiko yang sangat kecil tersebut, ada suatu sisi konsekuensi yang luar biasa besar, apabila perbuatan tersebut diketahui oleh orang lain, misalnya dikucilkan dari pergaulan teman satu kantor ataupun mungkin bahkan keduanya akan diberhentikan dengan tidak hormat oleh perusahaan tersebut. Perhitungan resiko seorang koruptor, mungkin hanyalah sebatas jumlah bulan berada di penjara saja. Ada satu sisi konsekuensi dari hukuman tersebut yang tidak terbayang sebelumnya sehingga tidak masuk dalam perhitungannya, antara lain sanksi sosial buat keluarganya dan masa depan yang tidak senyaman seandainya gelar koruptor tidak disematkan.

Hukum Tuhan di dunia ini memang sudah adil, sebuah perbuatan yang baik akan menghasilkan sebuah kebaikan juga. Dan sebaliknya sebuah kejahatan yang menghasilkan sebuah resiko dan konseksuni keburukan yang akan menimpa si pelaku kehajatan tersebut. Ada sebuah teori tentang konsekuensi yang pernah saya baca. Teori ini membahas beberapa premis yang terkait sdengan sebuah konsekuensi.

Yang pertama adalah perbuatan apapun di dunia ini pasti mengandung sebuah konsekuensi tertentu. Apakah itu perbuatan dalam skala besar atau perbuatan dalam skala yang sangat kecil, semuanya akan mengandung sebuah konsekuensi. Sebuah tindakan kebaikan ataupun kemaksiatan dilakukan manusia walaupun hanya sebesar biji atom akan mempunyai sebuah konsekuensi. Kita bersin, kita mencuri, kita berbohong, kita tidak serius, semua pasti ada konsekuensinya. Itulah yang disebut dengan sunatullah, sebuah ketentuan Allah.

Yang kedua adalah bahwa konsekuensi dari sebuah perbuatan dikendalikan oleh hukum alam. Manusia mengira bahwa semua perhitungan untung rugi yang telah dia lakukan sebelum memutuskan suatu perbuatan, akan berjalan sesuai dengan skenario dia. Ia mengira bahwa resiko dan konsekuensi itu bisa diatur dan dikendalikannya. Ia menduga bahwa konsekuensi itu bisa dihilangkan dengan berbagai cara dengan meminimalkan resiko.

Konsekuensi bukan diatur oleh manusia. Konsekuensi akan mengikuti sunatullah atau hukum alam. Sepandai-pandainya Gayus menutupi perbuatan busuknya, akhirnya ada suatu ketentuan yang berada di luar kendalinya yang kemudian membuka aibnya. Hukum alam itu kemudian menjadikannya sebagai seorang pesakitan seperti saat ini. Seorang pengendara sepeda motor, seandainya tahu bahwa masuk dalam jalur bus way mempunyai resiko tertabrak dan bisa berujung kematian dan ia memahaminya dengan sungguh-sungguh, tentunya dia tidak akan masuk dalam jalur tersebut. Prinsipnya manusia bisa saja menghitung untung dan rugi dari perbuatannya, tapi Tuhanlah yang akan mengatur semuanya.

Yang ketiga adalah adalah terdapat jeda antara perbuatan dan konsekuensi yang akan diterima. Inilah yang disebut dengan time of response. Konsekuensi tidak serta merta datang segera setelah perbuatan dilakukan. Jeda inilah yang sering membuat orang mengira bahwa apa yang dia lakukan aman-aman saja, seolah-olah mereka tidak akan mendapatkan kerugian dari perbuatan tersebut. Jangka waktu antara perbuatan dan konsekuensi berbeda-beda. Mungkin saja seorang yang berselingkuh akan tetap disayang istri atau suaminya, mungkin saja seorang koruptor akan menjadi seorang manusia yang terhormat di masyarakat, mungkin saja pembohong masih akan dipercaya, tapi semua itu adalah soal waktu saja. Seperti sebuah pepatah sepandai-pandai tupai melompat akhirnya dia akan jatuh juga. Adanya time of response inilah yang sering membuat manusia lengah, merasa nikmat, terbuai, merasa aman, sehingga menimbulkan efek ketagihan untuk melakukan yang serba lebih lagi, hingga suatu saat dia akan terpeleset dan diungkap semua kemaksiatannya. Barulah saat itu dia melakukan penyesalan.

Yang terpenting adalah marilah kita sadar, bahwa ada kekuatan Tuhan yang akan mengatur semua perbuatan yang kita lakukan. Serumit apapun, sedetail apapun perhitungan kita atas suatu perbuatan yang kita lakukan, pastilah ada satu sisi yang akan berjalan sesuai dengan hukum alam. Konsekuensi adalah rahasia Ilaahi, musykil apabila manusia berusaha mengakalinya, karena sama saja dia berusaha mengakali Tuhannya.

Kamis, 19 Mei 2011

Kemanakah Mencari Bahagia..?

Bahagia itu letaknya di dalam jiwa.......maka jangan melihat milik orang lain karena itu bukan kepunyaan kita agar kita tetap selalu bahagia.

Itulah status yang tertulis pada account gtalk istri saya. Membaca tulisan tersebut perasaan saya mendadak menjadi tidak enak. Sebuah pertanyaan kemudian muncul dalam pikiran saya, penasaran saja. “Apakah ada sesuatu, apakah ada permintaan istri tidak saya turuti sehingga dia menampilkan kekecewaaannya dalam sebuah status gtalk.” Untuk mengobati penasaran saya, kemudian saya coba konfirmasi ke istri saya, tapi ternyata jawabannya “tidak”. Mendengar jawaban tadi, saya kemudian malah berpikir, “Wah, kayaknya status gtalk tadi malah menyindir aku, jangan-jangan istriku mempunyai parasangka bahwa aku memendam sebuah keinginan yang sebenarnya tidak pantas untuk dipengini.”

Kita tinggalkan kalimat tadi. Apapun alasan istri memajang kalimat tersebut, apabila dipikirkan, apa yang ditulis istri saya itu memang benar.

Ketika kita melihat seorang petani berada di tengah sawah, duduk di pematang sawah yang basah, sedang beristirahat sembari menikmati dengan lahap sepiring nasi dan segelas teh panas manis yang dibuatkan istrinya, maka yang terbayang kita adalah betapa nikmatnya mereka. Apalagi ketika kemudian dia menghisap rokok hasil buatannya sendiri, dan menghembuskan asapnya pelan-pelan, maka terbayang alangkah bahagianya hidup mereka, seolah tiada beban kehidupan yang dipikulnya. Alangkah bahagianya apabila kita bisa merasakan sebuah kebahagiaan seperti mereka.

Seorang pengemis hidup di kolong jembatan dengan segala keterbatasannya, tanpa alas tidur, tanpa atap rumah dan tanpa pakaian yang layak. Ketika melintas sebuah mobil mewah, tentu mereka akan berpikir, alangkah nikmatnya pemilik mobil itu. Dia mempunyai mobil mewah, rumah besar dengan fasilitas lengkap, kehidupan yang berkecukupan. Pastilah dia mempunyai keluarga yang bahagia, istri yang sangat menyayangi, anak-anak yang menyenangkan. Betapa bahagianya apabila aku menjadi seperti dia, begitulah lamunannya.

Ketika melihat seorang wanita yang berwajah cantik, berparas ayu, berbadan bak bidadari, maka seorang lelaki terkadang berpikir alangkah bahagianya lekaki yang memiliki istri wanita itu. Pastilah dia akan selalu lengket dan memanjakan istrinya; dia akan selalu berdekat-dekatan dengan istrinya; pastilah si suami itu akan sangat betah untuk bercengkerama dengan istrinya. Alangkah bahagianya seandainya aku mempunyai istri wanita itu, pikir lelaki itu. Begitu pula sebaliknya sebagian wanita yang sudah berkeluarga ketika melihat seorang lelaki yang tampan, pasti akan berpikir, alangkah bahagianya hidup ini bila punya pendamping seperti dia.

Seorang pegawai rendahan ketika melihat pimpinannya, akan berpikir alangkah nikmatnya menjadi bos. Mudahnya mereka bekerja hanya dengan memberikan perintah, betapa nikmatnya dia mempunyai gaji yang jauh lebih besar. Alangkah gampangnya seandainya mereka menginginkan sesuatu tinggal ambil uang dan membelinya. Lain dengan aku yang harus mengekang keinginan karena keterbatasan uang. Seandainya saja aku menjadi seperti dia, begitulah pikir si pegawai tadi, pastilah aku akan membahagiakan keluargaku.

Sebaliknya, ketika si pimpinan melihat pegawainya, dia akan berpikir, begitu bahagianya para buruh itu. Mereka bekerja seolah tanpa beban. Mereka bekerja tanpa harus membuat pertanggungjawaban yang rumit, tinggal melaksanakan perintah. Mereka selalu bekerja dengan diiringi tawa, kelakar dan canda sesama buruh. Begitu menikmatinya mereka. Seandainya aku seperti dia, begitulah pikir si bos tadi.

Begitulah kehidupan berjalan. Seseorang akan selalau membuat pangandaian, berkhayal, memimpikan sesuatu yang tidak bisa dialaminya saat ini. Melihat seseorang mempunyai istri cantik atau suami tampan, maka ia akan membayangkan betapa bahagianya mempunyai istri yang cantik atau suami yang tampan. Melihat seseorang begitu nikmatnya melakoni pekerjaaanya dengan kelakar dan tampak nyaman, ia akan berkhayal, andaikata aku bisa seperti itu ….. “Andai saja aku bisa seperti dia, betapa bahagianya….”

Itulah sebabnya orang tidak bahagia. Karena ia mengharapkan sesuatu yang tidak nyata. Ia mengkhayalkan sesuatu yang bukan dirinya. Ia membayangkan posisi yang bukan haknya. Ia terus dikejar keinginan yang tidak pernah terlaksana. Ia mengejar kebahagiaan seperti yang ia lihat pada orang lain. Ia mencari kebahagiaan sebagaimana ia saksikan pada banyak kalangan manusia.

Kalau semua manusia seperti tu maka dia tidak akan menemukan arti kebahgaian itu sendiri. Mereka akan kesulitan untuk menemukan definisi kata bahagia. Karena mereka akan mengartikan bahagia itu berdasarkan apa yang mereka lihat, rasakan, bayangkan pada diri orang lain. Selama orang masih merasakan kebahagiaan dengan berstandarkan pada orang lain, sampai kapan pun dia tidak akan merasa bahagia. Merek akan kesulitan memberikan makna bahagia karena dia sendiri belum bisa merasakan kebahagiaan.

Mengutip kalimat dalam tulisan Pak Cah, untuk dapat merasakan kebahagiaan, manusia harus masuk ke dalam dirinya sendiri, dan menemukan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri. Harusnya ia selalu menikmati semua yang ada. Merasakan kasih sayang Tuhan dalam setiap kejadian yang menimpanya. Menghayati kehidupan dari semua pemberian Tuhan yang didapatkan setiap hari. Sedikit atau banyak, itu tinggal cara kita menghitungnya.

Kebahagaian bukan berada dalam sebuah mobil mewah, istri cantik, suami tampan, rumah mewah. Tapi kebahagiaan adalah adalah sebuah perasaan yang ditimbulkan dari bagaimana kita bisa merasakan nikmat yang ada dalam diri kita.

Mobil, rumah mewah, pakaian adalah pelengkap kehidupan, kecantikan dan ketampanan adalah sebuah hiasan saja, jabatan adalah suatu titipan saja dalam kehidupan ini. Mereka tidak akan membuat kita menjadi bahagia apabila kebahagiaan disandarkan pada hal-hal tersebut, karena memang letak bahagia bukan dalam barang dan atribut tadi.

Kebahagiaan hanya bisa dimunculkan dari dalam diri kita. Bahagia itu letaknya di dalam jiwa, bukan pada hal-hal yang menjadi penghias kehidupan. Bahagia tidak bisa disamakan gemerlapnya sebuah kehidupan, karena bahagia adalah sesuatu yang abstrak dan hanya bisa diukur dengan dengan jiwa yang nrimo dan pikiran yang selalu dipenuhi husnudzon kepada Sang Pencipta.

Apabila kita belum mendapatkan kebahagiaan, maka carilah kebahagiaan dengan menyelam ke dalam jiwa kita sendiri. Bukan dengan mengkhayalkan hak orang lain yang tidak kita miliki. Jika anda terus mencari-cari kebahagiaan kepada benda-benda, selamanya anda tidak akan pernah bisa merasakan bahagia. Jika anda terus menerus mencari kebahagiaan kepada atribut-atribut, selamanya anda tidak akan pernah bisa merasakan bahagia.

Bahagia itu letaknya di dalam jiwa. Benda-benda, atribut-atribut, asesoris-asesoris, itu hanya hiasan saja. Sama dengan hiasan lainnya. Karena bahagia itu letaknya di dalam jiwa.......maka jangan melihat milik orang lain karena itu bukan kepunyaan kita agar kita tetap selalu bahagia. Marilah kita segera temukan bahagia dalam hidup ini apapun kondisi hidup kita saat ini.



(semoga bermanfaat...saya sangat senang apabila pembaca berkenan memberikan komentar untuk perbaikan...)

Sabtu, 14 Mei 2011

Catatan Kecil tentang Lagu

Kata orang, di zaman sekarang, manusia dan musik adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan. Ibarat satu keping mata uang, sisi yang satu selalu akan disertai dengan sisi yang lainnya. Tanpa alunan musik dan untaian syair-syair lagu, manusia ibarat berjalan dalam sebuah padang yang gersang dan tandus. Seperti sebuah sayur tanpa garam. Ibarat minum kopi tanpa gula. Terasa pahit dan tidak menimbulkan selera. Bahkan secara ekstrim ada yang mengatakan, seperti kehidupan tanpa air, suatu perjalanan tanpa masa depan.

Banyak orang berpendapat, bahwa hidup ini kan terasa berwarna apabila lagu dan musik menjadi bagiannya. Suasana sedih akan berubah dengan sendiri menjadi gembira dengan alunan tembang. Suasana stress akan menjadi lega dengan sebuah dendangan yang menghibur. Suasana gembira akan menjadi kian ceria dengan lagu yang riang. Bahkan rasa takut akan dapat dilawan dengan sebuah mars yang menggelora. Dengan kata lain, musik dan lagu dapat digubah dan dinyanyikan untuk segala suasana.

Tidak kita pungkiri bahwa lagu adalah hiburan yang sangat ampuh untuk mengobati setiap duka. Lagu bisa menjadi penggugah inspirasi bagi pendengarnya. Lagu-lagu yang dikumandangkan oleh Ulli Sugar Rusadi akan menjadi inspirasi untuk mencintai alam ini dengan semestinya. Lagu juga bisa menjadi alat kritik bagi penguasa yang sudah kebal dengan unjuk rasa yang biasa. Kita bisa lihat kritik dan sindiran Iwan Fals dalam lagu-lagunya. Lagu juga bisa menjadi sarana untuk mendekatkan cinta kita pada sesama bahkan kepada orang yang terdekat dengan kita. Banyak lagu yang bertemakan tentang ibu atau bunda. Lagu-lagu tersebut dipastikan akan berisi syair-syair pujian untuk bunda, syair yang mengingatkan betapa besar jasanya pada anaknya.

Berdendang dan bernyanyi bahkan sudah merupakan proses dari pendidkan yang diberikan orang tua kepada anaknya. Kasih sayang ibunda sudah diberikan kepada anaknya ketika masih dalam kandungan dengan memberikan alunan musik yang lembut. Dengan memperdengarkan lagu-lagu gubahan Mozart pada bayi yang dikandungnya, sang ibu berharap anaknya akan mendapatkan rasa kasih sayang yang cukup, bisa meningkatkan kecerdasan anak dan tentunya setelah anaknya lahir menjadi anak yang cerdas dengan masa depan yang cerah.

Namun apakah semuanya itu benar. Apakah lagu dapat memberikan memberikan kesembuhan pada seseorang yang sedang sakit? Apakah lagu dapat memberikan kecerdasan dan kelembutan pada bayi yang ada dalam kandungan? Apakah lagu dapat meningkatkan semangat untuk meningkatkan kehidupan? Apakah lagu dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi? Jawabannya tidak semuanya benar, bahkan mungkin ada lagu yang memberikan pengaruh jelek terhadap kejiwaan seseorang. Kadang ada syair lagu yang memberikan pengaruh pendengarnya menjadi cengeng, atau lagu juga bisa menjadikan pendengarnya menjadi beringas.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh John Hughes, seorang neurolog dan musikolog dari Medical Centre University, memberikan simpulan bahwa ada dua jenis lagu atau musik yang memberikan pengaruh baik terhadap otak dan kejiwaan seseorang. Yaitu lagu yang merangsang rohani dan lagu-lagu yang bernuansa keindahan.

Lagu yang merangsang rohani adalah lagu-lagu yang bisa membangkitkan pendengarnya untuk lebih dekat dengan penciptanya. Lagu jenis ini bisa mengingatkan manusia bahwa ada sebuah kekuasaan yang maha tingggi, yang dengan mudahnya dapat menggerakakn manusia sesuai dengan keinginaan-Nya. Lagu inilah yang bisa memdorong pendengarnya untuk lebih banyak melakukan aktivitas sptiritual dalam hubungannya dengan Tuhannya. Manusia akan terpacu untuk meningkatkan amal kesholehannya, karena lagu tersebut mengingatkan adanya sebuah kehidupan lain yang lebih kekal dan lebih indah. Lagu-lagu ini yang mampu merangsang rohani seseorang dan secara tidak langsung akan membangkitkan semangat manusia untk mengisi kehidupan dengan aktivitas positf dan mempunyai nilai dihadapan Tuhannya.

Selain itu, lagu yang mempunyai pengaruh baik terhadap kejiwaan manusia adalah lagu-lagu yang bernuansa keindahan. Lagu-lagu yang dapat mengingtakan akan pada indahnya alam, lagu-lagu yang dapat mengingatkan manusia akan indahnya persaudaraan dan persahabatan. Begitu pula lagu-lagu yang bercerita tentang kemuliaan dan jasa seseorang. Semua lagu yang bersyairkan tentang keindahan akan memberikan energi positif ke dalam diri manusia agar dia mencintai dan melakukan suatu perbuatan yang indah. Lagu-lagu dalam kriteria ini juga dapat meluluhkan kerasnya jiwa seseorang, karena mengandung pesan tentang indahnya rendah hati. Lagu ini dapat menghilangkan sifat kikir karena syair lagu ini berpesan tentang indahnya berbagi.

Tinggal kita mau pilih lagu yang mana???

Doa Indah untuk Sebuah Rezeki

Berdoa adalah hak dan sekaligus kewajiban setiap manusia. Dalam doa banyak sekali permintaan yang diucapkan manusia. Ada yang minta diberikan keselamatan, jodoh, kesehatan, dan salah satunya yang sangat populer adalah doa minta rezeki. Rezeki adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia.
Terkadang manusia sangat pragmatis dalam doanya. Tanpa basa basi, mereka langsung saja mengucapkan permintaan secara straight to the point. Terkadang kalimatnya pun singkat, padat dan tanpa pilihan kata yang membuat kalimat doa menjadi indah. Kita tahu bahwa doa adalah sebuah permintaan. Sebuah permintaan seharusnya diungkapkan dengan bahasa yang indah, sehingga Allah terrayu dan akhirnya dengan ringannya akan memberikan apa yang diminta. Allah itu maha Indah dan akan sangat menyukai hal-hal indah.
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Cahyadi Takariawan (biasa di panggil Pak Cah), saya menemukan sebuah doa tentang permintaan rezeki yang indah.Konon doa ini dipanjatkan seorang shalih kepada Allah, dengan suasana khusyu penuh ketundukan dan pengharapan pada waktu di ujung malam, menjelang Subuh. Beginilah munajat ke haribaanNya.

“Ya Allah, limpahkanlah kepadaku rejeki yang halal, thayyib, barakah, banyak dan mencukupi. Bukan rejeki yang haram dan syubhat. Bukan rejeki yang menjauhkanku dari kebaikan. Namun juga bukan rejeki yang sedikit, yang tidak mencukupi keperluan hidupku. Limpahkan rejeki yang banyak, yang membuatku bisa mencukupi semua keperluan hidupku dan keluargaku. Yang membuatku bisa memberikan bantuan kepada siapapun yang memerlukan….”
“Ya Allah, aku takut jika Engkau memberikan rejeki sedikit kepadaku, membuat aku meminta-minta kepada hambaMu untuk mencukupi keperluan hidupku. Jika aku meminta-minta kepada hambaMu, aku takut akan memuji-muji mereka yang memberiku, dan akan membenci mereka yang tidak mau memberiku. Jika seperti itu keadaanku, niscaya aku menjadi orang yang tidak berlaku adil…”
“Ya Allah, jauhkan aku dari meminta-minta kecukupan rejeki kepada hambaMu. Cukupkan aku dengan rejeki yang Engkau limpahkan kepadaku…..”

Doa ini membumbung tinggi menembus langit…..
Konon, dia orang shalih pertama yang mengucapkan doa seperti ini. Mungkin saja kita mengikutnya……Semoga Allah mendengar doa kita dan mengabulkan harapan-harapan kita.