Kamis, 07 April 2011
Antara Korupsi, Malinda Dee dan Malu
Rabu, 06 April 2011
Sampai dengan Selesai
tulisanku, 05-04-2011, pukul 20.30 WIB
Selasa, 05 April 2011
Kasus PKS : Perpecahan atau Sebuah Teguran *)
Rabu, 30 Maret 2011
Efek Doraemon
Jumat, 25 Maret 2011
Di bawah PTKP, Perlukah Menyampaikan SPT Tahunan?
Pasal 3 ayat (1) UU KUP menyatakan bahwa setiap Wajib Pajak harus menyampaikan Surat Pemberitahunan Pajak. SPT disini meliputi SPT Masa dan SPT Tahunan. Dari pernyataan tersebut, pada prinsipnya semua orang pribadi yang sudah memilki NPWP (selain NPWP istri) wajib menyampaikan SPT Tahunan Orang Pribadi. Namun pada Pasal 3 ayat (8) UU KUP menyatakan bahwa kewajiban menyampaikan SPT tersebut dikecualikan untuk WP tertentu, yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 183/PMK.03/2007 tanggal 28 Desember 2007, diatur tentang WP tertentu yang dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT yaitu :
- Dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Masa dan Tahunan PPh Pasal 25 bagi WP Orang Pribadi yang dalam satu tahun pajak menerima atau memperoleh penghasilan netotidak melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 UU Perubahan Ketiga PPh Tahun 1984.
- Dikecualikan dari menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 25 bagi WP Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha dan pekerjaan bebas.
Jadi yang dapat disimpulkan dari beberapa ketentuan di atas adalah :
- WP orang pribadi yang mempunyai penghasilan netto dalam setahun di bawah PTKP dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Masa dan Tahunan PPh Orang Pribadi (Pasal 25) baik dari kelompok WP yang menjalankan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas ataupun yang tidak menjalankan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.
- WP orang pribadi Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha dan pekerjaan bebas dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 25;
- WP yang mempunyai penghasilan netto melebihi PTKP, maka WP tersebut harus menyampaikan SPT Tahunan PPh OP menggunakan formulir sesuai dengan jenis dan sumber perolehan (formulir 1770 SS, 1770 S atau 1770);
1. Permasalahan bagi WP: Masa dan Tahun Pajak kapan boleh tidak menyampaikan? Dan WP harus bagaimana?
Belum lagi karena merasa masuk dalam kelompok WP OP yang dikecualikan tadi, kemudian WP tidak menyampaikan SPT, apakah ada jaminan kantor pajak tidak menerbitkan teguran atau mungkin menerbitkan STP. WP pun mungkin akan memilih menyampaikan saja SPT-nya.
Untuk WP OP yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas mungkin akan lebih mudah dalam pengawasan SPT Masa-nya, karena kalau pemberian kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU)nya tepat maka kelompok WP ini akan mempunyai KLU empat digit pertama 9500. Jadi tinggal dilihat saja WP yang mempunyai kode KLU tersebut tidak perlu diterbitkan STP PPh Pasal 25, karena memang tidak wajib menyampaikannya.
Penulis berpendapat perlu segeranya dibuat peraturan sebagai petunjuk pelaksanaan lebih lanjut atas Peraturan Menteri Keuangan tersebut sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 4 ketentuan mengenai tata cara administrasi SPT untuk WP OP tertentu tersebut diatur dengan Peraturan Dirjen Pajak. Sebagaimana peraturan sebelumnya (yang telah dicabut dengan Peraturan Menteri keuangan di atas) yaitu Keputusan Menteri keuangan Nomor 535/KMK.04/2000 tanggal 22 Desember 2000 yang mengamanatkan adanya Keputusan Dirjen Pajak untuk mengatur petunjuk pelaksanaannya, namun sampai dengan PMK tersebut dicabut ternyata belum ada Kepdirjen-nya.
- WP tertentu yang melakukan kegiatan usaha dan pekerjaan bebas yang dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Tahunan tadi dikenakan kewajiban menyampaikan surat pemberitahuan bahwa tidak menyampaikan SPT Tahunan dengan alasan penghasilan netto-nya di bawah PTKP. Penyampaian surat tadi akan mempermudah bagi KPP dalam administrasinya sehingga bisa membedakan dengan WP yang memang tidak menyampaikan SPT Tahunan dengan alasan selain alasan tersebut.
Penyampaian surat pemberitahuan sekaligus menghilangkan kewajiban penyampaian SPT Masa PPh Pasal 25 untuk tahun berikutnya, namun apabila dalam tahun berjalan pada tahun berikutnya tersebut, menurut catatan atau pembukuannya penghasilannya melebih PTKP maka WP tersebut harus menyampaikan SPT Masa lagi. - WP tertentu yang tidak melakukan kegiatan usaha dan pekerjaan bebas yang dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Tahunan tadi cukup dikenakan kewajiban menyampaikan surat pemberitahuan bahwa tidak menyampaikan SPT Tahunan dengan alasan penghasilan netto-nya di bawah PTKP.
Untuk WP, saya menyarankan sebaiknya tetap menyampaikan SPT Masa dan Tahunan (SPT Nihil) walaupun penghasilan nettonya di bawah PTKP, karena sampai saat ini belum ada petunjuk pelaksanaan tata cara administrasi di KPP, dikhawatirkan karena tidak adanya adminstrasi di KPP, WP tetapa akan dikenakan surat teguran ataupun STP.
tulisanku, 25-03-2011, 07.30 WIB
Minggu, 20 Maret 2011
Empat Hal Tentang Harta
Manusia dan harta adalah suatu hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Harta menjadi isu yang tidak akan habis dibahas atau dibicarakan. Apalagi semakin tinggi tingkat kesejahteraan seseorang saat ini, walaupun memang tidak dapat dipungkiri masih banyak saudara-saudara kita yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Saya masih ingat ketika waktu saya kecil, kalau mau makan telur saja, ibu saya harus menggorengnya dicampur dengan tepung agar dapat merata bagi seluruh anggota keluarganya, atau apabila itu adalah telur bulat, maka harus dibagi 2 atau 3 agar merata juga. Saya masih ingat ketika waktu itu, ayah saya yang seorang guru SD, hanya mempunyai kendaraan bermerk vespa, dan sekarang akhirnya sudah bisa membeli tiga kendaraan roda dua untuk anggota keluargaku.Indikator tidak ilmiah itulah yang bisa saya rasakan untuk mengukur tingkat kesejateraan masyarakat kita.1. Antara kebutuhan dan keinginan
Sekilas dua kata tersebut memiliki makna yang mirip, namun sesungguhnya kedua kata tersebut memiliki makna yang sangat jauh berbeda, apalagi dari kata saja sudah berbeda. Keinginan untuk memiliki sesuatu adalah sudah merupakan fitrah manusia. Fitrah itulah yang kemudian menjadikan manusia menjadi makhluk yang kreatif. Ia akan menggunakan segala kemampuannya agar dia dapat memilki sesuatu itu yang diinginkan. Dorongan untuk memiliki tadi bersumber pada dua hal yang saya sebutkan di atas, yaitu kebutuhan dan keinginan. Kedua kata tersebut akan bermuara pada tujuan akhir yang sama yaitu dimilikinya suatu benda (dengan asumsi bahwa didukung oleh kemampuan finasial atau dana). Namun sebagai seorang muslim, kita harus mendasarkan kepemilkian suatu harta atau benda itu karena kebutuhan bukan karena keinginan.
”Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” [Al An’aam:141]
- Hatinya akan menjadi lebih tawakal dan hidupnya akan menjadi hidup yang qonaah.
Apa yang dimiliknya sudah dianggap cukup, karena apa yang dimilkinya tadi adalah apa yang dia butuhkan. Hidupnya tidak akan merasa terongrong perasaan oleh orang lain yang selalu menambah jumlah hartanya. Seorang muslim yang mampu berpikir tentang apakah yang menjadi kebutuhannya dan itulah yang dia miliki, maka ia tidak akan jatuh dalam penyakit hati yang disebut dengan iri. Bukankah kata Rasulullah kita hanya boleh iri terhadap orang yang berilmu dan orang yang berharta tapi dia dermawan. - Kesempatan untuk lebih banyak berinfaq.
Orang yang hanya memilki karena memang kebutuhan, ada kemungkinan dia menyimpan sisa harta yang tidak dia belanjakan untuk keinginannya. Secara tidak langsung ada saving dari sisa kebtuhannya. Kesempatan berinfaq inilah yang menjadi lahan pahala bagi orang seperti itu. Tujuan hidup manusia adalah bagaimana mengumpulkan bekal untuk akhiratnya. Bekal akhirat hanya bisa dikoleksi ketika kita hidup di dunia. Atau dengan kata lain bekal untuk akhirat adalah kebutuhan manusia juga, sehingga ketika manusia mengesampingkan keinganannya sehingga bisa ditransfer untuk kebutuhan akhiratnya, saya berpendapat itulah seorang muslim yang bijaksana.
2. Memiliki barang yang memliki kemanfaatan bagi orang lain
Kalau bicara harta, manusia cenderung bicara tentang hak. Kalau memang mempunyai kemampuan untuk memiliki karena didukung oleh dana, apa salahnya, demikian kata sebagian orang. Pernah ada kawan yang berdalih, toh itu uang saya, saya sudah hajikan kedua orangtua saya dan saya sudah tunaikan semuanya yang menjadi haknya, lalu apa salahnya kalau saya beli ini dan itu. Sebuah perkataan yang tidak bijak menurut saya.
Manusia adalah makhluk sosial. Interaksi dengan masyarakat adalah salah satu konsekunsi dari statusnya sebagai makhluk sosial. Masyakarat adalah bagian yang sangat bepengaruh terhdap kehidupan manusia. Karena merekalah bagian dari kehidupannya setiap hari. Begitu penting berinteraskid dalam pergaulan sosial dengan masyarakat Rasulullah menyuruh kita untuk memperbanyak kuah masakan kita agar tertangga kita dapat ikut menikmatinya. Hadits tersebut sebenarnya menginsyaratkan kepada manusia, betapa pentingnya tetangga sehingga ketika kita melakukan kegiatan yang siftanya pribadi yaitu memasak, Rasulullah sampai memerintahkan untuk membaginya walaupun hanya kuahnya. Seperti pepatah Jawa mengatakan, omahmu pagerono nganggo rantang artinya buatlah pagar rumahmu dengan mangkok sayur, yang artinya bahwa cara terbaik untuk menjaga rumah kita dari kemungkinan bahaya tetangga adalah dengan senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan tetangga, yang diibaratkan selalu membagi makanan apabila kita mempunyai makanan.
”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [Al Baqarah:110]
Harta yang dimiliki oleh seorang muslim mempunyai hak yang harus ditunaikan. Hak tersebut bisa dengan nama zakat infaq dan shodaqoh. Namun sesungguhnya dalam tataran masyarakat ada sebuah hak yang muncul karena proses interaksi antar individu di dalam masyarakat. Hak tersebut muncul karena keterkaitan antar individu dalam pergaulan sosial. Adalah hak orang lain untuk bisa menggunakan harta yang dimilki oleh seseorang. Hak penggunaan orang lain tersebut disebabkan oleh kebutuhannya terhadap barang tersebut namun karena keterbatasannya orang tersebut tidak bisa memilikinya.
Rasulullah telah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang mempunyai manfaat bagi sesama. Kemanfaatan bagi orang lain hanya dapat timbul ketika seseorang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan pada saat itu orang lain membutuhkan. Contoh yang palng sederhana adalah, ketika kita mempunyai uang Rp. 50.000.000,- dan kemudian kita anggarkan untuk beli mobil, maka mobil apakah yang akan kita beli, sedan atau minibus (kijang misalnya)? Kalau pertimbangan kita adalah kemanfaatan barang tersebut bagi orang lain, sudah pasti kita putuskan untuk membeli kijang. Kijang yang memiliki daya muat lebih banyak dibandingkan sedan, tentunya kan mempunyai manfaat bagi orang lain, misalnya tetangga mempunyai kesempatan meminjamnya untuk keperluan hajatan.
3. Memaksimalkan harta yang dimilki untuk kepentingan dakwah Islam
Dengan pertimbangan 2 poin di atas, pada intinya apa pun yang dimiliki seseorang maka dia harus mengoptimalkan harta yang dimiliki tersebut untuk kepentingan dakwah. Hakekatnya nilai tambah yang dimilki oleh seseorang atas hartanya adalah seberapa besar porsi yang diberikan untuk kepentingan dakwah. Logika yang ada adalah bahwa biasanya suatu benda dimiliki oleh seseorang karena kebutuhan seseorang tersebut, sehingga porsi penggunaan pribadi akan lebih dominan. Kemampuan seseorang untuk memberikan porsi dakwah dalam pemanfaatkan benda yang dimiliki sangat menentukan nilai guna benda tersebut.
Kalau seseorang semakin bagus posisinya kemudian dia semakin bagus pula tingkat kesejahteraannya., maka secara umum dapat dikatakan semakin banyak pula koleksi barang yang dimilkinya karena kebutuhannya semakin bertambah pula. Tuntunan Islam memperbolehkannya, silakan koleksi barang atau benda karena kebutuhannya, tapi jangan lupa bahwa dakwah Islam mempunyai hak atas barang tersebut.
4. Gunakanlah hartamu dengan bijak dengan berempati
Salah seorang teman pernah ngudo roso. Dalam suatu acara yang harus dihadirinya ada seseorang yang harus hadir sendiri tanpa keluarga. Dia hadir dalam acara tersebut dengan menggunakan sebuah mobil yang mempunyai kapasitas 8 penumpang, padahal dia hanya sendirian. Di lain pihak ada peserta acara tersebut yang harus hadir bersama istrinya, dan mau tidak mau anak-anaknya pun ikut serta, namun dia hanya naik sepeda motor, karena hanya itulah yang dia miliki. Teman saya sampai bilang, “Kok sampai hati ya, tidak berempati.”
Ada pula seorang tetangga saya yang termasuk orang berkecukupan, dan dipandang masyarakat sebagai muslim yang baik, namun dirasani karena pembelian-pembeliannya. Dia beli ayunan yang cukup mewah dan mainan anak-anak lainnya dengan jumlah yang tidak hanya satu, padahal tetangganya masih banyak yang kekurangan.
Empati adalah masalah rasa. Empati memang tidak bisa dijelaskan dengan alasan yang logis. Terkait yang naik kijang mungkin dia mengatakan,”Kan ini kendaraanku, yang aku beli dengan uangku juga, kenapa mesti saya harus naik motor?” Begitu pula dengan si empunya mainan anak-anak tadi tentunya akan mengatakan yang sama. Menumbuhkan empati memang sulit, karena empati bukan masalah logika tapi bagaimana kita mencoba untuk dapat merasakah kondisi orang lain sehingga kita bisa mengekang sedikit kesempatan atau kenikmatan yang sudah kita miliki.
Saya melihat empati di kalangan saudara semuslim sudah mulai berkurang. Posisi dalam jabatan publik yang sudah meningkat yang kemudian berbanding lurus dengan penghasilan yang sudah semakin meningkat pula, menguji seorang muslim untuk bisa mempertahankan sikap empatinya dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi masih ada peningkatan tingkat kesejahteraan yang tidak sebanding dan masih adanya saudara semuslim yang berada pada level di bawahnya. Empati hanya bisa ditimbulkan ketika kesadaran sebagai saudara semuslim dimunculkan kemudian ditimbullkan sikap menahan agar tidak kelihatan ada perbedaan mencolok dengan saudaranya tersebut, walaupun sebenarnya dia mampu untuk bisa bersikap lebih.
Sikap empati yang sudah terbentuk dan sudah menjadi salah satu kepribadian, akan memunculkan sikap taƔwun, bantu membantu dan yang muncul bukan memakai mobil atau motor tapi bagaiamana si pemakai mobil tadi menawarkan kepada si pemakai motor untuk menjemputnya dan bersama-sama menghadiri acara tersebut.
tulisanku, 19-03-2011, 17.43 WIB
Kamis, 17 Maret 2011
Sesungguhnya Tubuhmu Punya Hak atas Dirimu
Apabila Anda memperlakukan mesin cuci tersebut seperti mesin cuci lama Anda atau bahkan Anda mengoperasikan menurut kehendak Anda, sesuai dengan perkiraan saja, maka saya menjamin Anda akan kesulitan dan dampaknya mesin cuci tersebut akan tidak berjalan sesuai dengan apa yang Anda anginkan. Dan yang lebih parah lagi, mesin cuci tersebut mungkin tidak akan berumur panjang dan Anda harus mengganti mesin cuci tersebut dengan yang baru lagi. Tetapi lain halnya apabila Anda sebelum mengoperasikan mesin cuci baru tersebut, terlebih dulu Anda membaca buku petunjuk penggunaannya dan selalu mengikuti semua petunjuk ketika mengoperasikannya. Anda gunakan tegangan listrik sesuai dengan yang direkomendasikan oleh pabriknya, Anda gunakan porsi air sesuai dengan batas penggunaan maksimal, Anda hanya mencuci pakaian dengan berat maksimal yang diperbolehkan, maka saya menjamin Insya Allah mesin cuci tersebut akan memberikan hasil cucian dengan bersih yang optimal dan tentunya akan lebih lama menemani Anda.
Seperti halnya mesin cuci, Allah pun, ketika menciptakan manusia, Dia juga sekaligus memberikan buku petunjuk operasionalnya. Mesin cuci yang harus digunakan sesuai dengan petunjuk pabriknya, dan manusia sebagai ciptaan Allah, harus selalu mengikuti apa yang menjadi petunjuk ‘pabriknya’. Tujuannya agar manusia dapat hidup menjadi sosok manusia yang sempurna seperti yang diinginkan Penciptanya maupun manusia itu sendiri. Allah Mahabijaksana. Tidaklah Ia ciptakan manusia tanpa memberikan bekal petunjuknya agar manusia dapat menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik dan menghadap Tuhannya dengan menjadi manusia yang baik juga. Yang membedakan adalah bahwa mesin cuci tadi adalah benda di luar diri kita dan secara nyata kita terpisah dengan pemiliknya sedangkan manusia adalah diri kita sendiri dan diri kitalah yang harus memperlakukan diri kita.
Mesin cuci dan manusia memang berbeda, namun dalam perlakuannya, saya berpikir bahwa sama saja, ketika kita memperlakukan diri kita sesuai dengan kemauan, keinginan, nafsu kita, maka yang terjadi adalah sama seperti ketika kita memperlakukan mesin cuci tadi sesuai dengan keringinan kita tanpa memperhatikan petunjuknya. Apabila mesin cuci tadi menjadi tidak awet, cepat rusak, dan menghasilkan cucian yang tidak bersih, begitupun manusia ketika dia memperlakukan dirinya sendiri menurut apa yang terbersit dipikirannya dan sesuka hatinya maka sebenarnya manusia itu sendiri merusak dirinya sendiri.
Apabila mesin cuci kita anggap sebagai sebuah benda yang hidup, maka apa yang menjadi kewajiban kita untuk memperlakukan mesin cuci tadi sesuai dengan buku petunjuknya sebenarnya iu merupakan hak yang harus kita penuhi terhadap mesin cuci tadi. Begitu pula manusia, sebagai benda hidup yang biasa kita sebut sebagai badan ataupun tubuh, kita mempunyai kewajiban yang harus kita penuhi untuk badan atau tubuh kita. Kewajiban yang harus kita penuhi itulah yang merupakan hak bagi badan atau tubuh kita. Dalam sebuah hadits, Rasulullah pernah bersabda Sesungguhnya tubuhmu punya hak atas dirimu.(HR. Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya dari riwayat Abdullah ibnu Amru ibnu Ash. Hadits senada juga diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya dari Abi Juhaifah Wahab ibnu Abdullah. Dengan redaksi hadits. (Sesungguhnya jiwamu punya hak atas dirimu).
Aga kita bisa memberikan hak yang tepat bagi tubuh kita, maka yang harus kita lakukan pertama kali adalah mengetahui bagian-bagian dalam tubuh kita dan memahami apa yang menjadi haknya, bagaimana petunjuk dalam memenuhi hak-hak tersebut.
Guru saya, pada waktu awal-awal saya mengaji, mengatakan bahwa sesuai dengan fitrah Allah, manusia memiliki 3 bagian yang membentuk diri pribadi manusia itu sendiri, yaitu Al-Jasad (jasmani), Al-Aql (akal) dan Ar-Ruh (rohani).
Jasmani adalah diri kita secara fisik yang dapat indera dengan alat indera kita. Unsur jasmani direpresentasikan dengan seluruh bagian yang ada dalam tubuh kita dari mulai ujung kepala sampai dengan kaki, termassuk organ yang ada di dalam tubuh manusia yang tidak kelihatan dari luar.
Akal adalah sesuatu yang abstrak yang ada di dalam pribadi manusia. Akal adalah kemampuan intelektual atau berpikir yang hanya diberikan kepada manusia dan tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Kemampuan mempelajari hakaket suatu hal atau benda, itulah salah satu dari keistimewaan manusia dengan akalnya. Dengan akalnya manusia bisa menguasai seluruh alam ini dan digunakan sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan akal ini manusia bisa menjadi makhluk yang luar bisa mulainya, tapi dengan akal ini pula manusia bisa terperosok ke dalam jurang nista bahkan lebih rendah daripada hewan.
Ruh adalah sesuatu yang ghaib yang ditiupkan oleh Allah ke dalam diri manusia ketika manusia diciptakan. Ruh adalah sumber kehidupan bagi tubuh manusia yang dapat memberikan semangat hidup dan sebagai pendorong manusia untuk bisa memahami posisi hidupnya sebagai seorang hamba dihadapan Tuhannya. Ruh inilah yang bisa membangkitkan gairah uuntuk lebih dekat dengan Allah sebagai Tuhannya dan menjadikan jiwanya senantiasa hidup dalam semangat ubudiyyah, namun ketika ruh ini mati maka semangat jiwa akan padam dan tidak sanggup mengemban amanah besar penciptaan dirinya.
Manusia harus bisa memahami bahwa ketiga unsur tersbut merupakan unsur pembentuk pribadi manusia. Pemahaman terhadap ketiga unsur tersebut harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak dapat dipahamai secara parsial. Pemahan secara parsial hanya akan menghasilkan pribadi manusia yang tidak seimbang.
Banyak kita lihat manusia yang memberikan porsi hak yang berlebihan untuk jasmaninya. Mereka secara berlebihan memoles tubuhnya sehingga menjadi sosok yang seakan-akan dianggap sebagai manusia yang ideal. Wajah meraka menjadi cantik dan ganteng, badan mereka menjadi proporsional dan atletlis, dan kehidupan mereka serba berkucukupan dengan dapat dipenuhi semua kebutuhan jasmaninya. Namun di sisi lain ruhani mereka kering. Mereka mengumbar kesenangan yang sifatnya lahiriah, namun secara ruh mereka menderita penyakit jauh dari Tuhannya. Dari fisiknya mereka tampak seolah-olah adalah orang yang pintar, namun pengetahuan mereka ternyata tidak ada apa-apanya. Bahkan pengetahuan mereka yang picik tersebut menjerumuskan mereka dalam sutau kehidupan yang sebenarnya merusak dirinya sendiri.
Fenomena tidak berimbangnya pemenuhan kebutuhan masing-masing unsur dalam diri manusia bisa dilihat dari masih adanya orang hanya menyandarkan hidupnya dengan hati dan batinnya saja. Mereka sehari-harinya dipenuhi dengan hanya melakukan ritual-ritual untuk mendekatkan dirinya kepada Allah. Mereka melupakan bahwa jasmaninya mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, akalnya tidak mendapatkan asupan ilmu yang cukup, sehingga yang terbentuk adalah pribadi yang memang benar-benar ruhnya dekat Tuhannya, tapi jasmani amat lemah dan ilmunya amat sedikit. Fenomena lain adalah munculnya paham atheis, yang mana manusia yang hanya mengagungkan akal dan ilmu tanpa mengakui keberadaan sang Penciptanya.
Saya berpendapat bahwa orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang yang hanya mengedepankan pemahaman yang menurut dia benar tanpa melihat pribadinya secara menyeluruh. Pemahaman seperti itu juga karena didorong oleh hawa nafsu yang tidak terarah dan tidak terkontrol. Memahami bagian dan kebutuhan diri secara integral dan berimbang adalah kunci pembentukan pribadi manusia yang ideal. Walaupun masing-masing unsur tadi mempunyai kebutuhan yang jelas berbeda, namun pemenuhan kebutuhan yang berbeda tadi dengan porsi yang proporsional atau berimbang adalah mutlak dibutuhkan.
Jasmani yang ideal dalam diri manusia adalah jasmani yang sehat, kuat dan bugar. Seperti kata Rasulullah mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah. Untuk mendapatkannya adalah dengan mencukupkan kebutuhannya antara lain makanan yang halal dan baik, cukup istiharat, pemenuhan kebutuhan biologis terpenuhi, dan olah raga yang cukup. Namun dalam prakteknya masih banyak orang yang bekerja sampai lupa waktu, istirahat kurang, padahal kalau ditanya untuk apa sih kita bekerja? Tentunya untuk mendapatkan sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan jasamaninya. Banyak orang yang melupakan olahraga, dengan alasan malas atau badan tidak kuat, padahal olahraga itu sangatlah murah dan menyenangkan. Dengan 20 menit lari-lari kecil setiap hari (tanpa sepatu sekalipun) sudahlah cukup sebagai bentuk olahraga, namun terkadang hal tersebut terlupakan.
Akal manusia, melalui otaknya, mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa untuk bisa menyerap ilmu pengetahuan. Di sisi lain ilmu pengetahuan pun sangat luas terbentang dan sangat dalam untuk digali. Menurut sebuah artikel yang saya baca, selama ini rata-rata otak manusia belum sampai 5% yang digunakan. Pemenuhan kebutuhan akal akan ilmu menjadi suatu kebutuhan sekaligus sebuah kesempatan untuk memanfaatkan potensi yang sudah disediakan oleh Allah. Bukankah Allah menciptakan dunia ini untuk manusia, sehingga dunia ini membutuhkan manusia yang mampu membaca yang mempelajari agar dapat memanfaatkan untuk kehdiupan manusia sebaik-baiknya. Dengan kata lain pemenuhan kebutuhan akal akan ilmu adalah suatu keniscayaan.
Ruh atau biasa disebut dengan jiwa atau rohani harus selalu diisi dengan dzikrullah. Dzikrullah yang saya maksud di sini adalah dalam arti luas, dengan semua aktivitas taua ritual yang diajarkan oleh Rasulullah dengan tujuan agar selalu lebih dekat dengan-Nya. Dengan mengingat Allah, maka akan menjadi sarana penjaga aktivitas manusia dalam pemenuhan kebutuhan jasmani dan akalnya. Ruh yang mendapatkan asupan kebutuhan yang cukup maka akan membentuk pribadi manusia akan memiliki semangat hidup di dunia karena dunia adalah sarana pengabdian kepada Tuhannya dan mempunyai semangat untuk akhiratnya karena akhirat adalah tujuan kehidupannya.
Dengan keseimbangan manusia dapat meraih kebahagian hakiki yang merupakan nikmat Allah. Dalam sudut pandangan keumataan, yang merupakan kumpulan pribadi manusia, keseimbangan ini akan menempatkan umat lslam menjadi umat pertengahan (ummatan wasathon) dengan berbagai kebahagiaan berupa kebahagiaan batin dalam bentuk ketenangan jiwa, kebahagian lahir dalam bentuk kestabilan dan ketenangan dalam beribadah, bekerja dan aktivitas lainnya dan kebahagiaan sebagai manusia yang pandai mensyukuri nikmat Allah. Itulah yang disebut manusia seutuhnya.
(tulisan ini selain ide penulis juga dirangkum dari berbagai sumber, baik tertulis maupun lesan)
