Kamis, 14 Januari 2016

UNTUK APA MEREKA LAKUKAN ITU

Saya mempunyai rutinitas jogging tiap hari Selasa, Rabu dan Jumat  pagi di sekitar Monas yang kebetulan dekat dengan kantor. Ada beberapa aktivitas orang yang sama yang teramati.

Ada seorang pria yang sudah cukup tua. Kulitnya sudah mengeriput, tidak menempel  erat pada tulang sehingga tonjolan-tonjolan tulangnya kelihatan. Rambut sudah memutih semua. Jalannya pun sudah tidak sempurna layaknya manusia dewasa berjalan. Langkahnya pendek-pendek dan lambat cenderung hati-hati. Kakinya sudah sudah tidak terlalu kuat menahan tubuhnya sehingga kalau pas melangkah sedikit agak goyang tubuhnya. Namun setiap pagi dia tidak absen untuk ikut senam lansia. Semua gerakan dia ikuti dengan serius. Walalupun wajahnya yang sudah penuh garis-garis keriput, tapi tetap menunjukkan semangat yang luar biasa.

Ada juga seorang wanita -yang maaf secara ukuran- tubuhnya termasuk big size. Dengan tinggi badan yang tergolong pendek, makin menunjukkan bahwa dia termasuk dalam kriteria gemuk. Dengan mengalungkan sebuah handuk dan memasang headset hp pada telinganya, setiap pagi dia tidak pernah absen selalu melakukan jalan cepat. Badannya nampak yang basah kuyup keringat, namun wajahnya tetap menunjukkan bahwa dia sangat menikamti aktivitasnya.

Ada juga seorang pria, menurut taksirn saya usianya sekitar 50 tahun. Naik sepeda adalah pilihan olahraganya. Dengan kostum yang kelihatan keren dan sepeda yang cukup bermerk, menandakan bahwa dia berasal dari golongan orang yang berkemampuan. Dilihat dari cara menggowes, nampak pula bahwa dia sudah terbiasa dengan olahraga tersebut. Hampir setiap gowesannya, say lihat dilakukan dengan power yang cukup kuat dan cepat, jarang saya dapati dia terlihat santai. Badannya menunjukkan bahwa secara fisik terjaga. Pria dengan usia segitu bisanya perutnya sudah lebih ke depan meninggalkan dadanya, tapi pria ini tampak bisa menjaga badannya.

Ada juga sekelompok ibu-ibu yang setiap hari melakukan senam bersama.  Sebenarnya saya masih bingung jenis senam apa yang mereka lakukan. Musik yang diputarpun berbahasa Cina, menambah ketidaktahuanku. Dari gerakannya pun juga klebih tepat disebut dengan menari atau joget daripada disebut senam. Usia mereka rata-rata di atas 50 tahun. Tampak mereka sangat menikmati senam tersebut atau lebih tepatnya menari. Sepanjang aktivitas, mereka ketawa ketiwi dan bahkan saling menggoda satu sama lain.

Ada juga seorang lekaki muda, mungkin sekitar 20-an tahun. Dengan serangkat head set dan smartphone yang dimasukkan di armband,kelihatan sekali bahwa dia masih kuat secara fisik. Langkahnya masih panjang dan frekuensinya cukup cepat. Keringatnya pun cukup deras mengalir menandakan bahwa dia sudah melakukan aktivitas cukup lama.

Ada juga seorang wanita berjilbab. Usia mengin sekitar 45 tahun. Tapi yang emmbuat saya agak salut, walaupun secara usia sudah cukup tua, dan badan tidak kelihatan langsing, namun wanita tersebut masih cukup kuat berlalri. Bahkan ritme larinya pun lebih cepat dari saya. Dia bisa mengatur irama nafas dan langkahnya sehingga bisa mempertahakan kosistensi larinya. Pernah saya coba mendampingi di lintasan paling dekat dengan lintasanya, ternyata setalah 3 lap, belum nampak di wajahnya tanda-tanda kelelahan.
Dan sebenarnya masih banyak lagi yang mungkin kalau diceritakan akan menjadi panjang sekali. Pertanyaannya adalah untuk apa mereka lakukan itu?

Terus terang saya belum pernah menayakan alasannya.  Yang bisa saya lakukan adalah mengira-ira jawabannya. Mungkin ada yang menjawab : supaya panjang umur sehingga bisa menyaksikan cucu saya menikah. Mungkin ada yang menjawab : supaya di hari tua saya merasa tetap  sehat dan bugar. Mungkin ada yang menjawab : supaya badan saya lebih langsing. Mungkin ada yang menjawab : supaya badan saya terasa bugar dan sehat. Mungkin ada yang menjawab :supaya badan saya sehat, sehingga panjang umur.

Apapun kemungkinan jawabannya, saya dapat memastikan tujuan mereka melakukan aktivitas tersebut secara substansi sama, yaitu alasan kesehatan. Hidup sehat adalah sebuah pilihan. Ketika kematian adalah adalah sebuah kepastian, sedangkan kehidupan yang merupakan proses menuju kematian, di dalamnya kita masih diberikan pilihan. Secara teori tidak ada yang dapat memperkirakan berapa umur kehidupan seseorang, bisa singkat atau lama. Dalam kondisi tidak adanya  kepastian, maka yang paling bijak adalah ketika memilih untuk bisa hidup dalam keadaan yang menyenangkan, baik lama atau tidak. Dan pilihannya adalah bagaimana kita bisa hidup sehat. Panjang atau pendek umur manusia apabila dilalui dengan kondisi badan sehat tentunya akan memberikan kebahagiaan yang tiada taranya.


Untuk itu masihkah kita memilih tidak beraktivitas untuk kesehatan tubuh kita?

Selasa, 12 Januari 2016

KENAPA MESTI BEREBUT JABATAN

Menjelang akhit tahun 2015, panggung politik dan publik di negara kita disuguhi beberapa aksi mundurnya pejabat publik. Diawali dengan mundurnya Sigit P Pramudito dari jabatan DIrjen Pajak, karena merasa tidak mampu mencapai angka target penerimaan, kemudian mundurnya Djoko Sasono yang mundur dari Dirjen Perhubungan Darat yang merasa tidak mampu menyelesaikan macet liburan akhir tahun. Ada pula Setya Novanto, yang akhirnya mundur setelah desakan untuk mundur dari jabatan Ketua DPR cukup gencar terkait dengan kasus papa minta saham. Pekan kedua bulan Januari tahun 2016 ini pun sudah diramaikan lagi dengan diminta mundurnya Fahri Hamzah dari Wakil Ketua DPR oleh partainya.

Kayaknya kata mundur sedang menjadi trending topik akhir-akhir ini. Kata mundur tergolong kosakata yang sudah cukup lama, bahkan mungkin sejak  Bahasa Indonesia ada. Mundur dapat diartikan sebagai bergerak ke belakang. Dalam kontek jabatan mundur berarti melepaskan jabatan yang diberikan dan  menyerahkannya kepada yang pejabat yang memberikannya.

Kata mundur sebenarnya mempuyai makna yang satu dan sama sepanjang waktu. Namun perilaku mundur yang mengalami perubahan seiring dengan berubahnya waktu dan zaman. Dulu, bisa sebuah perbuatan kalau dilakukan akan dinilai sebagai sebuah tindakan yang hina, namun sekarang bisa berbalik berubah 180 derajat menjadi mulia. Dulu sebuah tindakan mungkin dicela, namun zaman sekarang bisa saja di puja-puja. Hal ini disebabkan sebuah perilaku biasanya dinilai tidak hanya karena perilaku itu sendiri, tapi ada latar belakang sosial  dan kultur yang menjadikan penilaian itu berubah.

Begitu pula fenomena mundur yang dilakukan oleh pejabat saat ini. Perilaku mundur pada era kekinian akan mempunyai nilai yang berbeda jika dibandingkan dengan perilaku mundur pada zaman dulu. Pada zaman perjuangan dan kemerdekaan,  mundur adalah sebuah perilaku hina dan tercela. Maka kita kenal, para pendahulu kita mempunyia semboyan maju terus pantang mundur. Semboyan tersebut menunjukkan karakter heroic seseorang. Ketika kecenderungan orang mementingkan nyawa dan keluarganya, maka perilaku untuk maju dan berjuang mengambil peran dalam perjuangan adalah pilihan yang mulia. Sebaliknya orang tidak mau berjuang cenderung mementingkan dirinya sendiri, mencari selamat agar  bisa tidur enak maka ia harus siap-siap untuk dicap sebagai manusia hina. Ketika seseorang diberikan amanah ikut dalam perjuangan namun dia lebih memilih mundur maka mundurnya dianggap sebagai pecundang dan tercatat sebagai noda kotor dalam sejarah.

Kata mundur untuk saat ini mempunyai nilai yang cukup mendalam. Kondisi dan keadaanlah  yang membuat mundur mempunyai nilai yang mulia. Kemuliaan dari kata mundur bukan dari makna kata itu sendiri tapi adalah ketika tindakan tersebut dilakukan oleh seorang yang diberikan amanah untuk mengemban tugas. Ketika orang menganggap jabatan adalah sebuah pesona dengan segala marwah dan puja-pujanya, maka keberanian segelintir orang untuk mundur dari jabatan profesionalnya karena merasa gagal akan menjadi mereka sebuah pesona di mata masyarakat.

Zaman telah mengubah makna jabatan. Sekarang jabatan dipahami sebagai pintu untuk pembuka semua fasilitas dan kesenangan. Manusia berlomba-loma untuk mendapatkannya karena mereka mengejar popularitas dan kesenangan. Prinsip inilah yang kemudian memunculkan sebuah ‘teori baru’ tetang jabatan, bahwa jabatan itu harus dikejar, dimiliki dan dipertahankan dengan segala cara.

Kalau kita kembalikan kepada makna yang benar tentang jabatan, maka ketika seseorang memiliki jabatan harus punya relevansi dengan tugas dan amanah serta kemampuan untuk dapat mengembannya. Orang yang berhak atas satu jabatan adalah orang yang mampu mengemban dan mempertanggungjawabkan tugas jabatan tersebut  Oleh karena itu jabatan itu tidak untuk diminta dan dikejar kecuali kita sangat yakin dengannya bahwa kita mampu mewujudkan semua tugas yang harus dihadirkan oleh  eorang pejabat.

Ketika sebuah jabatan hadir dan menawar diri kita sedangkan kita tidak relevan dengan jabatan dan kedudukan itu maka sewajarnya kita menolaknya. Penolakan tersebut menjadi sesuatu yang patut dilakukan karena ketika jabatan diambil maka bukannya keberhasilan yang akan diraih tetapi sebuah kegagalan karena secara kemampuan tidak sanggup untuk mengemban.  Pada kondisi tersebut maka jabatan itu menjadi tidak penting bahkan layak ditolak. 

Ketika kita berada diantara manusia-manusia lain dan kita memahami nilai sebuah jabatan, maka sebenarnya tidak ada  kelebihan antara kita kecuali orang yang mengemban sebuah jabatan, dialah yang paling berat diantara mereka.  Maka sudah sewajarnyanya, apabila ada manusia yang merasa pantas menyandang jabatan dan kekuasaan, tugas utama mereka adalah menunjukkan dengan nyata tugas dan solusi mana yang telah dapat dia hadirkan dengan jabatan dan kekuasaan tersebut. Kembalikan saja tentang  semua jabatan itu pada subtansinya yaitu bahwa jabatan itu adalah beban yang akan menjadi penyesalan di akhirat kecuali yang bisa menunaikan dengan prima.

Selasa, 05 Januari 2016

BAU TAPI ADA HIKMAHNYA

Pagi di hari Senin, yang seharusnya mempunyai semangat baru untuk bekerja ternyata saya menghadapi sesuatu yang merusak mood. Begitu masuk ruang kerja, saya mencium aroma yang tidak enak, lebih tepatnya bau. Bau tersebut muncul di sekitar meja kerja. Belum jelas betul, sebenarnya itu bau apa. Kalau diilustrasikan, bau ini mirip bau bangkai, agak asam dan sedikit amisnya. Berdasarkan pengalaman selama ini dalam hal bau membau biasanya bau seperti ini adalah  bau kotoran hewan, lebih tepatnya kotoran tikus. Kenapa saya berpikir itu tikus? Karena hewan inilah yang layak muncul di ruangan kantor. Walaupun tidak kasat mata, bau ini begitu sangat mengganggu aktivitas saya di pagi itu. Akhirnya saya putuskan untuk mencari sumber bau tadi.

Pagi itu praktis aktivitas saya adalah mencari sumber bau. Saya berpikir, untuk menghilangkan bau tersebut, saya harus menemukan sumbernya dan segera menyingkirkannya. Semua laci saya buka, ruangan kecil di bawah meja, belakang lemari dan rak saya intip, dan celah-celah yang ada saya coba lihat, namun sampai dengan sore hari sumber bau belum saya temukan. Bahkan sambil beraktivitas hari itu, saya sekalian sambil mencari sumber bau, kali-kali saja ketemu.

Singkat cerita saya putus asa, dan berpikir udahlah biarin saja, toh nanti bau tersebut akan hilang sendirinya apabila zat kimia yang mengeluarkan bau tersebut hilang.

Seperti biasa aktivitas pulang kantor adalah shalat maghrib berjamaah di masjid samping kantor, kemudian berjalan kaki menuju kos. Sesampai di kos, begitu memasuki ruang tamu, mendadak bau yang tercium di ruang kerja kantor tadi tecium. Saya pun curiga. Dengan gaya mengendus laksana anjing pelacak, akhirnya saya temukan bahwa bau tadi berasal dari alas sepatu sandal yang saya pakai. Ternyata bau tadi melekat pada barang yang saya pakai.

Terkadang kita sudah memvonis apabila ada sesuatu yang tidak beres itu berasal dari luar diri kita. Jarang kita melihat sisi diri kita. Yang ada adalah selalu menyalahkan pihak lain, padahal belum tentu, bisa saja kesalahan itu ada di pihak kita. Ketika menghadapi sebuah persoalan, terkadang kita sudah melihatnya bahwa penyebabnya adalah orang lain. Mungkin itulah hikmah yang bisa saya ambil dari kotoran yang sebenarnya menempel pada sepatu sandal yang saya pakai, tapi saya mencarinya di tempat lain, seolah-seolah saya sudah memvonis bahwa sumber bau tadi adalah bukan dari diri saya.

Ternyata kotoran sepatu sandal tadi mengingatkanku akan sebuah hikmah.



Rabu, 30 Desember 2015

MANUSIA YANG OTENTIK

Pernah suatu kali saya mendapat pelatihan tentang manajemen waktu, dan yang saya ingat pada saat itu adalah salah satu tip agar hari kita lebih tertata dalam pekerjaan kantor adalah jangan membuka email pada pagi hari saat memulai pekerjaan. Namun aturan tersebut pagi ini saya langgar. Saya buka email yang beberapa hari memang belum sempat saya buka. Ada satu tulisan yang cukup menarik yang dikrimkan dalam sebuah milist. Tulisan yang dibuat oleh Dr Andi Irawan tersebut membahas tentang sebuah kata yang baru pertama kali saya dengan yaitu otensitas.

Otensitas adalah kata benda dari kata otentik. Otentik mempunyai makna asli, tulen, atau genuine. Sifat yang melekat pada sesuatu yang asli dan genuine akan mempunyai karakter yang kuat. Makanya sering kita dengar, orang akan cenderung memilih onderdil kendaraan yang genuine.  Manusia otentik adalah manusia yang mempunyai karakater kuat sehingga ia akan tampil sebagai manusia dengan kapasitas terbaiknya. Manusia otentik adalah manusia yang bernilai tinggi tanpa harus ditopang apapun. Mereka adalah manusia yang tangguh tanpa ada penunjang apapun, mereka tercium harum tanpa ada pencitraan, mereka tidak perlu pendorong untuk tampil sempurna karena ia telah mengorbit dengan kapasitasnya,.

Kehidupan masa lalu telah menghadirkan banyak manusia otentik. Sejarah telah menghadirkan orang-orang yang mempunyai otensitas. Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, kita mengenal Jenderal Sudirman. Tak seorangpun yang tidak mengakui kapasitas dan ketangguhannya dalam mempimpin perjuangan melawan penjajah. Sebagai seorang panglima perang, dia mempunyai track record yang luar biasa. Dalam kondisi sakit parah, dia mampu memimpin dan menggelorakan semangat pantang mundur melawan penjajah.

Ketika amunisi perang yang kita miliki kalah dalam segala hal jika dibandingkan dengan yang dimilki penjajah, sedangkan peperangan harus tetap berlangsung untuk mempertahakan eksistensi negara Indonesia, diperlukan seorang panglima yang cerdas dan mempunyai karakter pemimpin sekaligus pejuang. Dan Jenderal Sudirman bisa membuktikan otensitasnya di lapangan sebagai seorang manusia yang tanpa perlu panggung untuk bisa meyakinkan semua orang bahwa dia adalah panglima perang yang cerdas dan tangguh.

Orang-orang yang mempunyai otensitas tidak terbentuk secara instan. Bahkan dapat dikatakan untuk manusia otentik bukanlah perkara yang mudah. Charles Guignon dalam bukunya On Being Authentic, untuk menjadi manusia otentik, seseorang harus menemukan jati dirinya terlebih dahulu melalui proses refleksi dan kemudian mengekspresikan penemuan jati dirinya tersebut dalam kehidupan riil. Hanya dengan mengekspresikan jati diri sejatinyalah orang dapat mencapai kepenuhan diri sebagai manusia yang otentik. Melecutkan semangat untuk mengaktualisasikan dirinya secara maksimal dalam kehidupan riil adalah kunci untuk menjadi manusia otentik.


Jenderal Sudirman adalah manusia otentik. Untuk menjadi seorang panglima besar yang ditakuti oleh lawan dan diakui oleh kawan, tidaklah perlu ada yang mempromosikannya. Tidak perlu disediakan panggung peperangan untuk tampak hadir.  Karena ia adalah manusia yang punya kapasitas terlepas engkau beri dia panggung atau tidak, dia adalah orang hebat tanpa perlu cher-leader dan iklan untuk menunjukkan kehebatannya.

Kamis, 03 Desember 2015

SUSU ASIN KANJENG NABI

Suatu hari Nabi Muhammad pulang ke rumah setelah melakukan sebuah perjalanan. Kebiasaan istri Nabi, ketika suaminya pulang adalah menyambutnya dengan senyum dan membuatkannya segelas susu manis. Kebiasaan inilah salah satu contoh betapa harmonisnya keluarga Nabi sehingga menjadi teladan semua keluarga yang menjadi ummatnya.

Setelah membetulkan bajunya supaya lebih nyaman , duduklah Nabi dikursi yang ada di ruang tengah, dan setelah itu istrinya pergi ke dapur untuk membuatkan segelas susu. Karena agak terburu-buru, atau sangat gembira karena suaminya pulang, konsentrasinya agak berkurang. Air panas susu yang seharusnya diberi du sendok gula, ternyata yang tersensok bukanlah gula, melainkan garam. Tapi hal tersebut tidak dikehatui oleh sang istri tadi. Terkadang dalam kondisi yang tidak terlalu konsentrasi ditambah warna dan bentuknya yang sama, sangat wajar bila sulit membedakan antara gula dan garam.

Setelah diaduk, dengan senyum mengembang, kemudian dia melangkah ke ruang tempat Nabi sedang duduk. Dengan sopan susu tadi kemudian dihidangkan kepada Nabi dan Nabi langsung meneguk gelas berisi susu tadi.  Karena begitu hausnya, pada awal sebelum meneguk, nabi sudah berniat untuk langsung menghabiskannya. Mungkin sudah membayangkan, dalam kondisi lelah dan haus betapa nikmatnya susu tadi. Tapi begitu terteguk hampir separuh, nabi kaget, susu yang seharusnya manis tersebut kenapa rasanya asin. Tetapai karena tidak ingin mengecewakan istrinya, Nabi mencoba untuk tidak merubah mimik wajahnya. Diletakannya gelas tadi sambil menelan rasa asin di lidah, Nabi tetap memaksakan senyum di wajah agar istrinya tidak curiga terhadap apa yang terjadi.

Sepandai-pandainya menutupi, sang istri pun tetap bisa membaca, bahwa ada sesuatu yang tidak biasa. Nabi selalu menghabiskan susu yang dihidangkan istrinya dalam satu rangkaian tegukan. Namun kali ini Nabi masih menyisakan separuh gelas. Ada apa? Gumam istrinya. Kemudian dia beranikan untuk bertanya. Saya tidak akan buat kalimat langsung utk pertanyaan istri kepada Nabi tadi, karena terus terang tidak tahu bagaimana panggilan sang istri tadi ke suaminya, apakah aa, mas, kakanda, sayang, atau yang lain. Langsung saja, dia bertanya kenapa Nabi masih menyisakan separuh gelas?

Nabi tidak serta merta menjawab pertanyaan tadi. Setelah beberapa saat, di waktu masih menahan sisa asin di lidahnya, Nabi masih bisa memunculkan kalimat mesra untuk istrinya. “masih ingatkah ketika ketika baru saja menikah? Waktu kita bulan madu? Waktu itu setiap kita makan, maka kita pun makan dalam piring yang sama, separuh untukku dan separuh lagi untuk kamu. Ketika kita minum, kita pun minum pada gelas yang sama, separuh untukku dan separuh untukmu. Hari ini aku ingin mengenang saat indah itu, maka aku masih sisakan separuh susu di gelas itu untukmu”. Cie-cie begitu indahnya. Coba bayangkan kalau itu bukan Nabi, mana mungkin kalimat itu bisa muncul.

Mendengar kalimat dari surga tersebut,  sang istri pun merasa tersanjung, dan dengan senyum mengembang, serta mata berkedip-kedip agak malu, sang istri kemudian mengambil gelas tadi. Dalam sekejap gelas tadi sudah menepel di bibirnya, dan dengan tegukan penuh percaya diri, susu pun mulai mengalir masuk mulutnya. Ups, ketika aliran pertama membasahi lidah, sang istri kaget. Secara reflek lidah pun menolak untuk mendorong masuk ke kerongkongan, walaupun ada sebagian yang sudah masuk dan segera dia tarik gelas dari bibirnya. Wajah merah kaerna merasa bersalah dan malu pun langsung tergambar. Secara spontan dengan perasaan malu dan  bersalah yang amat sangat, dia pun meminta maaf. Nabi pun dengan senyum kemudian memeluk istrinya, seraya berpesan untuk lain waktu agar berhati-hati.

Kisah di atas adalah kisah yang memang nyata terjadi pada zaman Nabi. Mungkin saja narasinya yang terlalu saya buat lebay. Namun saya ingin mengggambarkan bagaimana sebagian kecil dari sebuah eposide dalam keluarga Nabi. Dalam berumah tangga, konflik kecil ataupun riak-riak ketidaksinkronan antara suami dan istrio sering muncul. dan tidak terkecuali pada keluarga Nabi. Munculnya konflik dalam berumah tangga adalah hal yang biasa dalam sebuah hubungan atau interaksi antar manusia. Bahkan menurut para ahli konseling rumah tangga, konflik-konflik kecil tersbut diperlukan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Apabila hubungan antar suami istri ‘baik’ terus, maka suasana yang tercipta adalah sebuah hubungan yang datar tanpa ada variasi suasana.


Potensi konflik pasti selalu ada. Biasanya disebabkan oleh ketidakpusaan dari salah satu pasangan, ada miskomunikasi  atau masalah-masalah lainnya. Potensi tadi akan menjadi apa atau apa yang terjadi selanjutnya adalah tergantung dari bagaimana masing-masing menyikapinya. Ketika kita bersikap rasional dan memahami segala sesuatunya bisa saja terjadi, maka potensi tadi tidak akan menjadi masalah yang kemudian akan memicu konflik. Susu yang rasanya asin, kalau kita memahami bahwa hal tersebut terjadi bukan karena kesengajaan maka hal tersebut tidak akan menjadi masalah.  Kondisi dapur yang berantakan, anak yang rewel minta perhatian, kamar mandi yang  kotor dan bau, akan menjadi masalah yang menimbulkan konflik atau tidak adalah tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Dan bagaimana mengolah potensi masalah menjadi sesuatu yang berakhir indah, Nabi telah memberikan contoh nyata di atas.

Kamis, 15 Oktober 2015

PAJAK BUKTI CINTA NEGARA



“Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu”. Itulah sebuah ucapan yang sangat terkenal yang pernah dilontarkan oleh presiden Amerika Serikat JF Kennedy. Konon kekuatan kalimat itu mampu menyentuh serta membangkitkan rasa nasionalisme rakyat Amerika. Secara eksplisit kalimat dapat dimaknai bahwa apa yang kita berikan kepada negara adalah simbol kecintaan kepada tanah air. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah ketika kita ditanya kita berikan apa yang telah kepada negara kita, apa yang akan menjadi jawaban kita?
Negara ini telah melewati dua fase besar perjalanan sebuah bangsa. Fase pertama adalah fase perjuangan dalam rangka memperoleh kemerdekaan dan fase kedua adalah fase mengisi kemerdekaan. Generasi dari masing-masing fase tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda. Mereka mempunyai karakteristik yang merupakan bentukan dari kondisi kehidupan yang mereka alami pada saat itu.
Generasi pertama adalah generasi yang hidup dalam cengkeraman penjajahan. Secara ekonomi mereka adalah rakyat yang sangat kekurangan. Dalam pendidikan, mereka adalah generasi yang terbelakang dan sangat sedikit yang bisa berkesempatan mengenyam pendidikan. Kalau ada pertanyaan apa yang paling berharga yang mereka miliki saat itu, jawabannya adalah nyawa. Tidak ada lagi yang berharga dan dapat dibanggakan selain nyawa. Nyawa inilah yang memberikan semangat hidup untuk berjuang melawan penjajah. Dengan memberikan nyawa merekalah, kemerdekaan ini bisa diraih. Atau dengan kata lain, hanya dengan memberikan apa yang paling berharga, kemerdekaan ini bisa kita rasakan pada sampai saat ini. Itulah yang mereka berikan kepada negara ini untuk menunjukkan rasa cintanya pada negara.
Sekarang kita hidup dalam fase kedua. Kita hidup pada zaman kemerdekaan dan pembangunan. Karakteristik generasi yang hidup pada zaman sekarang pun berbeda. Walaupun masih menyisakan masyarakat dalam kelompok miskin dan berpendidikan rendah, generasi sekarang adalah generasi yang hidup dalam alam bebas merdeka, yang secara ekonomi berkecukupan dan terpelajar. Tidak ada penindasan lagi oleh penjajah, dan bahkan negara mempunyai kebebasan untuk melaksanakan semua fungsi negara.
Apabila pertanyaan yang sama, apa yang paling berharga yang mereka miliki? Jawabannya  tentu akan berbeda dengan generasi yang memperjuangkan kemerdekaan. Mereka akan menjawab, harta yang paling berharga adalah kekayaan yang mereka miliki, walaupun nyawa tentunya juga masih merupakan sesuatu yang sangat berharga. Kekayaan mereka dimiliki itulah yang membuat hidup mereka sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka bisa menikmati hidup bahagia, kesempatan pendidikan yang terbuka, dan terjaminnya kesejahteraan dalam sebuah negara yang aman dan merdeka.
Menjaga kelangsungan hidup sebuah negara tidak dapat dilakukan dengan cuma-cuma. Negara memerlukan dana untuk menjaga kelangsungan hidupnya, sehingga dapat mempertahankan fungsi sebagai pelindung dan pengayom rakyat.  Dana tersebut juga diperlukan untuk menjamin kelangsungan pembangunan negara menuju satu bentuk negara yang modern dan maju sebagai cita-cita pembangunan nasional.
Apabila generasi pertama tadi memberikan harta yang paling berharga yaitu nyawanya untuk meraih kemerdekaan, maka apa yang bisa generasi sekarang berikan kepada negara agar bisa meraih cita-cita pembangunan nasionalnya. Jawaban yang paling tepat adalah mereka harus memberikan yang terbaik yang dimiliki, yaitu kekayaan, melalui pajak yang mereka bayar. Dengan memberikan sebagian kekayaan yang dimiliki tadi, maka dapat dipastikan tujuan negara yang akan dicapai dengan proses pembangunan akan dapat dicapai, sebagaimana kemerdekaan negara ini yang hanya bisa diraih dengan pengorbanan harta yang paling berharga, yaitu nyawa para pahlawan kita.
Apa yang terjadi apabila generasi sekarang masih enggan untuk memberikan sebagian kekayaannya kepada negara dengan membayar pajak? Mungkin jawabannya adalah sama saja kita tidak mencintai negara ini dan membiarkannya hancur karena tidak bisa menjaga kelangsungan hidupnya.


Rabu, 23 September 2015

GATHOT DAN THIWUL

Agenda naik sepeda di hari Sabtu pagi biasanya saya tidak melewatkan untuk mampir membeli jajajan gathot dan thiwul. Makanan khas wilayah Yogyakarta yang memberikan kesan jajanan ndeso.

Semua orang pasti mengenal jenis makanan tersebut. Dan semua orang pasti tahu bahwa makanan tersebut berasal dari daerah Yogyakarta, atau tepatnya daerah Gunung Kidul. Tapi tidak semua orang tahu bahwa dalam tata bahasa Jawa, menulis kedua jenis makanan tersebut harus dengan ‘TH” bukan gatot dan tiwul tapi gathot dan thiwul, karena dalam bahasa Jawa antara T dan TH cara melafalkannya berbeda, yang mana TH dibaca seperti orang Bali melafalkan kata patung. Dengan menggunakan TH dalam penulisan kedua kata tersebut, maka ketika kita melafalkannya makna dan cita rasa makanannya pun mulai dapat dirasakan.

Apabila kita ke Yogyakarta, tidaklah lengkap apabila kita tidak mencicipi kedua makanan tersebut. Di hampir semua pasar pagi atau sore, kita dapat menjumpai jajanan tersebut walaupun untuk waktu-waktu sekarang ini mulai berkurang jumlah pedagangnya. Mungkin sebagian orang sudah menganggap ketinggalan jaman. Namun menurut saya, tidak ada kata ketinggalan jaman untuk kedua jajanan tersebut. Dengan rasa manis yang khas dari bahan baku ketela, memberikan nuansa rasa masa lalu dan tidak ada yg bisa menyamai.

Salah satu tempat yang menjajakan makanan tersebut adalah sebelah barat perempatan Tugu, kurang lebih 200 meter sebelah selatan jalan. Mulai pukul 5.30 pagi, warungnya sudah mulai didatangi oleh pembeli. Yang jualan adalah seorang ibu-ibu tua (simbah-simbah, orang Jawa bilang) dan biasanya dibantu oleh anak perempuannya. Sampai dengan saat menulis artikel ini, saya belum sempat ngobrol untuk menanyakan siapa nama simbah penjual gathot dan thiwul tadi. Yang jelas, simbah tadi pernah mengatakan bahwa mulai jualan sejak tahun 1963 alias sudah 52 tahun. Pantas saja rasa dan aromanya sudah teruji dan selalu ngangeni.

Bagi saya yang sering menikmati jajanan tadi, tidak berlebihan apabila saya katakan rasanya cukup sempurna. Dan buktinya para pelanggan bahkan sampai antri 15 sd 40 menit untuk mendapatkan jajanan tadi. Satu porsi biasanya dijual dengan harga Rp. 3000,- dalam bentuk “tempelan”. Selain gathot dan thiwul, simbah tadi juga menjual cenil dan lupis. Empat sekawan makanan khas Yogya yang biasa dijual dalam satu paket warung tersebut. 
 
cenil, sumber : www.google.com
Cenil adalah makanan yang terbuat dari pati ketela pohon juga. Makanan ini bisa dibentuk bulat, memanjang atau kotak kemudian diberi warna sesuai selera sebelum direbus. Cenil biasanya disajikan dengan parutan kelapa sedangkan lupis adalah kue manis yang terbuat dari beras ketan dan biasanya ditambahkan kemanisannya dengan adanya kelapa parut dan gula aren.


lupis, sumber : www.google.com










Lupis biasanya dibuat dalam bentuk bulat lonjong yang dibungkus dengan daun pisang. Ketika akan menyajikannya, lupis dipotong-potong seperti memotong lontong. 

Yang cukup menarik adalah cara motongnya, bukan dengan pisau atau sejenisnya, tetapi dengan benang yang diikatkan pada jari telunjuk simbah tadi, dan dengan cekatan simbah tadi bisa memotong dengan rapi  dan cepat. Saya sempat komentar, “wah trampil banget Mbah!” dan simbah tadi hanya menjawab,’nggih pripun malih, wong sampun kawit tahun 1963”.

Silakan dicoba, kalau ketagihan silakan ajak saya.